Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Syekh Aq Syamsuddin adalah guru Muhammad Al-Fatih. Ia mengajarkan ilmu-ilmu dasar, seperti Al-Qur’an, Sunah, fikih, ilmu-ilmu keislaman, serta beberapa bahasa, yaitu Arab, Persia, dan Turki. Ia juga mengajari Muhammad Al-Fatih beberapa bidang ilmu yang bersifat praktis, seperti matematika, ilmu falak, sejarah, dan perang.
Syekh Aq Syamsuddin termasuk salah satu di antara para ulama yang memberikan bimbingan kepada Muhammad Al-Fatih kala memimpin Magnesia. Dengan begitu, Muhammad Al-Fatih dapat belajar manajemen dan dasar-dasar pemerintahan.
Meyakinkan Sultan
Syekh Aq Syamsuddin mampu meyakinkan Muhammad Al-Fatih bahwa ialah yang dimaksud oleh hadis Nabi saw., “Kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Maka, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”
Ketika Muhammad Al-Fatih telah menjadi Sultan Daulah Utsmaniyyah, Syekh Aq Syamsuddin mengarahkan agar Al-Fatih segera bergerak dengan tentaranya untuk mewujudkan hadis Nabi saw. tersebut. Akhirnya, pasukan Turki Utsmani mengepung Kota Konstantinopel dari arah darat dan laut. Terjadilah pertempuran yang dahsyat selama 54 hari.
Ketika Pasukan Byzantium bergembira dan masuknya empat kapal yang dikirimkan Paus kepada mereka, para pemimpin dan menteri Daulah utsmaniyyah berkumpul dan menemui Sultan Muhammad Al-Fatih. Mereka berkata kepadanya, “Sesungguhnya, engkau telah mengerahkan pasukan dengan jumlah besar untuk melakukan pengepungan ini hanya karena mengikuti perkataan seorang Syekh. Maka binasalah para pasukan itu dan banyak persenjataan yang rusak. Terlebih kini telah datang bala bantuan dari negara Eropa kepada orang-orang kafir yang berada di dalam benteng, sedangkan belum ada titik terang mengenai penaklukan kota Konstantinopel.”
Kemudian, Sultan Muhammad Al-Fatih mengirimkan menterinya yang bernama Waliyuddin Ahmad Pasha kepada Syekh Aq Syamsuddin yang berada di kemahnya untuk menanyakan solusi, Syekh menjawab, “Allah pasti memberikan karunia penaklukan itu.”
Sultan Muhammad Al-Fatih tidak puas dengan jawaban ini. Ia pun mengirimkan menterinya sekali lagi. Syekh Aq Syamsuddin menulis surat untuk muridnya, “Ialah Allah yang Maha Memuliakan lagi Maha Memberi Pertolongan. Sesungguhnya, kejadian masuknya kapal-kapal itu ke Tanduk Emas telah menimbulkan keguncangan dan kekhawatiran di dalam hati, serta rasa gembira dan bangga pada orang-orang kafir. Suatu hal yang pasti adalah bahwa seorang hamba itu membuat perencanaan, dan Allahlah yang menentukan, keputusan adalah milik Allah. Kita telah berserah diri kepada Allah dan kita membaca Al-Qur’an, maka semua hanyalah seperti rasa kantuk dalam tidur setelah ini. Sesungguhnya, telah terjadi kelembutan kekuasaan Allah dan muncullah hal-hal yang menggembirakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Surat itu memunculkan rasa tenang pada para panglima dan tentara dan peperangan untuk menaklukkan Konstantinopel pun dilanjutkan. Sultan Muhammad Al-fatih pergi ke tenda gurunya, mencium tangannya, dan berkata, “Ajari aku, wahai tuanku. Sebuah doa yang aku panjatkan kepada Allah agar Dia memberi taufik kepadaku.”
Kemudian syekh Aq Syamsuddin mengajarkannya sebuah doa dan sultan keluar dari tenda gurunya untuk memerintahkan serangan umum.
Dukungan sang Guru
Sultan Muhammad Al-Fatih ingin agar gurunya ada di sisinya saat perang terjadi. Ia mengirimkan utusan untuk mengundang gurunya. Namun, Syekh Aq Syamsuddin meminta agar tidak ada seorang pun masuk ke kemahnya. Para penjaga Syekh melarang utusan sultan untuk masuk. Akhirnya Muhammad al-Fatih sendiri yang pergi untuk menjemput Syekh. Para penjaga pun tetap melarang Sultan untuk memasuki tenda.
Muhammad Al-Fatih lalu mengambil pisau belatinya dan merobek salah satu sisi tenda. Ia melihat ke dalam dan menemukan Syekh Aq Syamsuddin sedang bersujud kepada Allah dengan sujudnya yang panjang, sedangkan serbannya menggelinding dari atas kepalanya dan rambutnya yang putih menjuntai ke tanah. Kemudian Sultan melihat gurunya bangun dari sujudnya dengan air mata membasahi kedua pipinya. Ia benar-benar bermunajat kepada Allah dan berdoa agar Allah menurunkan pertolongan dengan kemenangan yang dekat.
Setelah itu, Sultan kembali menuju pos komandonya. Ia memandang tembok-tembok Konstantinopel yang sedang dikepung yang Pasukan Turki Utsmani telah berhasil membuat lubang-lubang di tembok itu dan mereka berhamburan menyerbu Kota Konstantinopel. Sultan sangat gembira dan berkata, “Kebahagiaanku bukan semata karena penaklukan Konstantinopel, tetapi karena keberadaan seorang guru yang mulia pada masaku. Ialah guruku, Aq Syamsuddin.”
Ketika pasukan Turki Utsmani berhamburan menuju ke kota dengan penuh kekuatan dan semangat, Syekh Aq Syamsuddin maju menghampiri Sultan Muhammad Al-Fatih untuk mengingatkan kepadanya tentang syariat Allah dalam peperangan dan terhadap hak-hak umat yang ditaklukkan. [MNews/Gz]
Sumber: Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Ummul Qura.

Alhamdulillah