Muslimah News, INTERNASIONAL — Kebakaran besar terjadi di hipermarket Kut Irak pada Rabu malam (16-7-2025). Kementerian Dalam Negeri Irak mengonfirmasi bahwa kebakaran yang terjadi di gedung komersial lima lantai di pusat kota Kut tersebut menewaskan 61 orang, termasuk 14 jenazah hangus yang belum teridentifikasi. Sebagian besar korban meninggal karena menghirup asap.
Kebakaran juga terjadi di gedung pernikahan di Nineveh pada 2023, yang merenggut nyawa lebih dari 120 orang dan melukai 200 orang. Pada 2021, kebakaran Rumah Sakit Al-Hussein di Dhi Qar, juga menewaskan lebih dari 92 orang. Pada tahun yang sama (2021), kebakaran juga terjadi di pusat isolasi COVID-19 di Rumah Sakit Ibn al-Khatib di Baghdad, yang mengakibatkan 82 kematian.
Pengkhianatan
Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional wilayah Irak menilai, berulangnya insiden kebakaran tanpa mengungkap akar masalahnya adalah pengkhianatan terhadap umat.
“Terulangnya insiden semacam itu, pembentukan komite investigasi, dan pernyataan berkabung, tanpa mengidentifikasi akar penyebabnya atau membatasi penyebarannya merupakan pengkhianatan paling parah terhadap umat,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (18-7-2025).
Pasalnya, ia menjelaskan, semua orang tahu bahwa penyebab utamanya adalah korupsi yang merajalela di tubuh punggawa negara, banyaknya kubu pengambil keputusan politik, dan pengabaian tanggung jawab para politisi untuk mengurus rakyat. “Mereka hanya sibuk menjarah kekayaan dan mempertahankan jabatan,” tukasnya.
Menurutnya, otoritas terkait tidak memiliki kemampuan yang diperlukan untuk merespons kebakaran dan menyelamatkan keluarga yang terjebak selama beberapa jam.
“Selain itu, izin konstruksi dan hunian dikeluarkan tanpa mematuhi persyaratan keselamatan dan keamanan. Lebih buruk lagi, banyak bangunan dibangun tanpa izin sama sekali. Sistem pemadam kebakaran tidak tersedia di sebagian besar gedung pemerintah. Jika ada, sering kali tidak berfungsi atau tidak aktif,” ulasnya.
Oleh karena itu, ucapnya, wajar jika kasus kebakaran terus meningkat yang bersumber dari korupsi keuangan, manajemen yang buruk, kelalaian, kecerobohan, dan ketiadaan kepedulian negara.
Ia mengingatkan para pejabat itu dengan hadis Rasulullah saw., ”Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Penguasa atas suatu bangsa adalah seorang penggembala dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Juga hadis Aisyah ra. ”Ya Allah, barang siapa yang mengurus urusan umatku lalu bersikap keras terhadap mereka, maka bersikap keraslah kepadanya, dan barangsiapa yang mengurus urusan umatku lalu bersikap baik terhadap mereka, maka bersikap baiklah kepadanya.”(HR Muslim).
”Ini adalah doa dari Nabi saw. terhadap siapa pun yang mengambil alih urusan pribadi atau publik umat Islam dan bertindak tanpa bimbingan Muhammad saw. sehingga merugikan mereka,” jelasnya.
Ia mengingatkan, kepemimpinan dan kepedulian terhadap masyarakat merupakan beban berat dan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.. Ini, sambungnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar, ”Aku bertanya, ’Wahai Rasulullah, maukah engkau mengangkatku [pada suatu jabatan]?’ Rasulullah menepuk pundakku dan berkata, ’Wahai Abu Dzar, engkau lemah, padahal jabatan itu adalah amanah, dan di hari kiamat nanti akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.’.”
Ia meyakini, peristiwa-peristiwa ini dan banyak lainnya adalah akibat alami dari tidak adanya kepedulian yang tulus terhadap urusan rakyat dan pemerintahan oleh sistem busuk yang dirancang oleh kaum kafir penjajah yang aturan-aturannya telah ditetapkan, dan para pengawalnya yang korup telah diberi wewenang atas leher rakyat.
”Solusi atas tragedi-tragedi ini bukanlah ungkapan duka atau belas kasihan, sementara akar penyebab dan sumber malapetaka—sistem yang korup—masih utuh,” kritiknya.
Syariat Islam
Menurutnya, solusi dari malapetaka ini justru terletak pada upaya tulus dan tekun untuk menyingkirkan sistem yang buruk dan membangun sistem yang memerintah berdasarkan syariat Allah dan mengurus urusan manusia sesuai hukum-Nya.
”Solusinya terletak pada pemberian baiat kepada seorang Imam yang adil yang dengan tegas menentang segala bentuk kerusakan yang tujuan utamanya adalah keridaan Allah Swt.,” yakinnya.
Sebagai penutup, ia membacakan surah At-Taubah ayat 105. “Katakanlah, “Bekerjalah! Maka, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” [MNews/IA]
