Penulis: Nabila asy-Syafi’i
KISAH INSPIRATIF — Ada seorang sahabat Rasulullah saw. yang tidak lagi memiliki kekuatan sekuat Umar bin Khaththab atau usia semuda Ali bin Abi Thalib. Tidak! Ia seorang lelaki tua bermata buta dan sakit-sakitan. Ia adalah Dhamrah bin Ibnul Ishaq atau Dhamrah bin Jundub dari Bani Laits.
Dhamrah telah memeluk Islam sejak awal Islam didakwahkan di Makkah. Ia menjadi pengikut setia Rasulullah saw. karena telah merasakan nikmatnya keimanan dalam Islam. Sungguh, kenikmatan itu tidak terhingga baginya.
Ketika perintah untuk hijrah ke Madinah turun kepada Rasulullah Muhammad saw., para sahabat bergegas menyambutnya. Mereka berangkat ke tanah harapan, yakni kota Madinah (dulu dinamakan Yastrib). Dhamrah bin Jundub pun mendengar perintah tersebut. Ia segera bersiap untuk berangkat. Sanak keluarganya melarang karena usianya telah renta, serta kondisi fisiknya telah lemah dan sakit-sakitan. Mereka menganggap ada rukhsah (keringanan) baginya. Meskipun demikian, Dhamrah menolak dengan tegas. Ia mengatakan kepada sanak saudaranya, “Untuk berhijrah, aku punya banyak harta, sehingga bisa membiayai perjalananku. Bawalah aku keluar dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah. Aku tidak ingin bermalam lagi di tempat ini.”
Setelah menyiapkan segala yang diperlukan dalam perjalanan, akhirnya Dhamrah berangkat ke Madinah dengan ditandu oleh budak-budaknya. Ia melalui medan perjalanan yang tidak mudah. Ia berharap bisa hidup dalam situasi dan kondisi yang lebih baik di dalam masyarakat yang islami dengan nuansa kehidupan yang penuh ketakwaan dan keberkahan. Namun, baru sampai di Tan’im, takdir berkata lain. Dhamrah lebih dicintai oleh Allah Taala. Ia dipanggil untuk menghadap-Nya dan meninggalkan dunia untuk selamanya.
Para sahabat di Madinah yang mendengar wafatnya Dhamrah merasa sedih. Mereka khawatir amal hijrah Dhamrah tidak diterima oleh Allah Swt. karena ia belum sampai dan bertemu Rasulullah saw. di Madinah.
Tidak lama kemudian, Allah Swt. menurunkan sebuah ayat Al-Qur’an kepada Rasulullah saw., lalu dibacakan kepada para sahabat sebagai kabar gembira bagi mereka.
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul–Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), sungguh, telah tetap pahala di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa: 100).
Dari peristiwa hijrahnya Dhamrah bin Jundub, kita bisa mengambil beberapa pelajaran.
1. Janganlah mudah menyerah untuk berjuang di jalan Allah.
2. Usia tua bukan alasan untuk menghindari kewajiban. Justru sisa usia harus digunakan untuk menyambut husnulkhatimah dengan tetap istikamah di jalan perjuangan demi tegaknya Islam kafah.
3. Terlebih para pemuda seharusnya lebih bersemangat berjuang untuk Islam dan umat Islam.
4. Tidak menunda melaksanakan kewajiban dan kebaikan.
5. Ajal bisa datang di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya tanpa bisa ditunda. Oleh karenanya, jangan takut berjuang dalam kebenaran Islam.
Insyaallah masih banyak ibrah yang bisa dipetik dari kisah hijrah Dhamrah bin Jundub. Semoga kita menjadi bagian dari umat Rasulullah saw. yang istikamah memperjuangkan tegaknya Islam kafah dalam naungan Khilafah Rasyidah ala minhaj an-Nubuwwah. Mari kita jadikan setiap detik hidup kita adalah amanah dan setiap langkah adalah ibadah. [MNews/YG]
