Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, setidaknya ada tiga kesadaran penting untuk membangun kembali peradaban Islam. Hal tersebut diungkapnya kepada MNews, Rabu (23-9-2026).
Pertama, sebutnya, kesadaran historis Islam. Yang terjadi hari ini, ungkapnya, keadaan umat Islam, baik di negeri ini maupun secara umum di dunia, adalah buah dari peristiwa-peristiwa politik pada masa lalu, terutama runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924.
“Mengapa kita harus menyebut itu, karena itulah titik di mana umat Islam semenjak saat itu tidak lagi memiliki junnah, tidak lagi memiliki imam, pemimpin, amirul mukminin yang berfungsi sebagai pelindung atau junnah,” bebernya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga membuat umat Islam tidak lagi memiliki payung dunia Islam sehingga umat tercerai-berai dan orang sering mengatakan umat Islam ini hari itu bagaikan anak ayam kehilangan induk.
“Jadi. kesadaran historis itu penting sebab kalau kita tidak memiliki kesadaran itu, kita tidak akan pernah mendapatkan jawaban mengapa umat Islam seperti ini. Mengapa negeri muslim itu tercerai-berai begitu rupa yang tidak bisa dilepaskan dari momen-momen penting sebelum keruntuhan 1924,” jelasnya.
Ia juga menyebut, ada Perjanjian Sykes-Picot yang membelah wilayah dunia Islam yang sebelumnya berada dalam satu kesatuan menjadi wilayah di bawah kekuasaan Inggris dan Prancis. Kondisi Khilafah Utsmaniyah yang makin lemah saat itu, terangnya, dipengaruhi faktor internal dan eksternal.
“Ini semua sejarah. Jadi penting al-wa’yu at-tarikhi al-islami (kesadaran sejarah Islam) supaya orang bisa memahami bahwa yang ada sekarang ini akibat dari yang dulu pernah terjadi,” sebutnya.
Kedua, ujarnya, kesadaran politik Islam. “Kesadaran politik Islam itu intinya adalah bagaimana memandang peristiwa-peristiwa politik, kalau dalam bahasa kitabnya itu min zawiyatin khassatin (dari sudut pandang tertentu), yaitu sudut pandang Islam,” tuturnya.
Ia menjelaskan, dalam sudut pandang Islam, tidak ada keadaan yang dianggap tidak boleh atau tidak mungkin berubah. Selama keadaan yang ada masih jauh dari standar ajaran Islam, lanjutnya, keadaan tersebut tetap menjadi objek perubahan dan tidak dianggap final.
“Jikalau pun ada perubahan, perubahan bukan ke arah Islam, seperti yang berulang kali terjadi, Orde Lama kepada Orde Baru, Orde Baru kepada Reformasi, itu kan perubahan-perubahan, tetapi belum mengarah kepada Islam,” terangnya.
Karena itu, ia menekankan, kesadaran politik Islam adalah hal penting agar umat dapat bergerak dan menggerakkan perubahan.
“Kesadaran politik itu harus berujung kepada bagaimana politik Islam itu tegak atau bagaimana pengaturan kehidupan umat itu dengan dasar Islam itu tegak. Itulah inti dari politik, ri’ayah syu’unil ummah,” katanya.
Ia memandang, untuk menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan umat diperlukan institusi politik yang mengatur seluruh aspek kehidupan berdasarkan Islam dan institusi tersebut adalah Khilafah.
Ketiga, ucapnya, kesadaran partisipasi. Menurutnya, umat Islam harus memiliki dua kesadaran dasar agar bisa berpartisipasi dalam dakwah.
“Yang pertama, kesadaran bahwa ini (dakwah) memang kewajiban. Kedua, ini adalah solusi,” sebutnya.
Tanpa dakwah, tegasnya, maka tidak akan pernah ada solusi tuntas atas berbagai persoalan yang dihadapi.
“Jika kedua kesadaran ini bertemu, maka semangat untuk kita berpartisipasi itu akan membumbung dan itu membuat kita akan terus tidak pernah berhenti, selalu di dalam, terlibat di dalam jalan dakwah. Nah, itu yang kita inginkan pada diri umat,” pungkasnya. [MNews/Aisyah]
