Muslimah News, INTERNASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menilai, ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi sikap agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran. “Saya melihat hanya dua kemungkinan,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (8-9-2026).
Dua kemungkinan tersebut, menurutnya, pertama, lobi Yahudi di AS untuk kepentingan Isra*l. “Ini betul-betul untuk memuaskan lobi-lobi Yahudi di Amerika, untuk kepentingan Isra*l,” sebutnya.
Ia menuturkan, lobi tersebut turut mendorong upaya mencegah Iran terus bertahan dan makin kuat setelah perang. Pasalnya, ia menerangkan, hampir seluruh negara di Timur Tengah sudah berada dalam kendali mereka, kecuali Iran.
Kedua, dipengaruhi oleh kepentingan industrial warfare atau industri perang. “Mereka memerlukan perang itu untuk bisa terus memproduksi persenjataan, karena hanya dengan perang saja produk mereka itu akan dipakai,” katanya.
Industri perang tersebut, lanjutnya, terhubung dengan para elit dan pejabat-pejabat politik di Amerika.
Ia pun menilai, jika dua kemungkinan tersebut benar-benar yang melatarbelakangi kebijakan pemerintah AS, khususnya Trump, maka kebijakan itu sangat merusak karena hanya ditujukan untuk kepentingan segelintir orang, bukan publik Amerika.
UIY menambahkan, meningkatnya eskalasi dapat memberi keuntungan bagi industri perang, tetapi di sisi lain meningkatkan tekanan ekonomi terhadap publik AS. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan trade-off (pertukaran kepentingan).
Hal tersebut, terangnya, akan menjadi problem tersendiri karena pemerintahan Trump dinilai lebih membela kepentingan elite yang dekat dengan kekuasaan, khususnya mereka yang terhubung dengan industri perang.
“Jadi dalam hal ini ya terus saja perang dilakukan untuk bisa memberikan keuntungan besar kepada mereka yang terlibat di dalam atau yang terhubung dengan industrial warfare itu,” tuturnya.
Ending perang, ungkapnya, sangat sulit diprediksi karena pemerintahan Trump mengklaim akan menang perang melawan Iran, meskipun faktanya belum tentu demikian.
Jika klaim itu benar, lanjutnya, Trump ingin mengganti nama Iran dengan nama yang lain. “Itu juga tidak akan mungkin. Iran akan mengatakan, kalau begitu Los Angeles kita ganti juga, kita klaim,” terangnya.
Jadi, tambahnya, makin Trump ngotot, makin sulit baginya untuk keluar dari kebijakan tersebut. “Sebab, satu-satunya alasan untuk keluar ketika dirinya menang, sementara tidak ada bukti bahwa Trump telah menang,” ucapnya.
Namun, ujarnya, yang terjadi justru Iran itu makin agresif. “Ketika agresif, itu justru akan makin memberikan alasan kepada sekutunya di Timur Tengah bahwa enggak ada gunanya dekat dengan AS kalau seperti ini. Karena faktanya, AS tidak melindungi mereka. Jangankan lagi melindungi mereka, melindungi pangkalan militer yang ada di negara mereka pun AS tidak bisa,” bebernya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbahaya. “Di masa yang akan datang mereka akan berkesimpulan, tidak ada untungnya bersekutu dengan negara kafir penjajah seperti itu, apalagi kemudian dilihatnya ada Isra*l yang terus saja melakukan kezaliman di Jalur Gaza atau Palestina secara umum,” jelasnya.
Ia menilai, Trump akan berada dalam posisi sulit karena apa pun langkah yang diambil, baik maju maupun mundur, sama-sama berisiko. “Jadi saya kira, kalau bahasa sehari-hari kita ‘maju kena mundur kena’ buat Trump,” pungkasnya. [MNews/Aisyah]
