Bullying Remaja Viral di Mana-Mana, Ngeri!

Bullying Remaja Viral di Mana-Mana, Ngeri!

Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.

Muslimah News, OPINI — Jika kita menginput kata kunci “bullying viral” di Google, kita akan mendapati banyak sekali kasus bullying (perundungan) di berbagai tempat. Bukan hanya di pusat ibu kota atau kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, ataupun Yogyakarta, melainkan juga di kota-kota kecil, bahkan di desa, seperti Bojong Kulon (Cirebon), Padang Titiran (Sumatra Selatan), Singaparna (Tasikmalaya), dan sebagainya.

Menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama periode 2016—2020, KPAI menerima aduan dari 480 anak yang menjadi korban perundungan di sekolahnya. Angka ini adalah yang terdata, sedangkan angka riilnya diprediksi jauh lebih besar karena banyak yang masih menganggap perundungan bukanlah persoalan sehingga merasa tidak perlu melaporkannya.

Padahal, perundungan merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan—verbal maupun fisik—yang dilakukan untuk menyakiti secara sengaja dan terang-terangan. Korbannya bisa mengalami gangguan fisik dan psikis, bahkan sudah banyak yang meninggal akibatnya.

Berujung Kematian

Salah satu kasus perundungan yang sangat menyita perhatian publik tahun ini adalah kasus di Singaparna, Tasikmalaya. Dalam video yang beredar, terlihat anak kelas 5 SD berusia 11 tahun dipaksa oleh teman-temannya untuk berhubungan badan dengan kucing. Saat mengetahui videonya viral, ia tidak mau makan sehingga kondisi fisiknya terus menurun. Akhirnya, korban meninggal setelah mengalami guncangan psikis yang luar biasa.

KPAI menilai perundungan seperti ini tergolong berat dan kompleks sebab korban mengalami kekerasan fisik, seksual, hingga psikologis. Betapa tragis kematian anak tersebut, ia harus meregang nyawa karena beban psikis.

Kepolisian Daerah Jawa Barat mengatakan akan menerapkan UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) karena diduga para pelaku terpapar konten pornografi. Mereka bisa dikenai PP 78/2021, yaitu diberi edukasi seks agar perundungan ini bisa dihentikan sebab perilaku ini merupakan penyakit sosial yang menular.

Namun, apakah dengan memberikan edukasi seks lantas masalah bisa selesai? Tentu saja tidak! Justru bisa lebih berbahaya jika konsep edukasi seks mengikuti konsep Barat yang serba bebas. Alih-alih menghentikan kasus perundungan, yang ada malah menstimulus anak untuk makin bebas berbuat asusila.

Hal ini karena permasalahannya adalah begitu mudahnya anak-anak dalam mengakses pornografi. Indonesia memang dikenal sebagai “surganya pornografi” sebab konten dewasa sangat gampang diakses. Sebut saja game online yang banyak dikonsumsi anak-anak, visualnya yang vulgar dan permainannya banyak mengarah pada seksual.

Psikolog Anak Elly Risman menyampaikan bahwa orang tua harus benar-benar mengawasi anak-anaknya karena game online penuh dengan visual dan adegan vulgar. Elly mencontohkan, ada beberapa game online impor yang jika sudah mencapai level tinggi mendapat hadiah Ratu untuk disetubuhi. Astagfirullah! Padahal, game online banyak diakses oleh anak-anak usia SD.

Inilah pemicu perundungan dengan bentuk pelecehan seksual sebagaimana di Tasikmalaya. Selain pornografi, game online pun mengajarkan anak-anak untuk melakukan kekerasan. Ini pulalah yang memicu para remaja untuk mudah melakukan perundungan fisik pada teman-temannya, sebagaimana kasus tewasnya seorang siswa (13) Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kotamobagu, Sulawesi Utara, akibat dianiaya teman-temannya.

Perundungan yang ternyata sudah berulang ini seharusnya tidak cukup dengan memberi sanksi ada pihak sekolah dan para pelaku. Sudah lama hukuman tersebut diterapkan, tetapi kasus perundungan malah makin marak jua.

Permasalahannya sangatlah kompleks dan faktor pendorongnya pun beragam, sedangkan solusi tidak menyentuh akar persoalan. Selain itu, harus ada kerja simultan antarsektor agar permasalahan perundungan ini bisa selesai.

Sekuler Liberal

Sebenarnya, jika ditelisik, akar persoalannya adalah adanya nilai-nilai yang disadari atau tidak menjadi pakem masyarakat dalam bertingkah laku. Pakem itu adalah nilai-nilai kehidupan yang lahir dari paham sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme mendogma masyarakat untuk hidup tidak di bawah aturan Allah Taala.

Celakanya lagi, sekularisme ini bukan hanya diemban oleh individu, melainkan juga oleh negara. Lihat saja betapa sistem pendidikan hari ini dijauhkan dari agama, mulai dari pelajaran agama yang sangat sedikit, seragam muslimah yang dipersoalkan, hingga rohis di sekolah yang dianggap sebagai bibit terorisme.

Akhirnya, pelajar pun kian jauh dari agama. Mereka terus terdidik untuk pintar dalam akademik agar bisa menjadi individu hebat yang bekerja di tempat bonafide, serta memiliki upah tinggi agar bisa hidup bahagia. Mereka pun tumbuh pintar tanpa disertai takwa. Dari sinilah bibit-bibit kejahatan besar ditanam.

Pertanyaannya, memangnya siapa yang korupsi hingga negara rugi triliunan rupiah kalau bukan para pejabat yang memiliki ijazah? Memangnya siapa yang membobol bank dan meretas keamanan banyak perusahaan kalau bukan peretas yang andal? Bukankah mereka semua orang pintar? Inilah hasil didikan sistem pendidikan sekuler.

Pendidikan yang menjauhkan agama juga akan melahirkan perilaku amoral. Anak dididik untuk liberal melakukan apa pun asal ia senang. Sudahlah agama tidak diajarkan, pornografi dan kekerasan menjadi teman bermain mereka. Ini pula yang menjadi bibit maraknya kasus perundungan. Ditambah dengan keluarga yang acuh, ayah dan ibu sibuk bekerja sehingga anak-anak kekurangan kasih sayang, jadilah mereka mencari eksistensi dan kesenangan di luar rumah.

Sungguh nestapa nasib anak-anak hari ini. Mereka diserang dari segala lini. Sekolah hanya bertumpu pada akademik, keluarga alpa terhadap pengasuhan, industri pornografi seolah didukung penguasa, dll. Semua inilah yang menjadi faktor pendorong terjadinya perundungan.

Islam Menghilangkan Fenomena Perundungan

Perundungan adalah satu dari sekian penyakit sosial yang lahir dari peradaban Barat yang sekuler liberal. Nilai hidup yang tidak mengambil dari Sang Pencipta dan perbuatan yang serba bebas telah menjadikan manusia rusak. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk lemah dan serba terbatas. Jika dibiarkan hidup tanpa aturan agama, ia akan hancur.

Islam sebagai agama paripurna akan mampu menghilangkan semua penyakit sosial yang lahir dari Barat, termasuk perundungan. Seluruh elemen bekerja secara simultan berdasarkan satu asas, yaitu aturan Islam. Setidaknya, ada empat faktor yang menjadikan sistem sosial dalam masyarakat Islam kuat.

Pertama, hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan aturan Allah Taala. Seseorang yang paham Islam akan menjauhkan perbuatan yang dilarang agama, termasuk perundungan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujuraat: 11)

Kedua, sistem pendidikan yang berbasis akidah akan mampu melahirkan individu yang berkepribadian Islam. Sedari awal ia sudah memahami tujuan hidup, yaitu untuk beribadah kepada Allah Taala. Tujuan ia belajar semata untuk Allah semata.

Jadilah ia pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat untuk sesama. Jangankan menghilangkan potensi perundungan, corak pertemanan pun akan menggairahkan satu sama lainnya sebab semua berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ketiga, fungsi keluarga dalam Islam yang nantinya akan mengukuhkan iman seseorang sedari masa buaian. Mereka akan kenyang kasih sayang dan ilmu dari orang tuanya, khususnya para ibu, sebagai bekal hidup.

Keempat, internet menjadi media yang menaburkan maslahat, bukan mudarat. Industri pornografi dan game online tidak akan tumbuh karena selain anak-anaknya sibuk belajar, negara juga memiliki aturan ketat mengenai izin penerbitan media.

Game online atau aplikasi apa pun yang itu nirfaedah, bahkan mudarat, tidak akan mendapatkan izin. Ini karena tujuan adanya media untuk menciptakan jawil imani (suasana keimanan) di tengah umat.

Khatimah

Inilah sederet fakta perundungan yang hanya lahir dari peradaban Barat yang sekuler liberal. Untuk menghilangkannya tidak cukup dengan menindak pelaku atau pihak sekolah, ataupun bimbingan psikologi dan edukasi seks pada pelaku. Walhasil, kaum muslim wajib berusaha mendepak peradaban Barat dan menggantinya dengan sistem Islam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *