Muslimah News, NASIONAL — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam peluncuran Gerakan Numerasi Nasional, Selasa (19-8-2025) mengatakan, salah satu penyebab numerasi anak Indonesia rendah adalah tingkat literasi yang rendah. Abdul Mu’ti melandaskan pendapatnya pada capaian skor PISA yang masih rendah, salah satunya dilihat dari kemampuan menyelesaikan soal numerasi dalam bentuk cerita atau dengan kata lain ketika konsep numerasi ditarik untuk memecahkan permasalahan kontekstual.
Menuntaskan Masalah?
Praktisi pendidikan Vita Yulia Indrasari, S.P. mempertanyakan, apakah Gerakan Numerasi Nasional benar-benar dapat menuntaskan masalah rendahnya tingkat numerasi di Indonesia, sekadar launching proyek lain untuk penyerapan anggaran tanpa gerakan fundamental, atau jargon semu yang dipajang untuk laporan kinerja dan diakhiri dengan asesmen berjudul rapor pendidikan?
“Faktanya, rendahnya tingkat literasi dan numerasi di negeri ini bukan hasil instan setelah percobaan sistem pendidikan 2 atau 3 tahun. Skor PISA hanyalah mengamini produk sistem pendidikan yang telah diterapkan sejak Republik ini lahir,” ujarnya kepada MNews, Sabtu (30-8-2025).
Walaupun tidak menafikan upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan pemerintah dalam 80 tahun masa kemerdekaannya, ia menerangkan, harus diakui formula yang digunakan belum mampu menyentuh akar masalah kualitas pendidikan di Indonesia tidak kunjung meningkat.
“Beberapa masalah di antaranya akibat kebijakan pendidikan yang selalu berubah dengan perubahan formasi kekuasaan. Begitu pula perubahan filosofis pendidikan, profil lulusan, capaian kompetensi, meributkan penggunaan istilah, ganti pendekatan, dan lainnya, memaksa seluruh komponen pendidikan untuk selalu siaga penuh pada perubahan, yang pada akhirnya membuat mereka tidak mampu menuntaskan dan memetik hasil optimal program pembelajaran yang diterapkan,” paparnya.
Selain itu, lanjutnya, masalah lainnya adalah anggaran pendidikan yang belum dimanfaatkan optimal, hanya menekankan pada penyerapan nominal dan dokumentasi administratif. “Belum lagi kesenjangan alokasi dan prioritas yang tidak tepat sasaran, tidak merata, dan rawan penyalahgunaan,” ucapnya.
Menurutnya, kesalahan dalam paradigma pendidikan yang diperkuat dengan kesalahan tata kelola makin menyulitkan negeri ini untuk bangkit dan bersanding dengan negara-negara lain yang dianggap maju, walaupun kemajuannya bersifat semu dan materialistis.
“Apalagi, ketika standar keberhasilan pendidikan dikembalikan kepada standar global dalam bentuk skor PISA. Ini sejatinya merupakan tolok ukur negara kapitalis menilai calon tenaga kerja yang akan terjun dalam keriuhan industri dan pasar globalnya,” ujarnya.
Permasalahan rendahnya tingkat literasi numerasi di Indonesia ini, jelasnya, harus dipahami secara menyeluruh sebagai bentuk kegagalan sistem pendidikan yang kronis. “Meskipun, ada pengaruh perkembangan teknologi yang tidak hanya mempermudah kehidupan, yang di sisi lain mengurangi produktivitas manusia,” imbuhnya.
Namun, sambungnya, solusi permasalahan tersebut tidak cukup hanya dengan gonta-ganti kurikulum yang pada kenyataannya tidak berpengaruh signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan.
Sistem Pendidikan Islam
Ia menyatakan, permasalahan tersebut tidak akan terjadi ketika yang diterapkan dalam pembelajaran adalah metode talqiyan fikriyan sebagaimana yang diterapkan dalam sistem pendidikan Islam.
Metode ini, lanjutnya, berorientasi pada pembelajaran melalui proses berfikir yang objektif sesuai realitas, mengkonstruksi pemahaman, dan mendorong pengamalan.
“Bukan pembelajaran teoritis tanpa makna dan tidak terbenakkan yang hanya berakhir di atas kertas ujian dan makalah,” urainya.
Metode talqiyan fikriyan akan mengoptimalkan potensi berpikir anak yang berujung pada pemikiran solutif pada permasalahan kontekstual. “Keterampilan numerasi yang terintegrasi dalam metode pembelajaran talqiyan fikriyan adalah keterampilan mengidentifikasi masalah, menganalisis data dan informasi secara mendalam, serta menerapkan langkah demi langkah penyelesaian masalah,” jabarnya.
Pada akhirnya, ia menekankan, sekalipun dunia dan teknologinya berkembang, sistem pendidikan Islam dengan metode talqiyan fikriyan akan menghasilkan profil lulusan yang menjadi subjek dan pengendali. “Bukan menjadi objek dan korban, tetapi menjadi pemecah masalah dan bukan pembuat masalah, apalagi beban negara,” tandasnya. [MNews/RA]

Hanya dg pendidikan Islam yg akan membawa perubahan generasi mulia