[Kabar] Perjanjian Nuklir AS-Arab Saudi Memperkuat Dominasi AS di Timur Tengah

[Kabar] Perjanjian Nuklir AS-Arab Saudi Memperkuat Dominasi AS di Timur Tengah

Muslimah News, INTERNASIONAL — Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil pada Rabu (22-7-2026). Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kerja sama tersebut mensyaratkan Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accord, yakni menormalisasi hubungan dengan Zion*s Yahudi.

Merespons hal di atas, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai, ketika perjanjian nuklir dikaitkan dengan Abraham Accord berarti tidak murni perjanjian energi nuklir. “Jadi, dikaitkannya perjanjian dengan Abraham Accord ini menunjukkan bahwa perjanjian energi nuklir ini bukanlah perjanjian murni tentang energi, tetapi adalah keinginan AS untuk lebih memperkuat dominasinya di Timur Tengah,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (4-8-2026).

Farid berargumen, kebijakan AS di Timur Tengah adalah untuk mendorong negara-negara yang ada di sana mengakui eksistensi penjajah Yahudi yang sering disebut dengan normalisasi. “Ini tentu akan menguntungkan Zion*s Yahudi karena setiap normalisasi dengan penjajah Yahudi berarti mengakui eksistensi penjajah Yahudi dan sekaligus membenarkan tindakan-tindakan kejahatannya, melakukan genosida terhadap Palestina,” jelasnya.

Kepentingan AS

Perjanjian nuklir ini, kata Farid, jelas untuk kepentingan AS. ”Pertama, mempertahankan pengaruh strategis AS di Timur Tengah. Kedua, membatasi pengaruh negara lain. AS sangat khawatir jika Arab Saudi bekerja sama dengan Rusia atau Cina untuk mengembangkan kemampuan nuklirnya. Ketiga, menerapkan standar nonproliferasi,” terangnya.

Namun, ucapnya, standar nonproliferasi ini sesungguhnya adalah standar ganda yang digunakan AS untuk mengendalikan negara lain. “Di satu sisi AS mengatakan, negara lain tidak boleh memiliki dan mengembangkan nuklir, tetapi AS adalah negara yang terus mengembangkan senjata nuklirnya. AS dan Rusia menguasai 90% nuklir dunia, tetapi negara-negara lain dicegah untuk memilikinya,” kritiknya.

Jadi, menurut Farid, standar nonproliferasi itu sebenarnya alat AS untuk mengendalikan pemilikan nuklir yang dianggap mengancam AS. ”Ini jelas standar ganda,” ucapnya.

Menakutkan Musuh

Farid menjelaskan, bagi kaum muslim membangun senjata nuklir saat ini bukan perkara mudah karena pasti akan mendapat pengawasan dari AS. ”Namun, Islam memerintahkan untuk mengembangkan persenjataan yang membuat musuh-musuh Allah Swt. itu takut,” tegasnya.

Ia mengutip firman Allah Swt. dalam QS Al-Anfal: 60, ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah.”

”Jadi, kita umat Islam itu diperintahkan untuk mengembangkan persenjataan yang membuat musuh-musuh Allah Swt. itu takut dan ini adalah untuk kekuatan umat Islam. Tentu saja ketika mengembangkan persenjataan nuklir, tidak boleh memberikan celah bagi negara lain terutama negara-negara imperialis untuk mengendalikan umat Islam,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *