Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Pada dasarnya, musibah adalah ujian dalam hidup. Sebagaimana layaknya suatu ujian, ia akan menyaring dan membedakan antara manusia yang lulus atau yang tidak dan yang nilainya tinggi atau yang nilainya rendah.
Musibah telah memetakan nilai manusia pada empat kelompok. Pertama, orang yang selalu berkeluh kesah dan mengadu kepada sesama manusia. Kedua, orang yang bersabar, tidak mengeluh dan mengadu, kecuali kepada Allah Taala. Ketiga, orang yang rida terhadap musibah yang menimpanya. Keempat adalah kelompok orang yang bersyukur dalam suasana musibah tersebut.
Kelompok pertama adalah orang yang tidak lulus dalam ujian. Sementara itu, tiga kelompok lainnya akan mendapatkan ganjaran atas sikap mereka menghadapi musibah tersebut.
Perbedaan antara sabar, rida, dan syukur terletak pada sikap dalam hati seseorang. Orang yang sabar tidak akan berkeluh kesah kepada manusia, tetapi ia masih sangat berharap sekiranya musibah itu segera berlalu. Sedangkan orang yang rida, ia sabar dan tidak begitu memperhatikan apakah musibah tersebut segera berlalu atau tidak. Ini karena yang lebih diharapkannya adalah pahala yang Allah Swt. berikan atas kesabarannya menghadapi musibah. Sementara itu, orang yang “mensyukuri” musibah adalah orang yang sabar dan tidak memedulikan lagi musibah yang menimpanya. Ini karena ia memandang banyaknya nikmat Allah Swt. dan keutamaan yang diberikan walaupun musibah menimpanya.
Abu Qilabah (w. 104 H) adalah salah satu contoh hasil didikan para sahabat ra. dalam menghadapi musibah. Pada penghujung hidupnya, beliau kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, pendengarannya pun telah lemah, dan matanya telah rabun. Tidak satu pun anggota tubuhnya yang bermanfaat baginya, kecuali lisannya. Namun dalam kondisi demikian, beliau senantiasa memuji Allah dan bersyukur. Dalam munajatnya, beliau berkata, “Wahai Allah, ilhamkan kepadaku agar aku bisa memuji-Mu dengan pujian yang memadai untuk menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan atas kelebihan yang telah Engkau berikan kepadaku atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan.”
Ketika beliau ditanya, “Apa kelebihan yang telah Allah berikan kepadamu hingga engkau begitu memuji dan bersyukur?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah Tuhanku lakukan kepadaku? Demi Allah, seandainya Dia menyuruh langit untuk mengirim api yang membakarku, dan memerintahkan gunung-gunung untuk (menindih) hingga menghancurkan tubuhku, dan memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, dan memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah semua itu, kecuali makin membuat aku bersyukur kepada-Nya karena Dia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidahku ini.” (Ibnu Hibban, w.354 H, Ats Tsiqât, 5/3).
Bandingkan dengan diri kita, adakah Allah mengurangi anggota tubuh kita? Adakah Allah mengurangi fungsi lidah kita? Bukankah nikmat yang diberikan-Nya tidak terhitung banyaknya? Bukankah dengan demikian kita seharusnya lebih bersyukur kepada-Nya dibandingkan dengan Abu Qilabah?
Syukur yang tecermin bukan hanya lewat lidah kita karena Allah tidak hanya memberikan lidah saja. Akan tetapi, syukur yang tecermin dengan ketundukan semua anggota tubuh kita kepada-Nya, lalu kita menggunakannya untuk hidup sesuai syariat-Nya, dan memperjuangkannya agar bisa terlaksana dalam setiap sendi kehidupan kita. [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
