[Kabar] Dukungan AS atas Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina Merupakan Pengabaian Norma Internasional

[Kabar] Dukungan AS atas Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina Merupakan Pengabaian Norma Internasional

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pada Senin (30-3-2026), Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa mereka menghormati hak Zion*s untuk memberlakukan hukumnya sendiri setelah Knesset menjatuhkan hukuman mati kepada tahanan Palestina. Seorang juru bicara Deplu AS mengatakan, “AS menghormati hak kedaulatan Israel untuk menentukan hukum dan hukumannya sendiri bagi individu yang dihukum karena terorisme. Kami percaya bahwa setiap tindakan tersebut akan dilakukan dengan pengadilan yang adil dan menghormati semua jaminan dan perlindungan yang berlaku.”

Pengabaian

Juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis di AS mengecam tindakan tersebut sebagai pengabaian terang-terangan terhadap hukum dan norma internasional mengenai perlakuan terhadap tahanan.

“Dengan dukungan AS, Zion*s telah melegalkan pembunuhan tahanan Palestina yang sebagian besar diculik dari rumah dan kota mereka, bukan ditangkap di medan perang. Kebejatan masyarakat Zion*s tidak tertandingi sebagaimana tampak dalam perayaan mereka atas pemerkosaan tahanan Palestina oleh tentara entitas Yahudi,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (1-4-2026).

Ia menyatakan, slogan “hak asasi manusia”, “kebebasan”, dan “demokrasi” telah terungkap sebagai kebohongan. “Bahkan, AS tidak lagi berusaha menyembunyikan dukungannya terhadap pembunuhan terang-terangan, pengepungan, pemenjaraan, dan penghancuran massal ketika hal-hal tersebut melayani kepentingan kolonialnya dan keamanan entitas Zion*s yang dilindunginya. Setiap penentangan akan ditanggapi dengan kebijakan ‘bumi hangus’ kaum imperialis yang brutal,” kritiknya.

Lebih lagi, jelasnya, meskipun rezim Iran telah melayani kepentingan AS di kawasan itu selama beberapa dekade di Irak, Afganistan, dan Suriah, para pemimpinnya telah dibunuh dengan harapan untuk menggantikan mereka dengan agen-agen yang lebih patuh. “Tidak puas hanya dengan menumpahkan darah para pemimpin ini, AS kemudian mengebom universitas, sekolah, dan rumah-rumah sehingga menyebabkan banyak korban jiwa, terutama anak-anak. Ini sebuah pola yang terus berulang,” ucapnya.

Namun, menurut jubir, AS dan Zion*s tidak akan berani terus melakukan kejahatan terhadap tanah berkah Palestina dan tanah Imam Bukhari dan Imam Muslim (Iran) seandainya umat berada di bawah Khilafah. Ia mengutip sabda Rasulullah saw. dalam riwayat Muslim, “Imam adalah perisai; seseorang berperang di belakangnya dan dilindungi olehnya.”

Oleh karena itu, urainya, para ulama menggambarkan upaya mendirikan Khilafah yang memerintah umat Islam berdasarkan wahyu Allah dan melindungi umat Islam sebagai mahkota kewajiban. “Sebabnya, kesucian umat Islam akan terus dilanggar sampai umat Islam mengembalikan seorang khalifah yang melindungi darah, tanah, dan kehormatan mereka. Tanpa khalifah, aturan Islam tetap ditangguhkan dan kesucian umat Islam tetap rentan terhadap pelanggaran,” ujarnya.

Padahal, ia mengingatkan, tanpa adanya Khilafah, negara-negara kolonial tidak melindungi umat muslim di luar negeri, bahkan tidak menghargai umat muslim yang tinggal di dalam perbatasan mereka sendiri meskipun jumlah umat muslim mencapai jutaan.

Ia pun menyayangkan bahwa sebagian komunitas muslim di Barat telah dinetralisir secara politik melalui wacana asimilasi yang dipromosikan oleh suara-suara yang bersekutu dengan rezim yang memisahkan umat muslim dari kepentingan keumatan. “Mereka telah menormalisasi adanya integrasi ke dalam politik partai Barat. Bahkan beberapa di antaranya sampai menyatakan bahwa itu fardu, meskipun partai yang berkuasa dan pihak oposisi pada akhirnya beroperasi dalam kerangka kolonial yang sama yang melancarkan perang terhadap tanah-tanah muslim,” ulasnya.

Padahal, nilainya, jika umat muslim di Barat bertindak sebagai blok politik independen yang membawa Islam dan membela kepentingan agama dan umat dalam kerangka hukum Islam yang telah ditetapkan, para pejabat AS setidaknya akan dipaksa untuk memperhitungkan adanya politik yang terorganisir. “Oleh karena itu, umat muslim di Barat harus mengorganisir diri mereka sebagai kekuatan politik independen, terpisah dari partai-partai kolonial, dan menampilkan Islam sebagai alternatif peradaban terhadap sistem kolonial Barat, berupa kapitalisme dan demokrasi. Hanya dengan demikian, kita dapat memberikan tekanan yang berprinsip daripada ‘diserap’ ke dalam sistem tersebut,” bebernya.

Sebaliknya, ia menegaskan, jika kita tidak menghadapi sistem ini secara politis dan mengungkap kejahatannya, maka diamnya kita akan memperdalam beban kita di hadapan Allah Swt. dan di hadapan umat. “Ketahuilah dengan pasti bahwa hanya Islam yang menyediakan sistem adil yang mengatur semua orang tanpa prasangka atau standar ganda. Kita harus mengadopsi Islam sebagai alternatif peradaban dan sistem yang adil yang memperlakukan orang kaya dan miskin, serta yang kuat dan lemah dengan standar yang sama,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *