[Kabar] Lima Tips dari Faizah agar Generasi Muslim Berkarakter Kuat

[Kabar] Lima Tips dari Faizah agar Generasi Muslim Berkarakter Kuat

Muslimah News, NASIONAL –Banyaknya fenomena generasi muda yang bermasalah menjadi keprihatinan aktivis muslimah dan pengamat generasi dr. Faizah Rosyidah, M.Ked.Trop.. Ia memberikan lima tips agar generasi muslim memiliki karakter kuat.

“Pertama, akidah Islam. Akidah Islam ini yang membuat muslim itu bisa memahami bahwa yang mematikan dan menghidupkan adalah Allah,” ucapnya melalui podcast pribadinya dalam “Stop Perusakan dan Pelemahan Profil Generasi Muslim”, Sabtu (23/7/2022).

Faizah menegaskan dengan akidah ini generasi muda akan tampil sebagai orang-orang yang tidak takut mati, tidak takut dipersekusi.

“Ketika ia memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Ar-Razâq akan muncul tampilan profil kepribadian tidak mudah galau dan gelisah meski tidak ada uang di dompetnya karena ia paham, tidak ada satu hewan melata pun dan makhluk Allah mana pun sekecil apa pun, tidak diberi jaminan rizkinya oleh Allah,” yakinnya.

Kedua, lanjutnya, yang akan mengokohkan kepribadian dan profil mereka itu adalah keterkaitan akidah tadi dengan pilihan jalan hidup yang ia ambil. “Akidah sebagai benih akan menumbuhkan pohon. Pohon itu adalah bagaimana dia menjalani setiap episode berikutnya sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah Al-Khaliq, Al- Mudabbir,” jelas Faizah.

Ketiga, kata Faizah, ia akan makin kokoh dan tidak akan kesasar kalau melengkapi dirinya dengan tsaqafah Islam, hukum-hukum Islam, pemahaman-pemahaman Islam yang ia butuhkan, ditambah dengan kondisi nafsiyah yang senantiasa terkoneksi dengan Tuhannya (idrak silah billahnya) kuat.

“Keempat pohon ini akan tumbuh subur tanpa ada yang merusak kalau ia tinggal dan hidup di tengah tanah, udara, serta air yang tidak ada polusinya. Ini adalah masyarakat yang kondusif untuk tumbuh kembangnya pribadi-pribadi kuat,” bebernya.

Kelima, terang Faizah, keberadaan negara yang berkarakter ra’in, memelihara urusan rakyatnya termasuk para pemuda dan anak-anak, dan juga junnah (tameng) yang akan melindungi seluruh warga negara dari kerusakan.

Diserang

Faizah menyayangkan lima hal yang akan membantu mengokohkan profil generasi Islam sedang diserang dan dilemahkan secara masif.

“Pertama, akidah yang kuat tadi berusaha dilemahkan dengan ide-ide sinkretisme yang menyamakan seluruh agama. Semua agama sama, semua agama benar, tidak boleh ada klaim kebenaran. Kalau ada yang menganggap bahwa hanya agama saya yang benar sebagaimana ia meyakininya, nanti dikatakan intoleran,” papar Faizah.

Serangan akidah ini menurutnya, menjadi awal rapuhnya bangunan pohon kepribadian pemuda muslim.

“Serangan kedua, syariat untuk mengikat amal-amalnya itu berusaha diputus dengan serangan sekularisasi. Glorifikasi kebebasan, hak asasi manusia, menjadikan akidah terpisah dari syariat,” jelasnya.

Ketiga, Faizah mengatakan, kelengkapan tsaqafah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pemuda  untuk berjalan dengan lurus dan tidak jatuh kepada bahaya dan jurang kesesatan, justru diserang habis-habisan, dimonsterisasi.

“Setiap generasi yang mau mendekat atau terlihat dekat pada syariat, justru dibully, diintimidasi, dan dicap radikal. Syariatnya sendiri diserang, diinterpretasi. Akhirnya, syariat hilang aslinya, bukan lagi syariat. Kurikulum yang mengajarkan syariat yang menjadikan taat beragama itu sebagai output dari pendidikan juga mulai dihilangkan,” ungkapnya kesal.

Keempat, lanjut Faizah, masyarakat yang kondusif menjadi tidak ada lagi, sekolah besar masyarakat dirusak. “Ide rusak apa pun boleh ada di sana, tidak ada halal haram, materi menjadi standar penilaian, sehingga generasi ini belajar rusak dari sana,” cetusnya.

Kelima, ujarnya, negara yang sangat dibutuhkan oleh umat untuk melindungi mereka, menghebatkan profil mereka, yaitu Khilafah dikriminalisasi dan berusaha dijauhkan dari umat dan benak umat.

Tidak Berfungsi

Bahkan kata Faizah, seluruh pelaku pendidik generasi yang punya tanggung jawab untuk melahirkan generasi kuat, diawali dari rumah yaitu keluarga muslim yang kuat, yang tangguh, lalu diikuti dengan pendidikan formal, struktur yang sesuai dengan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga tadi, hingga negara, semuanya dibuat tidak berfungsi, semuanya dibuat tidak bisa melakukan tugasnya.

“Segala ide yang bertujuan untuk membuat para ibu tidak merasa butuh melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik anaknya itu adalah serangan untuk keluarga,” tutur Faizah memberikan contoh.

Ia menambahkan, semua ide yang mengajari para pemuda kita untuk tidak perlu menikah, tidak perlu punya anak, mempertanyakan kepemimpinan suami, mempromosikan kesetaraan gender, tidak boleh ada pengaturan syariat di dalam keluarga maka itu adalah hal-hal yang akan melemahkan keluarga.

“Sekolah juga dibuat menjadi tempat yang malah menghasilkan profil-profil yang justru rusak. Sekularisasi kurikulum hanya menjadikan mereka sebagai sekrup-sekrup industri, mengoneksikannya dengan dunia industri, dunia usaha. Itu semua adalah usaha-usaha untuk melemahkan sekolah, pesantren maupun pendidikan tinggi yang mencetak anak didik dengan karakter kepribadian Islam yang kuat,”

Begitupun masyarakat, terang Faizah, semua ide dan nilai dirusak atas nama kebebasan, atas nama modernitas, atas nama kearifan lokal.

“Negara kehilangan posisinya, tidak bisa menjadi ra’in, merasa miskin, tidak punya cukup uang untuk menggratiskan pendidikan tinggi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan gizi warga negara, dan seterusnya,” tandas Faizah.

Faizah mengatakan, ada jeratan-jeratan peraturan-peraturan internasional yang tidak bisa dilepaskan karena negara tidak mandiri, tidak memiliki visi misi sendiri yang hendak direalisasikan kepada generasi muda ke depan.

Islam Kafah

Faizah menilai semua keburukan itu terjadi karena mencampakkan Islam kafah, dan dengan senang hati mengambil sekularisme, kapitalisme, bahkan dipimpin oleh sekularisme kapitalisme tersebut.

Menurutnya, untuk menciptakan profil generasi muslim yang mulia dan tangguh, membutuhkan penerapan Islam kafah, membutuhkan berfungsinya seluruh pelaku pendidikan generasi secara harmonis, secara sinergis. “Itu merupakan tugas kita untuk mewujudkannya,” tegasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *