Terorisme, Lagu Lama yang Sengaja Diputar

Terorisme, Lagu Lama yang Sengaja Diputar

Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq

Muslimah News, OPINI — Aksi terorisme tiba-tiba kembali ada. Aksi penangkapan D*nsus 88 di Karanganyat, Boyolali, dan Solo terhadap sepuluh orang terduga teroris, membuat suasana menjadi tidak tenang. Semua terduga disinyalir sebagai pendukung operasional JI. Sudah sekian lama pembahasan terorisme ini tenggelam, tetapi kini tiba-tiba kembali muncul. Apa apa sebenarnya?

Aksi penangkapan ini rasanya sangat tidak wajar. Pasalnya, sebagaimana kesaksian Kades Mliwis Banyuwangi, orang yang tertangkap tersebut tidak menunjukkan keanehan selama bermasyarakat. Ia adalah sosok yang rendah hati, bahkan ikut berkecimpung dalam mengelola masjid di wilayah tersebut. (Republika, 28-1-2023).

Pada peristiwa penangkapan kali ini, dengan penangkapan tiba-tiba dan belum ada kejelasannya, menunjukkan tidak ada alasan khusus yang memperlihatkan kondisi bahaya hingga kesepuluh orang tersebut harus diamankan. Kondisi ini tentu membuat orang-orang bertanya-tanya mengenai keseriusan munculnya kejadian ini.

Kemunculan Istilah Terorisme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “terorisme” berarti ‘penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik) atau praktik tindakan teror’. Dari definisi ini, kita dapat memahami ada terorisme jika ada tindakan kekerasan yang menimbulkan ketakutan atau ada upaya menebar teror.

Berkaitan dengan lahirnya istilah ini, kata terorisme mulai populer sejak diucapkan oleh Presiden George W. Bush pada 2000 saat peristiwa 9/11. Ia memolarisasi dunia menjadi dua kutub, yaitu bersama AS atau bersama teroris. Sejak saat itu, bahasan terorisme menyebar ke seluruh dunia dan menjadi momok yang menakutkan.

Mayoritas negara akhirnya menunjukkan keberpihakannya kepada AS karena mereka tidak mau digolongkan sebagai pihak pendukung terorisme. Apalagi setelah peristiwa WTC tersebut, banyak teror yang muncul di berbagai negara. Bahkan, Indonesia sendiri membentuk D*nsus 88 untuk menanggulangi teror tersebut. Selain itu, pemerintah juga membuat UU Terorisme yang terus diperbarui.

Tuduhan terhadap Islam

Anehnya, tersangka dalam setiap aksi teror yang terjadi, selalu muslim. Kejadian ini akhirnya memunculkan opini umum di tengah masyarakat bahwa muslim adalah pelaku terorisme. Pemahaman ini dikuatkan dengan pernyataan Presiden Bush yang seakan-akan bilang, “Kalau tidak ingin disebut teroris, berpihaklah pada AS.”

Pada kenyataannya, tidak semua aksi teror dilakukan oleh muslim. Beberapa aksi peledakan juga pernah dilakukan oleh nonmuslim. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa itu tidak dianggap sebagai aksi terorisme.

Berkaca pada AS sendiri, pada tahun tersebut, dengan alasan memberangus terorisme di negeri-negeri muslim, negara itu membombardir Afganistan dan Irak. Mereka menduduki dua negara itu selama bertahun-tahun. Banyak masyarakat sipil yang terbunuh, bahkan tidak jarang para perempuannya juga diperkosa. Lebih kejam lagi, tindakan mereka yang seperti ini tidak disebut sebagai aksi terorisme.

Kejadian yang sama juga terjadi di negeri ini. Aksi pemboman di kantor kepolisian, di tempat ibadah, di tempat wisata, dikabarkan dilakukan oleh seorang muslim. Anehnya, pelaku justru orang-orang yang dipandang baik oleh masyarakat dan termasuk orang yang paham agama serta taat salat lima waktu. Mirisnya, perilaku baik ini justru menguatkan tuduhan sebagian pihak bahwa Islam mengajarkan terorisme.

Memusuhi Islam

Dari paparan di atas, jelas sekali bahwa isu terorisme menyerang Islam. Isu ini merupakan agenda Barat untuk memusuhi Islam. Mereka bahkan tidak segan menganalisasi Islam menjadi dua kubu, yaitu kubu Islam pro Barat dan kubu Islam yang menolak Barat.

Bagi kaum muslim yang menolak ide-ide Barat, seperti demokrasi, liberalisme, kapitalisme, sekularisme, feminisme, dsb., dianggap sebagai kaum muslim anti-Barat. Sikap kaum muslim seperti ini diopinikan sebagai gerakan terorisme. Mereka juga menuduh setiap pemikiran Islam yang menolak teori-teori Barat sebagai pemikiran radikal. Mereka mengeluarkan dalih pemikiran yang berbau radikal itulah penyebab dari tindakan terorisme.

Dengan adanya tuduhan-tuduhan ini, secara tidak langsung mereka mengirimkan pesan kepada seluruh kaum muslim, “Jika tidak mau dicap sebagai teroris, jangan ambil pemikiran Islam yang berlawanan dengan Barat!”

Akan tetapi, jika kita melihat kondisi sekarang, sesungguhnya pihak yang menghancurkan umat Islam adalah orang-orang Barat. Mereka memasukkan ide sekularisme, kapitalisme, liberalisme, demokrasi, dan ide kufur lainnya ke dalam pemikiran kaum muslim. Ide-ide inilah yang membuat kaum muslim jauh dari Islam.

Pandangan Islam Terkait Terorisme

Islam memiliki pandangan khas mengenai definisi istilah ini. “Terorisme” identik dengan kekerasan, membahayakan orang lain, menghilangkan nyawa orang tanpa alasan yang dibenarkan syarak, sampai menebar ketakutan. Semua itu diharamkan di dalam Islam.

Islam sebagai agama yang hak, melarang seseorang membunuh seorang muslim atau nonmuslim zimi tanpa sebab yang dibenarkan syarak. Islam juga tidak membolehkan menebar ketakutan di lingkungan. Islam justru mewajibkan seorang pemimpin muslim (khalifah) untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya keamanan. Jadi, pemimpin wajib menjaga seluruh rakyatnya agar merasa aman dan perlu membuat aturan dan sanksi yang berlandaskan Islam.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslim, harusnya kita segera menyadari hal ini. Kita wajib memusatkan perhatian pada kebangkitan Islam, bukan justru mundur dengan adanya isu-isu terorisme. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *