Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Keistimewaan pemikiran Islam dibanding agama-agama samawi sebelumnya dan dari pemikiran “ciptaan” manusia adalah:
1. Agama-agama sebelumnya ditujukan kepada kelompok manusia tertentu dan zaman tertentu, sedangkan Islam ditujukan kepada seluruh manusia hingga hari kiamat. Para rasul terdahulu (sebelum Rasulullah saw.) diutus khusus untuk kaum mereka. Setelah itu, para pengikutnya mengabaikan risalah rasulnya, dan mengubah pemikiran-pemikirannya, setelah rasulnya wafat. Sedangkan, Muhammad saw. diutus kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah penutup para nabi.
2. Risalah-risalah rasul terdahulu hanya memecahkan beberapa bagian tertentu dari persoalan kehidupan manusia seperti akidah, ibadah, hubungan laki-laki dan wanita, atau persoalan makanan. Sedangkan, syariat Islam hadir untuk memecahkan seluruh aspek kehidupan manusia, dan mengatur seluruh interaksi manusia, baik ‘interaksi’ manusia dengan Tuhannya, hubungan dia dengan dirinya sendiri, dan interaksinya dengan orang lain.
3. Mukjizat para rasul terdahulu bersifat temporal, akan berhenti dan lenyap bersamaan dengan wafatnya rasul tersebut. Misalnya, mukjizat tongkat Nabi Musa, kemampuan menghidupkan orang mati yang dimiliki Nabi Isa, mukjizat Nabi Sulaiman berupa kemampuannya menundukkan burung, jin, dan angin, serta mukjizat unta betinanya Nabi Saleh.
Sedangkan, mukjizat Nabi Muhammad saw. bersifat kekal dan abadi sampai hari kiamat. Mukjizat itu berupa Al-Qur’an al-Karim yang senantiasa menantang manusia untuk membuat yang serupa dengannya. Inilah satu-satunya kitab yang dijanjikan oleh Allah untuk dipelihara (dijaga), seperti dalam firmannya,
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS Al-Hijr [15]: 9)
4. Tiga keistimewaan di atas berhubungan dengan risalah samawiyah. Adapun dibandingkan dengan pemikiran yang dibuat oleh manusia, Islam berbeda dengan pemikiran-pemikiran tersebut sebab Islam berasal dari Pencipta semesta alam. Dialah Sang Pencipta yang mengetahui dan memahami karakteristik manusia. Oleh karena itu, tidak seorang pun yang sanggup membuat sistem yang bersifat menyeluruh, sempurna, dan rinci untuk mengatur kehidupan manusia layaknya aturan yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada manusia.
Demikianlah, apa yang dianggap baik oleh sebagian manusia, kadang-kadang akan dianggap buruk oleh yang lain. Di sisi lain, tidak mungkin secara bersamaan mereka rela dengan aturan yang dibuat orang lain. Bahkan, jika golongan yang tidak rida tadi berhasil memegang tampuk pemerintahan, niscaya mereka akan mengganti sistem yang tadinya dibuat oleh orang sebelumnya sesuai dengan apa yang mereka sepakati dan inginkan.
Sebab lain yang menjadikan aturan buatan manusia tidak sempurna dan tidak layak untuk mengatur manusia secara keseluruhan adalah tidak adanya pemahaman dari pencipta sistem itu tentang perbedaan karakter masing-masing individu yang hidup dalam masyarakat. Mereka juga tidak memahami perkara-perkara apa saja yang akan muncul dan berkembang pada masa mendatang.
Sedangkan Allah, Dialah yang mengetahui apa yang akan terjadi. Islam telah mengatur keseluruhan aktivitas manusia maupun benda yang digunakan sebagai pemuas kebutuhan manusia, baik kebutuhan naluri maupun jasmani. Allah telah memaparkan nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunah, dengan paparan yang komprehensif, untuk menjelaskan status hukum bagi setiap perkara yang akan terjadi, baik yang menyangkut perbuatan manusia maupun benda yang digunakan oleh manusia. [MNews/Rgl]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam
Foto sampul: Istimewa

Islam memuaskan Akal dan menenangkan hati, pemikiran Islam selalu sesuai dgn fitrah Manusia dan sesuai dgn sunnatullah
Islam agama fitrah,sabda Rosulullah Saw: anak cucu Adam lahir dalam keadaan fitrah karena itulah syariat Islam kaafah cocok dan bisa diterapkan di tengah 2 kehidupan masyarakat yg heterogen ( muslim dan non muslim)