[Kabar] Belajar Islam Harus Lewat Pembinaan Langsung

[Kabar] Belajar Islam Harus Lewat Pembinaan Langsung

Muslimah News, NASIONAL — Di era digital, mau belajar apa saja terasa mudah, tinggal search lewat Google atau YouTube. Akibatnya, banyak yang berpikir belajar Islam bisa otodidak, bermodal bacaan artikel, atau potongan video tanpa bimbingan seorang guru.

Menanggapi hal tersebut, aktivis dakwah Noval Tawang menegaskan bahwa belajar Islam itu butuh guru karena harus lewat pembinaan secara langsung. “Jadi, belajar Islam itu harus lewat pembinaan secara langsung,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (26-7-2026).

Ada Pembinaan

Noval menyampaikan, belajar Islam dengan pembinaan secara langsung telah dicontohkan Rasulullah saw. yang telah mendidik para sahabat, membina mereka dalam sebuah kelompok, yakni dengan melakukan halqah di rumah Arqam bin Abi Arqam.

“Ya memang isinya 70-an orang ya dan kelompok halqah itu ada gurunya. Siapa yang berperan sebagai guru? Ya, Rasulullah saw. Kemudian ada muridnya. Siapa muridnya? Ya para sahabat. Juga di situ saling mengingatkan,” ujarnya.

Jadi, terangnya, Rasulullah saw. tidak hanya menyampaikan hukum yang sifatnya teori, tetapi memastikan bahwa hukum yang beliau sampaikan itu sampai tataran diamalkan oleh para sahabat.

“Kesimpulannya, justru kalau hanya belajar sendiri lewat online ini akan menjadikan kita itu berat di dalam amal. Kenapa? Karena tidak ada yang akan memverifikasi, apakah yang kita kerjakan tadi itu sudah benar ataukah belum,” terangnya.

Noval menuturkan, pada masa Rasulullah saw, para sahabat yang tergabung dalam jemaah dakwah belajar langsung kepada beliau. Setelah menerima ilmu, mereka segera mengamalkannya. Kemudian, mereka kembali bertemu dengan Rasulullah saw. untuk mendapatkan bimbingan dan pembelajaran berikutnya.

“Jadi, ada kontinyuitas pertemuan, ada kontinyuitas di dalam pemastian amal-amal itu. Dan di antara mereka yang ada dalam jemaah tadi itu juga saling mengingatkan,” ucapnya.

Menurut Noval, umat Islam harus mencontoh apa yang dilakukan para sahabat. Jika menginginkan pahala besar dari Allah Swt. sebagaimana yang diberikan kepada para sahabat, jelasnya, maka seorang muslim juga harus menempuh jalan yang sama, yaitu mencari ilmu dan mencari gurunya.

Menuntut Pengamalan

Terkait belajar Islam secara online, Noval menilai, hukum memanfaatkan internet untuk belajar itu boleh karena memang sekarang banyak sekali yang menggunakan internet. “Cuma kalau kita lihat, sebenarnya Islam itu lil amal (ilmu yang kita pelajari menuntut adanya pengamalan),” sebutnya.

Jadi, lanjut Noval, tujuan mempelajari ilmu itu bukan sekadar pengetahuan dan wawasan, tetapi menuntut pada amal. “Bagaimana kemudian dua hal tadi, yakni belajar kemudian kita paham, kemudian mengamalkan. Nah itu menjadi amal saleh,” imbuhnya.

Amal saleh inilah, terang Noval, yang nanti akan menjadi bagian-bagian dan untuk membentuk kepribadian Islam. “Jadi, seorang muslim itu, ketika tujuannya belajar, yaitu membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, kalau hanya lewat online, mungkin dari sisi pola pikirnya bisa terbentuk, tetapi apa pola sikap itu bisa terbentuk?” tanya Noval.

“Itu sangat tidak mungkin karena tidak ada yang mengarahkan, tidak ada yang membimbing dan tidak ada yang mengingatkan ketika kita itu memiliki pola pikir dan pola sikap yang belum sesuai dengan Islam,” jawabnya.

Ia menjelaskan bahwa kewajiban syariat, seperti salat, tidak cukup dipahami secara teori, tetapi juga harus dipelajari tata cara pelaksanaannya dengan benar melalui bimbingan guru.

“Ketika Allah Swt. mewajibkan shalat, maka ia harus belajar bagaimana tata cara salat yang benar. Sebenarnya, kalau kita sekolah, dari SD, sebenarnya kan ada praktik salat,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran secara online memiliki keterbatasan karena tidak ada yang dapat memastikan apakah gerakan salat seseorang sudah benar atau belum. “Belum lagi kaitannya dengan gerakan tertentu, misalnya takbir, ada yang mengangkat tangan dan ada yang tidak. Nah, itu perlu belajar secara offline juga dan itu butuh guru,” jelasnya.

Bahkan, menurut Noval, ketika berbicara teknologi, hakikatnya merupakan salah satu nikmat yang Allah Swt. berikan kepada manusia. Jika dimanfaatkan dengan benar, teknologi dapat menjadi sarana untuk makin mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Misalnya internet, kita bisa mengakses ribuan-ribuan kitab yang kita bisa belajar di situ,” ujarnya.

Misalkan juga ada tugas dari guru agama, ucapnya, kemudian diminta untuk presentasi tentang para sahabat. “Nah, di situ kan bisa kita itu mendengarkan ceramahnya para ulama yang ada di dalam Yuotube-Youtube itu, atau di media sosial itu tadi, atau kita dengarkan tafsir-tafsir mereka, kajian-kajian tafsir, kemudian kajian-kajian hadis, itu nikmat yang sangat luar biasa,” terangnya.

Namun, Noval mengingatkan, sebagian besar hukum syariat menuntut pelaksanaan secara nyata sehingga tidak cukup hanya dipelajari melalui online, harus ada pemastian bahwa itu dikerjakan dengan benar.

Tidak Cukup Membentuk Kepribadian Islam

Noval pun menegaskan, kajian Islam secara online tidak cukup untuk membentuk kepribadian Islam. Menurutnya, seseorang mungkin saja mendengarkan materi kajian, tetapi belum tentu mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.

“Jadi kalau kita hanya mengikuti di kajian online, untuk bisa menyempurnakan kewajiban-kewajiban yang diberikan Allah Swt. kepada kita, jelas tidak bisa,” ujarnya.

Menurutnya, seorang Muslim tetap harus mencari guru yang dapat membimbing sekaligus memastikan bahwa ibadah dan amalan yang dilakukan telah sesuai dengan tuntunan syariat.

“Harus cari guru, kemudian memastikan pelaksanaannya tadi itu benar. Kadang-kadang, meski kita sudah dapat teorinya, tetapi ketika amalnya itu belum dikerjakan, berarti ia belum memenuhi kewajibannya yang telah ditetapkan oleh Allah itu,” tegasnya.

Noval juga mengingatkan bahwa Allah Swt. memerintahkan setiap muslim untuk terikat dengan hukum syariat serta memerintahkan kita untuk berlindung dari penyimpangan-penyimpangan dalam memahami ilmu agama.

“Jangan sampai kita itu beramal tanpa ilmu. Kemudian, kita juga jangan sampai punya ilmu, tetapi tidak beramal,” pungkasnya.[MNews/SA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *