[Nafsiyah] Allah Melipatgandakan Pahala Puasa Tanpa Batas Bilangan

[Nafsiyah] Allah Melipatgandakan Pahala Puasa Tanpa Batas Bilangan

Muslimah News, NAFSIYAH — Kita patut berucap syukur pada Allah Taala karena telah mempertemukan kita dengan bulan mulia, bulan istimewa, bulan berlimpah pahala yang penuh berkah. Ialah Ramadan, saat Allah membalas setiap amal manusia selama bulan ini dengan balasan berlipat-lipat.

Firman Allah Taala dalam hadis qudsi, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya disebabkan ia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah tidak pernah memberitahu berapa pahala yang dilipatgandakan ketika beramal saat Ramadan. Allah merahasiakannya sebagaimana Allah rahasiakan pahala orang yang bersabar dan pahala orang yang memaafkan karena begitu besarnya pahala orang yang beramal saat Ramadan. Masyaallah.

Allahlah yang langsung mengganjar setiap amal manusia selama Ramadan. Rasul saw. bersabda, “Siapa pun yang diharamkan kebaikan pada saat Ramadan, itu seakan-akan ia diharamkan kebaikan dari seluruh kebaikan dari bulan-bulan sebelumnya.” Oleh sebab itu, janganlah menyia-nyiakan kesempatan beramal saleh selama Ramadan.

Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batas bilangan. Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran.”

Sementara itu, ganjaran bagi orang yang bersabar ialah seperti yang difirmankan Allah Taala, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10)

Saat berpuasa, tentu saja di dalamnya ada ketaatan, seperti harus menjauhi hal-hal yang diharamkan. Begitu juga, saat berpuasa, seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan, seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah sebab amalan puasa bisa menjadikan seseorang meraih pahala tidak terhingga sebagaimana sabar.

Allah menyandarkan amalan puasa untuk-Nya. Mengapa? Pertama, saat berpuasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya.

Ibadah ihram, misalnya, ada perintah Allah meninggalkan jimak (berhubungan badan dengan istri dan meninggalkan berbagai wewangian). Namun, bentuk kesenangan lain dalam ihram tidak ditinggalkan. Sama juga halnya salat, kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun, hal itu terjadi hanya dalam waktu singkat.

Selama berpuasa, seseorang juga meninggalkan berbagai macam syahwat. Meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan yang ia lakukan selain Allah. Hal ini menunjukkan benarnya iman seseorang. Ia menyadari bahwa dirinya dalam pengawasan Allah meski dalam keadaan sendirian.

Ia lebih memilih menaati Rabb-nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya karena takut siksaan serta mengharap ganjaran-Nya. Ulama salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat di hadapannya karena mengharap janji Rabb-nya yang tidak tampak di hadapannya.”

Kedua, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa, sulit sekali terdapat ria (ingin dilihat/dipuji orang lain).”

Al-Qurtubi pun berkata, “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit ria, puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut, kecuali Allah, maka Allah sandarkan ibadah puasa itu kepada Diri-Nya.”

Kedua alasan tersebut yang menjadi jawaban mengapa Allah menyandarkan amalan puasa kepada-Nya.

Kemudian, bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Perkara pertama ialah ketika seseorang berbuka puasa, jiwa mendapatkan kesenangan karena bisa menikmati berbagai hidangan makanan dan minuman serta menggauli istri.

Kemudian perkara kedua ialah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabb-nya, yakni ia akan menjumpai pahala amalan puasa yang tersimpan di sisi Allah Taala. Inilah ganjaran terbesar yang sangat dibutuhkannya.

Selain itu, pahala puasa berlipat ganda tanpa batas bilangan. Hal inilah yang akan diraih oleh seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa wajib saat Ramadan tiba maupun amalan puasa sunah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap rida Allah Taala. Semoga Allah menerima amal puasa kita serta amalan lainnya selama Ramadan. Amin. [MNews/Rindy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *