Profesi Guru Tidak Diminati Kaum Muda, Bagaimana Nasib Generasi?

Profesi Guru Tidak Diminati Kaum Muda, Bagaimana Nasib Generasi?

Penulis: Vita Yulia Indrasari, S.P.

Muslimah News, FOKUS — Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi menyebutkan kaum muda kini banyak yang tidak berminat menjadi guru. Menurutnya, hal ini disebabkan beberapa faktor, mulai dari kesejahteraan guru, status dan karier yang tidak jelas, serta kepastian hidup masa depan yang tidak memiliki jaminan keamanan, terutama jaminan sosial.

Masih menurutnya, tugas guru yang mulia hanya indah diucapkan, tetapi begitu diuraikan dalam bentuk program dan masa depan, malah dianggap sebagai beban. “Jadi berdasarkan survei sederhana yang kita (PGRI) bikin, hanya 11% anak muda yang tertarik jadi guru,” ucapnya. (Kompas, 8-9-2025).

Permasalahan rendahnya minat menjadi guru ternyata bukan persoalan lokal Indonesia saja. Berdasarkan laporan UNESCO 2024, kekurangan guru akan menjadi masalah global. Pada 2030, diperkirakan kebutuhan guru baru untuk jenjang SD dan SMP di seluruh dunia mencapai 44 juta orang. Sedangkan di Asia Tenggara sendiri, kebutuhannya mencapai 4,5 juta guru.

Di satu sisi, minat menjadi guru di berbagai negara pun rendah. Berdasarkan hasil survei PISA 2018, proporsi murid usia 15 tahun yang ingin menjadi guru saat mereka berusia 30 tahun ada di bawah 25%. Ini antara lain karena ketidakpuasan pada profesi guru karena beban kerja tinggi sehingga memicu stres, juga pendapatan profesi guru yang dianggap tidak sebanding dengan beban kerja.

Isu kesejahteraan guru ini menjadi faktor penting dalam rendahnya animo generasi muda sekarang untuk mengambil profesi guru. Komitmen pemerintah yang terkesan ragu dan ambigu dalam menetapkan kebijakan terkait guru, menambah sebab pilihan profesi guru menjadi kurang populer, bahkan dianggap profesi substitusi atau sekadar batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Setidaknya ini tampak dari pernyataan Sri Mulyani (masih menjabat Menkeu kala itu) dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia, di kampus ITB pada Kamis (7-8-2025), yang sempat viral dan dianggap menjadi blunder terkait gaji dosen dan guru yang tidak besar dan menjadi tantangan bagi keuangan negara. “Apakah semuanya harus keuangan negara? Ataukah ada partisipasi dari masyarakat?” tanya Sri Mulyani saat itu.

Lantas, apakah animo pada profesi guru saat ini berpengaruh signifikan terhadap jumlah guru di Indonesia? Irsyad Zamjani selaku Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek mengatakan, secara umum rasio guru di Indonesia tidak jauh dari rasio guru di dunia. Pada 2023, rasio guru terhadap siswa 15,7. Kondisi ini tidak jauh dari Singapura, Jepang, maupun Belanda pada 2017.

Namun yang menjadi catatan di sini, sekalipun secara umum rasio guru dan siswa di Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara maju, kesenjangan terjadi dari sisi kewilayahan. Dengan kata lain, walaupun jumlah memegang peranan penting, tetapi distribusi menjadi permasalahan utama ketersediaan guru di Indonesia.

Guru, Cermin Kebangkitan dan Keruntuhan Generasi

Menjamurnya permasalahan generasi dan budaya yang terjadi di seluruh belahan dunia dan berujung pada permasalahan sosial ekonomi hingga pemerintahan, sejatinya tidak lepas dari sistem pendidikan yang diterapkan di negara tersebut, serta ideologi dan pemikiran yang mendasarinya.

Lumrah dikatakan, pemerintahan yang rusak adalah produk dari sistem pendidikannya terdahulu. Alhasil, jika kerusakan telah tampak pada generasi muda saat ini, kita bisa membayangkan kualitas calon pemimpin kita nanti. Padahal, jika diibaratkan negara adalah sebuah kapal, maka pemimpin adalah nakhodanya yang menentukan arah dan cara kapal melaju: Akankah mampu mengantarkan pada tujuan? Atau hanyut bersama gelombang dan paling buruk tenggelam dan hancur karena badai yang menerjang?

Guru juga merupakan ujung tombak pendidikan. Di setiap era, guru dianggap sebagai pilar bangsa dan pilar kebangkitan. Saking strategisnya peran guru, ketika bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II mengancam eksistensi Jepang kala itu, Kaisar Hirohito mengajukan pertanyaan yang sangat menggugah, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Pertanyaan ini menunjukkan betapa pentingnya peran guru dalam menjaga fondasi negara, menyebarkan filosofi negara, hingga mencetak generasi yang akan menjaga dan mengembangkan negara dan peradabannya.

Akan tetapi, lihatlah kini, degradasi akhlak generasi menyebar luas, kemaksiatan merajalela, pengabaian terhadap ilmu dan guru telah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Inilah dampak diterapkannya sistem sekuler kapitalisme-demokrasi yang mengagungkan kebebasan berpikir dan berperilaku.

Walhasil, penting bagi guru mengembalikan khitahnya sebagai role model yang menyampaikan sekaligus menerapkan konsep dan aktualisasi ilmu, pemikiran, dan pemahamannya untuk mengatasi kerusakan generasi. Dari tangan gurulah pengetahuan berkembang. Bukan saja mentransfer ilmu, perannya berkembang hingga menjadi mentor, konselor,bahkan coach yang mendampingi tumbuh kembang generasi hingga menjadi karakter yang diharapkan.

Oleh sebab itu, kesalahan guru dalam memahami tujuan mendidik dan dalam prosesnya akan berimbas pada produk karakter yang akan dibentuk. Benarlah pepatah yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Bagaimana guru, begitulah murid, sehingga bisa dikatakan guru adalah cermin kebangkitan keruntuhan generasi tersebab peran esensi dan strategisnya.

Ironisnya, ketika tugas penting ini tidak diimbangi kesadaran pentingnya amar makruf nahi mungkar (sebagai bagian dari dakwah yang merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim) sesuai pekerjaan, peran, dan potensinya masing-masing. Alih-alih dibarengi kesadaran untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat sebagai amal yang pahalanya tidak akan terputus, guru justru teralihkan dan tersibukkan dengan isu kesejahteraan dan jaminan penghidupan dan keprofesian semata. Hingga terkooptasi oleh kepentingan korporasi, isu HAM, dan perlindungan anak yang berujung pada ancaman kepada profesi guru dan tingkat stres berlebih.

Wajar jika peran guru dianggap tidak lagi menarik dan populer. Lebih banyak profesi lain dengan beban yang lebih ringan dan tunjangan yang lebih besar, apalagi tidak perlu tingkat keilmuan yang tinggi. Wajar pula jika generasi saat ini—didominasi milenial dan Gen Z—lebih memilih menjadi YouTuber, influencer, dan sebagainya dibandingkan mengambil tugas mulia untuk mencerdaskan generasi.

Di sisi lain, pengaruh gaya hidup hedonistik dan konsumtif hasil sistem sekuler kapitalisme banyak memengaruhi pola pikir masyarakat, termasuk guru dan calon guru. Inilah yang mengubah orientasi mendidik generasi menjadi sekadar orientasi profesi. Lantas, bagaimana nasib generasi ini ke depannya?

Guru Dimuliakan untuk Mencetak Generasi Emas dalam Peradaban Unggul

Islam menjunjung tinggi ilmu dan orang yang berilmu. Hal ini  ditunjukkan dalam banyak nas, baik Al Qur’an maupun hadis-hadis Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Mujadalah [58] ayat 11,

يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ​ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ‏ ١١ …

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Islam juga mendorong umatnya untuk belajar dan mengajarkan ilmu kepada orang lain. Bahkan, hal ini dianggap sebagai sedekah terbaik dan mendapatkan pahala besar di sisi Allah. Sabda Nabi ﷺ, “Sebaik-baik sedekah adalah seseorang muslim belajar ilmu, kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.”

Para ulama pun sepakat bahwasanya posisi guru adalah posisi mulia. Ibnu Mubarak dalam kitab Tahzibil al-Kamal Jilid XVI hlm. 20 menyebutkan bahwa setelah derajat kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu. Ini karena ilmu adalah sumber kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu juga sarana untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang Allah ﷻ ridai. Sabda Nabi ﷺ, “Aku tidak mengetahui setelah kenabian ada derajat yang lebih utama dari menyebarkan ilmu.”

Islam juga memahami bahwa guru mengemban amanah agung dalam mendidik generasi berkepribadian Islam yang bisa berpengaruh bagi peradaban. Itulah sebabnya sistem Islam memberikan penghargaan tertinggi bagi para guru sebagai pendidik generasi. Ini juga dimaksudkan agar guru bisa fokus dalam tugasnya mendidik generasi dan tidak disibukkan dalam upaya memastikan “dapur tetap ngebul”.

Berbeda dengan saat ini ketika kesejahteraan guru masih menjadi privilese bagi sebagian guru ASN dengan golongan tertentu, sedangkan sebagian besar lainnya merupakan guru honorer dengan gaji di bawah UMR. Bahkan, pekerja pabrik mendapatkan gaji lebih besar dibandingkan seorang guru yang terkadang mendapatkan gaji per tiga bulan. Lebih banyak lagi guru yang tidak terjamin dengan tunjangan pemerintah dan mendapatkan dana partisipasi masyarakat sejumlah ala kadarnya tanpa standar jelas.

Akhirnya, dalam banyak kasus, banyak guru yang harus “magang” di lebih dari satu sekolah, bahkan terpaksa memiliki pekerjaan sampingan yang menguras energinya. Dengan dalih tidak memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi, banyak guru yang juga tidak mendapat kompensasi memadai. Padahal, jikalau tanpa adanya guru-guru ini, niscaya jumlah guru yang ada tidak akan ter-cover oleh jumlah guru yang tunjangannya dijamin pemerintah.

Terkait hal tersebut, sistem Islam menjamin tunjangan guru dan tidak menunggu guru untuk menuntut haknya. Tidak hanya terkait upah mengajarkan Al-Qur’an (Kitabullah), tetapi juga bagi guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan lainnya. Ini karena jika penyebaran ilmu terhambat dengan adanya prasyarat upah, bisa dibayangkan bagaimana nasib umat ke depannya.

Dalam kitab Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam (Sistem Ekonomi Islam), Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa besaran gaji dalam Islam ditentukan berdasarkan nilai jasa yang diberikan. Upah atau gaji bisa berbeda-beda karena perbedaan nilai jasa, bukan karena status pekerjaan (ASN atau non-ASN, guru tetap atau guru kontrak). Untuk itu, negara akan menunjuk ahli (hubara) guna mengukur nilai jasa seorang guru secara objektif dan memastikan guru mendapatkan kompensasi yang sesuai.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah Kitabullah.” (HR Al-Bukhari no. 5737).

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dari al-Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak, dan Khalifah Umar bin Khaththab ra. memberi gaji 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63.75 gram emas; jika saat ini harga 1 gram emas = Rp 1 juta saja, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp63.000.000).

Begitu pula pada masa Shalahuddin al-Ayyubi. Syekh Najmuddin al-Khabusyani, misalnya, yang menjadi guru di Madrasah ash-Shalāhiyyah, setiap bulannya digaji 40 dinar dan 10 dinar untuk mengawasi wakaf madrasah (jika 1 dinar= 4,25 gram emas; 40 dinar= 170 gram emas; bila 1 gram emas harganya Rp 1 juta, gaji guru pada saat itu tiap bulannya sebesar Rp170 juta).

Syekh Az-Zarnuji, penulis kitab Ta’limul Muta’allim, menyampaikan bahwa memuliakan guru adalah dengan memberikan haknya. Beliau juga mengumpamakan bahwa satu huruf yang diajarkan guru setara dengan 1.000 dirham (yang saat ini setara Rp4 juta).

Namun demikian, motivasi menjadi guru harusnya bukan karena manfaat (materi) semata. Seorang guru harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam An-Nawawi mengatakan, “Wajib bagi guru untuk mencari rida Allah dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi.”

Demikianlah, Khilafah memperhatikan kesejahteraan guru sehingga guru fokus membina generasi. Guru tidak akan lagi dianggap profesi yang berorientasi profit semata, melainkan profesi mulia yang akan menghantarkan generasi saat ini menjadi generasi emas yang gemilang, juga membawa umat dan negaranya menjadi umat terbaik dan negara besar dengan peradaban unggulnya. Wallahualam. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *