Penulis: Kholidah Wahyuni
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Asma’ binti Umais bin Ma’bad bin al-Harits al-Khats’amiyyah termasuk golongan orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah ﷺ mendatangi kediaman Al-Arqam bin Abi al-Arqam. Ia adalah istri dari Ja’far bin Abi Thalib. Mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Abdullah, Muhammad, dan ‘Aun.
Asma’ ikut hijrah bersama suaminya. Kemudian, ia hijrah lagi bersamanya ke Madinah pada tahun ke-7 H. Salah satu keutamaan yang diabadikan oleh sejarah adalah berita gembira yang pernah diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya bahwasanya orang-orang hanya berhijrah satu kali, sedangkan Asma’ berhijrah dua kali.
Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab sahihnya. “Ketika Asma’ datang dari Habsyah, Umar berkata kepadanya, ‘Wahai wanita Habsyah, kami lebih utama daripada kalian karena kami hijrah ke Madinah lebih dahulu dari kalian.’ Asma’ pun lalu berkata, ‘Demi Allah, engkau tidak benar. Kalian berada bersama-sama dengan Rasulullah ﷺ yang memberi makan kepada orang yang kelaparan di antara kalian, serta mengajari orang yang bodoh di antara kalian. Sedangkan kami berada di negeri yang jauh dan terusir. Demi Allah, aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah.’ Asma’ segera mendatangi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, ‘Orang-orang hanya berhijrah satu kali, sedangkan kalian berhijrah dua kali.'”
Sayidah mulia ini meraih kemuliaan karena berhijrah dua kali dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya. Bukan hanya dalam hal hijrah dan jihad, beliau juga memiliki keutamaan luas dan kekuatan luar biasa yang telah mendorongnya untuk keluar demi melaksanakan ibadah haji bersama Rasulullah ﷺ. Padahal, saat itu beliau sedang hamil tua dan terpaksa melahirkan di wilayah Dzulhulaifah.
Diriwayatkan dari Jabir, hadis tentang Rasulullah ﷺ berhaji, “Ketika sampai di Dzulhulaifah, Asma’ bin Umais melahirkan putranya, Muhammad bin Abu Bakar. Asma’ lalu mengirimkan utusan untuk menanyakan kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang harus dilakukannya (karena melahirkan itu). Beliau ﷺ pun lalu bersabda, ‘Mandi dan pakailah kain pembalutmu, lalu pakailah pakaian ihrammu kembali.'”
Allah Swt. pun telah memuliakan Asma’ bin Umais melalui pernikahan. Setelah suaminya, Ja’far bin Abi Thalib, gugur sebagai syuhada, Asma’ pernah menikah dengan dua orang khalifah, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Asma’ telah menjadi seorang istri yang baik untuk keduanya.
Begitu besar cinta Abu Bakar kepada Asma’, sampai-sampai beliau berwasiat agar Asma’ yang akan memandikannya ketika beliau meninggal dunia. Asma’ pun memenuhi permintaan itu. Ia memandikan jenazah suaminya.
Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq meninggal dunia, Asma’ menikah lagi dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib, lalu melahirkan putra-putranya, Yahya dan ‘Aun.
Kisah lain yang menunjukkan keagungan Asma’ dan kemuliaannya sebagaimana yang diriwayatkan dari Zakaria bin Abi Za’idah. Ia berkata, “Aku pernah mendengar Amir mengatakan bahwa Ali menikahi Asma’ bin Umais. Kemudian kedua anaknya, Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far, saling menyombongkan dirinya. Mereka mengatakan, ‘Aku lebih mulia darimu. Ayahku lebih baik dari ayahmu.’
Amir mengatakan bahwa Ali lalu berkata kepada Asma’, ‘Tengahilah mereka berdua.’ Asma’ pun berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pemuda dari bangsa Arab yang lebih baik daripada Ja’far. Aku pun tidak pernah melihat lelaki tua yang lebih baik daripada Abu Bakar.’
Kemudian Ali berkata, ‘Engkau tidak menyisakan apa pun untuk kami. Seandainya engkau mengatakan jawaban yang lain, pasti aku sudah marah kepadamu.’ Asma’ pun berkata, ‘Sesungguhnya di antara tiga orang pilihan, kebaikanmu masih di bawah kebaikan mereka. Maksudnya, kebaikanmu paling sedikit di antara ketiga orang pilihan. Akan tetapi, kalian bertiga merupakan orang-orang pilihan dan mulia.’ Ali pun memujinya dan lebih mengutamakannya daripada istrinya yang lain.”
Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga. Pertama, besarnya daya juang Asma’ dalam membela agama Allah, sehingga ia ikut hijrah dua kali, yakni ke Habsyah dan Madinah. Adapun kebanyakan orang hanya ikut hijrah satu kali.
Kedua, Asma’ bin Umais adalah wanita yang kuat. Kekuatan itu muncul karena dorongan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau pun rela melaksanakan ibadah haji bersama Rasulullah dalam kondisi hamil tua, sampai-sampai ia melahirkan dalam perjalanan di wilayah Dzulhulaifah. Kondisi hamil tua tidak menghalangi Asma’ untuk memenuhi panggilan Allah Taala.
Ketiga, Asma’ merupakan wanita yang cerdas, bijaksana, dan berpemikiran baik. Beliau mampu menyelesaikan perdebatan di antara anak-anaknya tanpa membeda-bedakan mereka terkait keutamaan ayah-ayah mereka.
Keempat, walaupun Asma’ pernah menikah tiga kali dari kalangan sahabat dan dua di antaranya adalah khalifah, Asma’ mampu memuliakan masing-masing suaminya yang memiliki banyak keutamaan, tanpa merendahkan salah satunya.
Semoga para muslimah hari ini mampu mengikuti jejak Asma’ bin Umais, wanita mulia, bijaksana, dan pejuang sejati yang mampu mendudukkan kemuliaan masing-masing suaminya hingga mereka rida kepadanya. [MNews/YG]
