Krisis Sistemis di Balik Fenomena Work-Life Balance, Gen Z Butuh Solusi Islam

Krisis Sistemis di Balik Fenomena Work-Life Balance, Gen Z Butuh Solusi Islam

Penulis: Juanmartin

Muslimah News, FOKUS — Belakangan ini muncul fenomena gen Z menolak promosi jabatan dan memilih work-life balance dengan alasan kesehatan mental. Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Rahmi Damayanti menilai fenomena tersebut justru menunjukkan adanya pergeseran cara pandang mengenai makna keberhasilan dalam bekerja.

Bagi sebagian gen Z, kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari jabatan atau besarnya tanggung jawab, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Meski demikian, Rahmi menjelaskan bahwa tetap banyak gen Z yang ambisius, tetapi mengharapkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.

Fenomena work-life balance ini pada dasarnya merupakan respons dari sebuah pola kerja yang tidak hanya gagal dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi juga sistem yang gagal. Dalam sistem ini waktu produktif manusia dihargai dalam hitungan jam kerja normatif. Ketika jam kerja selesai, energi pekerja sudah habis untuk bisa menikmati kehidupan sosial atau keluarga secara berkualitas. Lantas, bagaimana gen Z membangun daya kritis pada fenomena ini agar tidak berhenti pada solusi personal, tetapi juga sistemis?

Negara Gagal Menyejahterakan

Memilih untuk menjalani hidup work-life balance merupakan respons yang muncul bukan hanya dari rasa lelah, tetapi juga skeptisisme terhadap makna kesejahteraan. Menjadi pekerja memiliki tantangan tersendiri di tengah sistem kapitalisme saat ini.

Gen Z menyadari bahwa beban yang diberikan dari sebuah jenjang karier tidak berkorelasi dengan kesejahteraan. Hal ini berangkat dari fakta bahwa sulitnya ekonomi hari ini berakibat pada biaya hidup yang kian melangit.

Miris, setinggi apa pun jabatan struktural dan gaji yang diperoleh, semuanya belum mampu menutupi biaya kebutuhan hidup yang terus meroket. Fenomena working poor adalah realitas. Bahkan, saat manusia menjalani hidup ala hustle culture sekalipun, tetap saja kesejahteraan itu jauh panggang dari api.

Tingginya biaya hidup di tengah beban kerja yang berat tidak lepas dari sistem yang mengatur kehidupan manusia. Berdasar pada prinsip pelayanan ala kapitalisme, sektor-sektor vital tidak diposisikan sebagai layanan publik, melainkan sebagai komoditas untuk mencari keuntungan. Upah yang diperoleh pekerja dipertaruhkan untuk membiayai kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier sekaligus.

Dalam sistem ini, kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dll. menjadi barang mewah. Harga dari seluruh kebutuhan ini melambung tinggi karena dikelola dengan prinsip bisnis yang berorientasi pada keuntungan. Walhasil, meski produktivitas kerja terus meningkat secara global, daya beli cenderung jalan di tempat alias stagnan.

Pada saat yang sama, kapitalisme memandang pekerja sebagai faktor produksi. Anggapannya, pekerja akan mendorong pengeluaran biaya dalam bentuk upah, tunjangan, dan jaminan sosial yang dicatat sebagai beban yang mengurangi keuntungan korporasi.

Memilih work-life balance membutuhkan telaah kritis, bukan hanya personal, tetapi juga sistemis. Menjaga kesehatan mental di tengah sistem kapitalisme yang agresif dan eksploitatif tidak hanya membutuhkan kesadaran bahwa hidup dengan menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, hak tubuh, interaksi sosial, dan lainnya harus dibarengi dengan kesadaran mendasar tentang sistem yang sedang berjalan.

Ini karena kesejahteraan hidup tidak hanya ditentukan oleh etos kerja, tetapi juga sistem yang bekerja. Sistem yang tegak saat ini mengarahkan struktur kerja yang eksploitatif dan tidak ramah. Dengan membangun kesadaran ini, work-life balance akan berubah dari sekadar tren estetik di media sosial menjadi sebuah gerakan sadar yang memantik daya kritis para gen Z.

Sekularisme dan Pembentukan Karakter yang Rapuh

Rapuhnya mental pekerja gen Z tampak dari penempatan orientasi kerja hanya pada materi dan kebahagiaan sesaat. Semua itu tidak lepas dari bentukan sistem pendidikan sekuler. Sistem ini telah membuat generasi gagal memahami tujuan hidup dan mengarahkan mereka untuk mengejar kepuasan materi semata. Makna hidup yang terbatas pada hal yang sifatnya artifisial juga membuat mental mereka mudah rapuh. Ketika kesulitan datang, yang dicari hanya pelarian, bukan berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan tuntas.

Di sisi lain, sistem pendidikan saat ini hanya meletakkan agama sebagai aspek ritual belaka, bukan landasan dalam berbuat. Dampaknya, generasi muda kehilangan jangkar spiritual yang sejatinya merupakan spirit sekaligus fondasi kuat dalam menentukan nilai dan tujuan dari suatu aktivitas. Akibatnya, orientasi hidup gen Z bergeser pada konsep hedonisme dan materialisme.

Orientasi materi tidak selalu berwujud tumpukan uang atau aset fisik. Dalam budaya sekuler yang serba instan, materi juga tampil dalam bentuk pengalaman dan validasi emosional. Untuk meredakan beban kerja di kantor, tidak sedikit gen Z yang menganggap bahwa konsumtif adalah imbalan untuk menghargai etos kerja yang dibungkus dalam label self reward.

Membeli barang mewah sering kali menjadi pelarian instan untuk meredakan stres akibat tekanan hidup. Alih-alih mendapatkan ketenangan, fakta ini membawa mereka pada tekanan psikis lainnya akibat haus validasi. Kehidupan yang hanya berputar pada kerja, rumah, dan healing sebagai “obat penenang” tentu tidak menjanjikan kehidupan bahagia yang hakiki. Yang terjadi justru mudah mengalami mental breakdown. Pelarian yang ditempuh kerap menjadi distraksi baru yang memberikan kenyamanan yang sifatnya sesaat semata.

Pendidikan sekuler yang mereka jalani mendesain manusia untuk siap “sekadar” menjadi roda penggerak industri ekonomi. Generasi diajarkan cara bertahan, tetapi tidak diajarkan untuk apa mereka hidup. Mereka terbiasa menilai standar kesuksesan berdasarkan indikator yang bersifat artifisial seperti nilai akademik yang akan berkorelasi pada pekerjaan bagus, gaji besar, dan status sosial terpandang. Walhasil, porsi pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia sebagai hamba Allah menjadi sangat minim.

Solusi Islam Tataran Negara

Kesuksesan dan kesejahteraan sesungguhnya berkorelasi dengan spirit keimanan. Sebabnya, kesuksesan tidak hanya sebatas pada capaian dunia, tetapi juga keterkaitannya dengan kehidupan akhirat kelak.

Dalam hal ini, Islam mengatur perwujudan harmonisasi kehidupan, serta cara-cara manusia untuk mencapai kesejahteraan secara khas yang berpijak pada fitrah manusia demi meraih ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam spirit iman terhadap Sang Khalik.

Islam meletakkan pengaturan agar manusia dapat meraih kesejahteraan secara utuh mulai dari level personal hingga negara. Pengaturan ini bersifat sistemis, berkelindan antara aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, termasuk mendudukkan status sebagai pekerja, proses pengupahan, dan mekanisme negara dalam menjamin kesejahteraan individu rakyatnya.

Sistem ekonomi Islam dijalankan sebagai bentuk pengurusan negara terhadap rakyat untuk menjamin kesejahteraan mereka. Rakyat tidak dibiarkan berjibaku sendiri untuk memenuhi kebutuhan sebab ada negara yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Mekanisme pemenuhan ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Islam memiliki sejumlah sumber pendapatan negara di baitulmal. Pendapatan negara di baitulmal berasal dari tiga sektor. Pertama, kepemilikan individu, seperti zakat, sedekah, dan hibah. Khusus zakat, pengelolaannya harus dipisahkan dari harta negara lainnya. Kedua, kepemilikan umum, yang mencakup SDA seperti pertambangan, minyak, gas, dan hutan. Ketiga, kepemilikan negara, seperti jizyah, kharaj, fai, dan ‘usyur. Jika kas baitulmal mengalami defisit, kewajiban pembiayaan dapat beralih kepada kaum muslim melalui mekanisme yang ditetapkan syariat, termasuk pungutan atau pinjaman sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, Islam memastikan kepemilikan umum seperti SDA dikelola negara untuk seluruh rakyat. Gen Z sebagai bagian warga negara Islam (Khilafah) tidak lagi terimpit biaya hidup yang mencekik. Mekanisme pemenuhan di atas tidak hanya memudahkan rakyat dalam memenuhi kebutuhan primernya, tetapi juga memampukan mereka untuk memenuhi kebutuhan sekunder hingga tersier.

Dengan mekanisme pemenuhan ini, tidak lantas Islam mengabaikan perintah untuk bekerja. Bahkan, Islam mewajibkan para wali terutama kaum laki-laki untuk bekerja mencari nafkah. Bekerja adalah salah satu cara untuk memperoleh harta sehingga harta yang diperoleh dari bekerja dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk.

Islam tidak melarang manusia untuk memperoleh kekayaan. Hanya saja, Islam mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah meraih kebahagiaan hakiki jika hanya mengejar kepuasan jasmani dan naluri semata.

Islam juga mengatur masalah pekerja dengan memandang pekerja sebagai manusia mulia yang wajib diperlakukan adil. Khilafah menjamin upah yang setimpal dengan beban kerja yang manusiawi. Jadi, mengambil tanggung jawab kerja lebih besar tidak terasa sebagai eksploitasi yang merugikan karena terealisasi dalam akad kerja (ijarah) yang dilakukan dengan rida antara pihak pekerja (ajir) dan yang mempekerjakan (musta’jir).

Untuk membentuk mental manusia yang memiliki etos kerja yang tinggi, serta membentuk pebisnis andal yang menempatkan hak pekerja secara manusiawi dibutuhkan proses edukasi baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Semua itu demi membentuk aspek individu manusia yang memiliki etos kerja tinggi dan di saat yang sama memiliki mental baja dalam bekerja.

Pada ranah formal, negara menyelenggarakan pendidikan yang bertujuan untuk mencetak individu berkepribadian Islam. Pendidikan Islam ini meletakkan pemahaman bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk meraih rida Allah. Dalam beraktivitas, manusia wajib menghadirkan pemahaman bahwa Allah senantiasa mengawasinya (idrak silah billah). Adapun pada ranah nonformal, negara hadir dengan melakukan edukasi melalui pemanfaatan media, serta memberdayakan para ulama dan guru untuk mengajarkan umat terkait hukum syarak.

Spirit Takwa dalam Aktivitas Individu

Pemuda Islam adalah profil generasi bertakwa yang visioner, tangguh, dan bercita-cita tinggi. Karakter mereka dibentuk melalui pembinaan akidah Islam yang kukuh. Dengan akidah Islam, mereka memahami visi dan misi penciptaan manusia, yakni sebagai hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Atas dasar ini, karakter yang dibentuk melalui pendidikan Islam akan membentuk pemahaman bahwa ilmu yang dimiliki bukan berorientasi pada diri sendiri, melainkan kontribusinya untuk umat manusia.

Kesuksesan tidak ditentukan pada seberapa banyaknya harta, tetapi kebermanfaatannya untuk manusia. Seluruh keahlian yang dimiliki diniatkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada umat, bukan semata-mata mencari keuntungan materi. Pemahaman ini akan mendorong seorang pemuda muslim untuk memberdayakan diri dan ilmunya untuk kehidupan umat manusia.

Islam membenakkan hal ini melalui tiga pilar utama. Pertama, melalui sistem pendidikan Islam yang menanamkan pemahaman bahwa tujuan hidup seorang muslim adalah meraih rida Allah. Dengan pemahaman ini, sukses tidak diukur dari seberapa banyak materi yang diperoleh dalam bekerja melainkan seberapa berkah hidup yang dijalani. Inilah yang menjadikan generasi muslim bertransformasi menjadi pemuda Islam yang percaya diri dan selalu berupaya memberdayakan diri untuk menjadi pemimpin dalam kebaikan. Dengan pemahaman Islam yang dimiliki, generasi Islam senantiasa bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah dan memahami prioritas amal.

Kedua, dengan mengubah pola pikir mengenai ujian dengan membangun sudut pandang bahwa ujian adalah penggugur dosa. Untuk keluar dari ujian seorang muslim wajib mengedepankan sabar dan meningkatkan rasa syukur. Pada saat yang sama, tetap melakukan berbagai ikhtiar dengan menempuh sebab yang dapat mengantarkan pada cita-cita yang diharapkan.

Seorang muslim wajib memahami bahwa ranah yang ia kuasai adalah aspek ikhtiar. Adapun penentu hasil dari segala ikhtiar adalah Allah Swt. Sikap rapuh, apatis, dan cenderung escapism (lari dari masalah) adalah bukti gagalnya sistem sekuler kapitalisme membentuk karakter generasi. Iming-iming materi yang bersifat fana tidak akan mampu memberikan ketenangan hakiki.

Dalam hal ini, Islam memiliki konsep untuk meraih kesejahteraan hidup. Islam memberi ruang yang luas agar individu muslim mampu memberdayakan diri dan berkontribusi untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Seorang muslim harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah, tetap optimis, tidak mudah putus asa, dan tidak lari dari masalah. Jika yang diikhtiarkan tidak sesuai harapan, sabar dan tawakal adalah sebaik-baik sikap yang layak diambil. Wallahualam bissawab. [MNews/Nind]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *