Muslimah News, INTERNASIONAL— Kantor media pemerintah di Gaza menerbitkan statistik dan fakta yang mengkhawatirkan tentang kondisi kemanusiaan, kehidupan, pelayanan, serta kehancuran yang ditimbulkan di Jalur Gaza setelah seribu hari genosida yang dilakukan oleh entitas Yahudi sejak 7 Oktober 2023. Lebih dari 21.500 anak telah menjadi martir, termasuk 1.022 bayi, dan jumlah total martir telah meningkat menjadi 73.066. Jumlah korban luka telah mencapai 173.514, termasuk lebih dari 44.500 anak-anak. Sementara itu, sekitar 9.500 orang masih hilang, diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Kantor media tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 90% bangunan di Jalur Gaza telah hancur.
United Nations Children’s Fund (UNICEF) melaporkan bahwa lebih dari 11.000 anak telah menderita cedera yang mengubah hidup mereka, termasuk hingga 4.000 orang diamputasi, banyak di antaranya dilakukan dalam kondisi medis yang sangat sulit. Data dari kantor media pemerintah juga menunjukkan bahwa 460 orang meninggal karena kekurangan gizi, termasuk 164 anak-anak, di samping kematian 28 pengungsi, sebagian besar anak-anak, akibat suhu rendah di dalam kamp pengungsian.
Menurut laporan, lebih dari 2.700 keluarga musnah sepenuhnya, sementara hanya satu orang yang selamat dari 6.020 keluarga. Jumlah anak yatim piatu meningkat menjadi lebih dari 58.800, termasuk 2.700 anak yang kehilangan kedua orang tua, sementara jumlah janda mencapai 26.370 perempuan.
Bersekongkol
Menyikapi hal tersebut, juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional angkat bicara. “Sekalipun Gaza tidak ada atau dihilangkan dari layar kita; sekalipun hiruk pikuk stadion (piala dunia) menenggelamkan suara pemboman, jeritan kesakitan, dan kehilangan; perang genosida, pengepungan, dan kelaparan terus berlanjut. Trump dan apa yang disebut Board of Peace (BoP) atau ‘Dewan Perdamaiannya’ terus merencanakan dan bersekongkol melawan rakyat Gaza. Wahai umat muslim dan pasukannya! Tunjukkan kepada Allah Swt. kekuatan sejati kalian! Arena jihad dan kepahlawanan sejati memanggil kalian, bukan dalam arena stadion dan kepahlawanan palsu!” ujarnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (8-7-2026).
Lebih dari seribu hari genosida dan kekejaman, lanjutnya, telah menjadi saksi keterlibatan sistem internasional serta lembaga-lembaganya, terutama Amerika Serikat dalam menyediakan senjata mematikan dan kucuran dana sehingga menjadi mitra dalam genosida ini. “Wahai kaum muslim! Barang siapa mengira bahwa perang di Gaza telah berakhir; darah orang tidak berdosa telah diampuni; kehilangan dan penderitaan telah berhenti; kelaparan telah lenyap selamanya; dan entitas Yahudi telah mematuhi perjanjian atau gencatan senjata apa pun, maka ia keliru,” tegasnya.
Ia menjelaskan, seribu hari genosida dan kekejaman telah meninggalkan angka dan statistik mengerikan. “Ini menjadi bukti kebrutalan orang Yahudi, yang tidak menyisakan manusia, pohon, atau batu sekalipun, bahkan janin dalam rahim ibu mereka,” ucapnya.
Zion*s Yahudi, ujarnya, menghujani penduduk dengan sejumlah bom dan bahan peledak yang setara dengan dua bom nuklir, menghancurkan setiap aspek kehidupan, seperti rumah, infrastruktur, sekolah, universitas, rumah sakit, pusat kesehatan, masjid, tempat penampungan, bahkan tenda pengungsi.
Seribu hari pembantaian, ungkapnya, menjadi saksi pengkhianatan, konspirasi, dan kebejatan para penguasa muslim, terutama negara-negara tetangga yang tidak berbuat apa pun untuk menghentikan genosida ini. “Lebih buruk lagi, mereka bertindak sebagai ‘Iron Dome’, melindungi entitas tersebut, membuka wilayah udara mereka agar entitas itu dapat melakukan kejahatannya. Mereka memasok bantuan berupa makanan, bahan bakar, dan pakaian, sementara secara bersamaan mengepung penduduk Gaza dan menjaga perbatasan entitas Yahudi yang merebut kekuasaan tersebut,” paparnya.
Belum Sebanding
Selama ini, tambah jubir, tindakan umat Islam belum sebanding dengan keseriusan situasi. “Mereka terbuai oleh kata-kata kosong dan solusi yang tidak membawa keadilan bagi yang tertindas maupun menghalangi musuh. Hal itu mengalihkan perhatian dari kebutuhan untuk menuju istana penguasa dan menggulingkan tahta mereka, dan dari kebutuhan untuk pergi ke barak untuk mengingatkan militer akan tugas mereka untuk membongkar perbatasan dan melenyapkan entitas Yahudi,” bebernya.
Ia prihatin, seribu hari telah berlalu, tetapi pasukan kaum muslim yang memiliki sumber daya, peralatan, dan perbekalan yang memungkinkan mereka untuk melenyapkan entitas Yahudi, seperti pasukan Mesir dan Turki, belum tergerak untuk membela muslim Gaza yang terus dibantai. “Bukankah sudah waktunya bagi mereka untuk menyingkirkan debu penghinaan dan aib; untuk membebaskan diri dari ketaatan kepada ciptaan menuju ketaatan kepada Sang Pencipta; dan untuk menyingkirkan rasa malu dan aib dunia ini dan akhirat?” pungkasnya. [MNews/IK]
