Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Kekuatan militer adalah simbol kedigdayaan suatu bangsa. Ingin ditakuti semua negara di dunia? Salah satu kuncinya adalah memiliki kemiliteran yang kuat.
Saat ini, Amerika Serikat (AS) adalah simbol negara adidaya. Dengan hegemoninya, ia mampu menguasai dan menggerakkan pasukan sesuai keinginannya. Walaupun tidak sangar seperti dahulu—waktu masih menduduki Afganistan—, setidaknya kekuatannya masih dapat dirasakan.
Hal ini juga terlihat dari kesepakatan dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk melakukan latihan perang bersama. Melansir Kompas (11/2/2022), akan ada latihan militer bersama dengan AS pada pada 1—14 Agustus di Sumatra Selatan dan Kalimantan.
Pelatihan Garuda Shield ini tidak hanya diikuti dua negara, tetapi ada 14 negara, termasuk Inggris, Australia, dan Jepang. Apa untungnya bagi Indonesia?
Perebutan Kekuasaan
Sudah jamak diketahui, sebuah wilayah strategis akan selalu menjadi rebutan negara-negara rakus. Tidak terkecuali wilayah Pasifik di Laut Cina Selatan (LCS). Sengketa LCS tidak kunjung menemukan penyelesaian karena masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapatnya. Perseteruan ini tidak hanya melibatkan negara di sekitar LCS, tetapi juga mereka yang berkepentingan.
LCS itu ibarat hidangan, sangat menggiurkan. Selain memiliki kekayaan alam yang besar, ia juga merupakan jalur perdagangan dunia. Wajar jika semua negara tertarik memilikinya, termasuk AS dan Cina.
Masalah Cina dan AS memang berawal dari perdagangan , yakni kala Cina berhasil menyusul AS dalam hal ini. Namun, seiring berjalannya waktu, Negeri Panda itu mulai memperlihatkan taringnya.
Hal ini tentu membuat AS tidak senang. Jika dibiarkan terus menerus, tidak menutup kemungkinan Cina akan menjadi saingan AS. Apalagi Cina saat ini juga dekat dengan Rusia, mantan rival AS. Jadi, AS dapat dipastikan akan berupaya mengamankan kedudukannya dari ancaman Cina dan yang lainnya.
Permainan AS
Konstelasi politik global senantiasa dinamis dan bergejolak. Hal ini menandakan adanya upaya perebutan pengaruh negara-negara besar di suatu kawasan. Mereka menggunakan berbagai macam manuver untuk menguasai wilayah strategis tersebut, seperti kerja sama perdagangan, ekonomi, politik, termasuk aliansi militer.
AS merupakan salah satu contoh negara yang mampu melakukan taktik tersebut. Demi memperkuat kedudukannya, ia bersama negara Eropa membuat NATO (Organisasi Pertahanan Atlantik Utara), kemudian bersama Australia dan Britania Raya membentuk AUKUS. Ada lagi The Quad merupakan kerja sama Indo-Pasifik yakni Australia, India, Jepang, dan AS. Semua itu dilakukan AS demi mengamankan popularitasnya.
Sayangnya, permainan AS itu mulai goyah dan merasa terusik dengan bangkitnya Cina. Apalagi kerja sama Cina dan Rusia disinyalir akan memperlihatkan kekuatan baru yang dapat mengganggu stabilitas AS. Oleh karena itu, AS perlu meningkatkan soliditas kekuatan sekutu-sekutunya sekaligus memastikan kukunya tetap tertancap di negeri-negeri jajahan, termasuk Indonesia.
Tidak Ada Keuntungan
Latihan perang ini, di samping memastikan kekuatan pengaruh AS bagi negara-negara sekutu dan jajahan, juga untuk show of force lawan (Cina dan kawannya) agar mereka tidak berani macam-macam dengan negara adidaya itu.
Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah wilayah latihan tersebut berada di daerah kekuasaannya? Melihat fakta, negeri ini merupakan wilayah yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, kedudukannya hanya sebagai objek penderita. Wilayah yang luas dengan garis pantai yang panjang menjadi tempat yang cocok untuk latihan militer. Selain itu juga dekat dengan LCS, jadi gemanya akan membuat musuh AS bertingkah.
Mengapa hal ini bisa disetujui, padahal Indonesia sejak dulu memiliki politik bebas aktif, yaitu tidak memihak Blok Barat maupun Blok Timur yang sedang bersengketa? Begitulah, kenyataan berbicara lain. Kini Indonesia justru menjadi fasilitator latihan perang kemiliteran dengan negara sekutu AS.
Penyebab utama sikap ini karena tidak adanya kejelasan orientasi ideologi dan kekuatan kepemimpinan. Akibatnya, demi fatamorgana keuntungan, negara ini mau membuka tangan untuk asing, bahkan seolah mudah dikendalikan tanpa memperlihatkan kemandirian dalam bersikap.
Islam Memberikan Ketegasan
Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga memiliki keunikan sebagai mabda (ideologi). Islam punya fikrah dan thariqah yang jelas yang semuanya itu berlandaskan keimanan pada Allah dan mengikuti hukum syarak.
Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, negeri ini akan mampu bersikap. Hal ini ditegaskan oleh Islam.
Pertama, Islam tidak memperbolehkan kaum muslim berdiam diri dikuasai oleh orang kafir. QS An-Nisa: 141 menyebutkan, “Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”
Kedua, penerapan syariat Islam kafah (menyeluruh) akan mewujudkan kemandirian total, sekaligus memberikan kekuatan militer pertahanan yang kuat.
Ketiga, kewajiban jihad berlaku untuk seluruh muslim dewasa. Dengan begitu, negara akan mampu mengobarkan semangat tempur terhadap pihak mana pun yang ingin mencaplok wilayah negeri. Jadi, tidak perlu ada rasa gentar melawan musuh, meskipun mereka tergambar sangat kuat.
Keempat, dengan ekonomi Islam akan tersedia dukungan dana berlimpah untuk segala kebutuhan militer sehingga negara dapat mengembangkan teknologi militer agar tidak tertinggal dari lawan.
Kelima, Negara Islam (Khilafah) akan menjadikan negeri ini bukan hanya berwibawa dan mampu mengusir penjajah, tetapi juga membawa magnet kebaikan menebar rahmat sehingga membuat negara lainnya berpotensi untuk bergabung dan melakukan unifikasi. Inilah satu-satunya kekuatan yang mampu melawan penjajahan dan kerakusan kapitalisme hari ini.
Oleh sebab itu, mengikuti permintaan AS dengan memberikan fasilitas latihan militer hanya dapat merugikan bangsa ini. Secara tidak langsung, mereka juga dapat menguasai kontur pertahanan geografi negeri ini. Cengkeraman AS juga akan makin kuat di negeri ini.
Kalau benar demikian, mengapa negeri ini tidak mau mengambil pilihan lain? Seperti pada Islam yang jelas memiliki sikap independen. Wallahualam. [MNews/Has]
Foto sampul: Dok. Viva 2016
