Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah peristiwa Tahkim, solidaritas penduduk Irak mulai retak. Sebagian orang menyetujui Tahkim sebagai langkah yang bijak, tetapi sebagian lagi justru menilainya sebagai kesalahan besar karena dianggap telah mengambil keputusan dari selain Allah. Kelompok yang tidak setuju ini kemudian dinamakan sebagai Khawarij.
Kelompok Khawarij juga mengafirkan seluruh umat muslim yang tidak sependapat dengan mereka, termasuk Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Kelompok Khawarij yang jumlahnya ribuan orang ini melakukan pemberontakan, menyatakan permusuhan terhadap umat Islam, dan menyebar ketakutan ke seluruh penduduk.
Sementara itu, Khalifah Ali ra. dengan pasukan muslim yang setia dengannya berada di Kufah untuk melanjutkan peperangan melawan Mu’awiyah. Namun, menyadari kekacauan yang sedang terjadi, Khalifah memutuskan untuk menghabisi kelompok Khawarij terlebih dahulu.
Kelompok Khawarij Tidak Mempan dengan Peringatan
Seluruh kaum Khawarij berkumpul di Nahrawan. Untuk menghadapi semua ancaman, baik dari pihak Khawarij maupun Mu’awiyah, Amirulmukminin menulis surat kepada Abdullah bin Abbas, Wali Bashrah, untuk meminta bantuan pasukan dari Bashrah. Khalifah Ali ra. juga mengumpulkan pemuka-pemuka Kufah dan sekitarnya, serta meminta mereka mengirimkan prajurit yang sudah siap tempur.
Seruannya mendapat sambutan yang baik dari mereka, hingga terkumpul 65.000 orang ditambah dari pasukan Mada’in yang kemudian bergabung di Nukhailah dan siap berangkat menuju Syam.
Sampailah berita kepada khalifah bahwa kaum Khawarij berbuat kekacauan, menumpahkan darah, menyabotase jalan, dan menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan. Di antara korban yang mereka bunuh adalah Abdullah bin Khabbab, salah seorang sahabat Nabi saw..
Khalifah Ali ra. mengutus Al Harits bin Murrah al-Abdi kepada kaum Khawarij. Ali berpesan kepadanya, “Bawalah kepadaku informasi tentang keadaan mereka, bawalah keterangan kepadaku tentang kondisi mereka, dan tuliskanlah semua itu dengan jelas kepadaku.” Ketika Al Harits mendatangi mereka, mereka langsung membunuhnya tanpa basa-basi lagi.
Berdasarkan kutipan Abu Miknaf, mengkuti apa yang dikutip oleh Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir berkata, “Ali berjalan lewat wilayah Al Anbar. Beliau mengutus satu pasukan yang dipimpin oleh Qais bin Sa’ad. Beliau memerintahkan agar mendatangi Al-Mada’in dan bertemu dengan wakil beliau di sana yaitu Sa’ad bin Mas’ud ats-Tsaqafi dan bergabung bersama pasukan di Al-Mada’in. Orang-orang bergabung bersama Ali di sana. Kemudian beliau mengirim seorang utusan kepada kelompok Khawarij. Namun, mereka balik mengirim utusan kepada Ali untuk menyampaikan bahwa mereka semua yang telah membunuh utusan khalifah.”
Majulah Qais bin Sa’ad bin Ubadah, beliau menasihati kaum Khawarij bahwa yang mereka lakukan itu adalah dosa besar dan kesalahan yang fatal. Akan tetapi, nasihat itu tidak bermanfaat bagi mereka. Hal yang sama dilakukan oleh Abu Ayyub al-Anshari, beliau mengingatkan dan mencela mereka. Namun, peringatan beliau itu juga tidak berguna bagi mereka.
Lalu, majulah Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib ra.. Beliau menasihati, mengancam, memperingatkan, dan memberi ultimatum kepada mereka. Namun, tidak ada jawaban melainkan teriakan, “Janganlah berdialog dan berbicara dengan mereka. Bersiaplah menghadap Allah, marilah bersegera menuju surga.”
Perang Nahrawan
Selanjutnya, terjadilah pertempuran antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dan kelompok Khawarij yang dinamakan Perang Nahrawan pada Syakban 38 H. Pendapat lain mengatakan, terjadi pada Shafar di tahun yang sama.
Khalifah Ali ra. memerintahkan Abu Ayyub al-Anshari mengibarkan bendera tanda aman bagi pasukan Khawarij. Khalifah menawarkan kepada mereka, “Barang siapa bernaung di bawah bendera ini maka ia aman, barang siapa kembali ke Kufah dan Al-Mada’in maka ia aman. Kami tidak ingin menumpahkan darah kalian kecuali orang-orang yang telah membunuh rekan kami.”
Sebagian dari mereka memilih kembali, jumlah mereka sekitar empat ribu orang. Hanya tersisa seribu orang saja atau kurang dari itu bersama Abdullah bin Wahab ar-Rasibi.
Khalifah Ali ra. memerintahkan pasukan berkuda untuk maju ke depan, lalu memerintahkan agar pasukan pemanah mengambil tempat di belakang pasukan berkuda. Beliau berkata kepada pasukan, “Tahanlah hingga mereka yang memulainya.” Pasukan Khawarij maju seraya meneriakkan kata-kata, “Tidak ada hukum selain hukum Allah, marilah bersegera menuju surga.”
Pasukan Khalifah Ali ra. menghabisi kelompok Khawarij sehingga banyak dari mereka yang terbunuh. Turut tewas pula pemimpin mereka dalam peperangan ini, Abdullah bin Wahab, Hurqush bin Huzair, Syuhairah bin Aufa, dan Abdullah bin Syajarah as-Sulami.
Khalifah memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dari mereka dan menyerahkannya kepada kabilah-kabilah mereka untuk diobati. Lalu mengembalikan senjata dan barang yang dirampas kepada mereka.
Al-Haitsam bin Adi berkata, “Ali tidak membagi-bagikan harta rampasan perang yang dirampas dari kaum Khawarij pada peperangan Nahrawan. Namun, beliau mengembalikan semua kepada keluarga-keluarga mereka.” Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber:
Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.
Sumber foto: Dok. Mnews


Maasyaalloh
Berperang demi tegaknya Dienulloh..Allohuakbar