Muslimah News, NASIONAL — Pemuda adalah harapan. Sayangnya, sistem sekuler kapitalisme yang mendominasi hari ini telah membajak potensi pemuda, khususnya melalui bidang pendidikan. Merespons hal ini, para inteletual muslimah pun angkat bicara. Begini tanggapan mereka.
Realitas Generasi Muslim Hari ini

Dr. Liliek Susilowati, M.Si.
Tujuan pendidikan dalam Islam membentuk kepribadian Islam, melahirkan banyak sosok yang peduli dengan urusan umat. Berbeda dengan pendidikan sekuler hari ini, yaitu mendapatkan materi dan dipisahkan dari aspek spiritual. Akibatnya terbentuk mahasiswa yang pragmatis, rapuh, dan bergaya hidup ala kapitalis yang hedonis. Mereka pun gagal menyelesaikan masalah pribadi mereka, apalagi masalah umat.
Mereka tidak siap menjadi sosok utuh, sehingga problematika umat makin menumpuk seiring meningkatkan kuantitas intelektual. Banyaknya ilmu dijadikan untuk membodohi atau menyesatkan umat, banyaknya harta tidak untuk ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, malah mengantarkan kesengsaraan dunia akhirat.
Jelas bahwa realitas generasi muslim hari ini, tidak memiliki profil ideal generasi muslim sebagaimana dalam sistem Islam.
Potensi Pemuda Dibajak

drg. Luluk Farida
Terdapat 3 desain “pemberdayaan” pemuda yang merupakan serangan kapitalis kepada kaum pemuda, antara lain:
- Berperan secara global dalam kaitan politik mencegah ektrimisme melalu moderasi beragama.
- Menjadikan pemuda memiliki profil sekuler kapitalis, dibajak untuk kepentingan industry kapitalis..
- Serangan dari media kapitalis sekuler agar pemuda muslim hidup hedonis, arahan kretaifitas demi cuan meskipun melanggar nilai-nilai agama.
Jelas bahwa potensi pemuda hari ini memang dibajak oleh penjajah sekuler kapitalis.
Industri Men-drive Kurikulum

Dr. Ni’matuzahroh
Hari ini, industri memang sudah men-drive kurikulum. Kurikulum didesain agar mahasiswa siap kerja dan mendapatkan penghasilan yang layak. Selain itu, institusi perguruan tinggi juga mendapatkan penilaian dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi tata penilaian sebuah perguruan tinggi berhasil dalam penerapan program MBKM.
Tidak hanya itu, hasil riset yang didanai oleh finance, terutama industri seringkali bermasalah dalam hal HaKI. Implementasi hasil riset juga akhirnya tidak sepenuhnya untuk menyelesaikan masalah bangsa, tetapi termanfaatkan untuk kepentingan industri yang mendanai riset tersebut.
Ketika intelektual tidak berani speak up atau bersikap kritis tentang hal ini, maka pada saat itulah pembajakan potensi pemuda terjadi.
Intelektual Harus Bersikap Kritis

Prof. Dr. Mas Roro Lilik Ekowanti, M.S.
Sebagai intelektual muslimah, kita harus memiliki sikap kritis akan kebijakan publik yang ada di depan mata kita. Kebijakan publik yang diambil oleh penguasa hari ini dalam bidang pendidikan, dari kebijakan level SD hingga perguruan tinggi ada kesalahan fatal. Mulai dari kurikulumnya, desain materinya, hingga tujuan pendidikannya rusak sesuai arahan kapitalis sekuler. Namun anehnya, mereka berharap dari pendidikan sekuler ini melahirkan kualitas generasi yang bagus.
Jadi, kebijakan publik di dunia pendidikan saat ini tidak nyambung antara masalah dengan solusi yang ditawarkan pendidikan sekuler.
Pilihan Satu-Satunya

Dr. Vidia Gati, S.E., Ak., M.E.I.
Sistem ekonomi dalam sistem sekuler kapitalisme memiliki indikator-indikator sebagai negara maju yang lemah dan bias. Misalnya, indikator kemajuan ekonomi seperti jumlah pengangguran, PDB, atau utang negara. Faktanya indikator negara maju dari sistem ekonomi sekuler ini tidak bisa memajukan sebuah negara secara hakikinya.
Oleh karenanya, untuk menjadi negara maju atau kuat, tidak bisa hanya sekadar menerapkan resep atau meng-copy paste hal-hal yang dilakukan negara kapitalis. Cara ideologi kapitalisme menjadi negara maju adalah dengan cara hegemoni, yaitu menguasai negara-negara kecil untuk diambil kekayaannya. Jka bermasalah, maka akan menimbulkan resesi.
Untuk itu, pilihan satu-satunya agar menjadi negara yang kuat adalah dengan menerapkan sistem Islam. Sistem Islam memiliki indikator kekuatan negara maju dan berdaulat sesuai dengan apa yang digariskan Allah Swt., bukan ukuran-ukuran yang bias sebagaimana dalam sistem kapitalisme. [MNews/Ruh]
Foto sampul: iStock
