Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sebelum ditaklukkan, Kota Konstantinopel merupakan penghalang besar bagi penyebaran Islam di Benua Eropa. Oleh karena itu, dengan jatuhnya Konstantinopel, maka terbuka jalan bagi Islam untuk masuk ke Eropa dengan kekuatan perang dan perdamaian.
Penaklukan Konstantinopel merupakan kejadian yang sangat penting dalam sejarah dunia, khususnya sejarah Eropa dan hubungannya dengan Islam. Bahkan, para sejarawan Eropa mengategorikannya sebagai akhir masa pertengahan dan permulaan masa modern.
Setelah penaklukan Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih melakukan penertiban terhadap berbagai macam urusan di dalam kota dan mengembalikan pertahanannya. Ia menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota Daulah Utsmaniyah dan menamainya dengan sebutan Islam Bul yang berarti Kota Islam, kini berubah menjadi Istanbul.
Barat Dilanda Ketakutan
Orang-orang Kristen Barat sangat terpengaruh dengan berita kemenangan kaum muslim atas Konstantinopel. Mereka dilanda ketakutan dan merasa terhina dengan kekalahan besar ini. Mereka membayangkan pasukan Islam datang dari Istanbul menyerang kota-kota mereka.
Paus Nicholas V adalah orang yang paling terpukul dengan berita kejatuhan Konstantinopel. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya dan mencurahkan segenap waktu untuk mempersatukan negara-negara Italia, serta memotivasi mereka untuk memerangi kaum muslim.
Ia memimpin sebuah muktamar di Roma yang mengumumkan kepada negara-negara Eropa untuk bekerja sama serta mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatan untuk melawan musuh bersama mereka, yaitu kaum muslim yang dipimpin Muhammad al-Fatih. Akan tetapi, sebelum pakta perjanjian mereka dirampungkan, Paus Nicholas V tiba-tiba meninggal dunia.
Inisiasi Perang Salib
Pangeran Philip ath-Thib dari Burgundia juga sangat bersemangat dalam memotivasi raja-raja Kristen untuk memerangi kaum muslim. Apa yang ia lakukan diikuti oleh para bangsawan dan orang-orang yang memiliki semangat tinggi serta sangat fanatik dengan agama Kristen.
Pemikiran untuk memerangi kaum muslim ini berubah menjadi sebuah keyakinan yang mendorong orang-orang Kristen untuk memerangi Islam. Paus di Roma sendirilah yang akan memimpin perang orang-orang Kristen melawan Islam.
Sultan Muhammad al-Fatih Tetap Waspada
Sultan Muhammad al-Fatih senantiasa memantau pergerakan orang-orang Kristen ini. Ia membuat perencanaan dan strategi untuk memperkuat Daulah Utsmaniyah dan menghancurkan musuh-musuhnya.
Orang-orang Kristen yang wilayahnya berbatasan dengan kekuasaan Daulah Utsmaniyah seperti di Amasya, Peloponnese, Trabzon, terpaksa memendam perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka berpura-pura menampakkan kegembiraan dan mengirimkan utusan-utusan mereka kepada Sultan Muhammad al-Fatih di Edirne guna menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan besar Daulah Utsmaniyah.
Proyek Perang Salib yang Tidak Terwujud
Paus Pius II dengan segenap kekuatan korespondensinya dan hubungan politiknya berusaha mengobarkan kedengkian dalam jiwa-jiwa orang Kristen, baik dari kalangan raja maupun rakyat biasa, di kalangan para panglima dan tentara. Ada beberapa negara yang siap untuk mewujudkan pemikiran Paus Pius II yang bertujuan untuk memerangi Daulah Ustmaniyah.
Ketika waktu keberangkatan sudah tiba, negara-negara Eropa mengurungkan diri dikarenakan adanya kepayahan di dalam negeri. Perang seratus tahun antara Inggris dan Prancis telah membuat kedua negara itu mengalami kekacauan. Britania Raya mengalami kepayahan karena kesibukan di bidang undang-undang dan perang saudara. Spanyol sedang sibuk menghadapi kaum muslim Andalusia. Sedangkan Republik Italia berkonsentrasi menjalin hubungan dengan Daulah Utsmaniyah karena cinta dengan harta.
Proyek Perang Salib ini selesai dengan kematian pemimpinnya, Paus. Jadilah Kerajaan Hongaria dan Venesia sendirian menghadapi Daulah Utsmaniyah. Akhirnya Kerajaan Venesia mengadakan perjanjian damai dan menjalin hubungan baik dengan Daulah Utsmaniyah untuk menjaga kepentingan-kepentingan kerajaannya. Adapun Kerajaan Hongaria, ia telah kalah di hadapan pasukan Turki Utsmani.
Selain itu, Pasukan Muhammad al-Fatih juga mampu menggabungkan negara Serbia, Yunani, Wallacia, Crimea, dan pulau-pulau utama di wilayah kepulauan itu ke dalam kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Hal ini terjadi dalam waktu singkat, yaitu ketika Sultan Muhammad al-Fatih menyerbu mereka dan memorak-porandakan persatuan mereka, serta benar-benar menguasai mereka.
“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54). [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

akhirnya Vatikan menjadi khilafah katolik yang sampai saat ini masih tegak berdiri dengan pengekiat 2 milyar lebih
Alhamdulillah