Muslimah News, NASIONAL — Tindakan pembubaran diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dilakukan oleh mahasiswa pada Senin (15-6-2026) malam. Acara diskusi itu dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wamentan Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Jubir mahasiswa UGM, Gladwin, mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan secara kolektif. Mereka menyatakan, yang terjadi saat aksi itu merupakan bentuk ekspresi kekecewaan terhadap pemerintah yang berulang kali melakukan penindasan kepada rakyat.
Ini merupakan kelanjutan dari gelombang protes mahasiswa bertema “Menuju Indonesia Bangkrut” sejak 12 Juni 2026 yang dipicu oleh akumulasi keluhan mahasiswa atas serangkaian kebijakan ekonomi pemerintah.
Erosi Kepercayaan Publik
Aktivis muslimah Dr. Fika Komara menyatakan, peristiwa tersebut bukan hal mengejutkan. “Erosi kepercayaan publik—khususnya di kalangan pemuda—terhadap pemerintah dan sistem politik di Indonesia sudah terlihat jelas dalam survei awal tahun 2025 oleh ISEAS – Yusof Ishak Institute berjudul ‘Pemuda dan Keterlibatan Sipil di Asia Tenggara: Survei Mahasiswa di Enam Negara’,” ujarnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (21-6-2026).
Dalam studi tersebut, ungkapnya, disebutkan bahwa mayoritas responden Indonesia (53,9%) memiliki pandangan pesimistis dan menilai situasi politik negara sebagai sangat cacat. “Namun, Indonesia tidak sendirian di kawasan ASEAN. Indonesia diikuti oleh 47,3% pemuda Tailan yang memandang politik negara mereka secara negatif, kemudian Filipina dengan 41,9%,” tuturnya.
Pesimisme yang meluas ini, lanjutnya, berakar dari kenyataan bahwa masyarakat hidup pada era distopia. “Ini ditandai dengan kehidupan yang menyesakkan, penuh dengan penderitaan, ketidakadilan, dan kekacauan akibat disfungsi sistemis kepemimpinan politik,” ucapnya.
Selain itu, tambah Fika, munculnya rezim ruwaibidhah (tidak kompeten dan penuh tipu daya) di seluruh negeri muslim, termasuk Indonesia, telah memperburuk situasi. “Kondisi ini secara efektif menghancurkan moral generasi muda dan meredam optimisme mereka terhadap masa depan,” jelasnya.
Butuh Bimbingan Islam
Lebih jauh lagi, ujar Fika, pesimisme adalah produk sampingan yang tidak terhindarkan dari kehidupan sekuler yang mengesampingkan akidah Islam. “Ibarat lapisan kegelapan yang membentuk labirin tidak berujung, umat Islam sangat membutuhkan bimbingan Islam untuk menavigasi arah masa depan mereka yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akhirat,” urainya mengutip QS Ghafir: 58, “Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran.”
Oleh karena itu, Fika menegaskan, menawarkan visi islami untuk perubahan sangat penting sebelum gerakan pemuda menyerah pada frustrasi dan anarki. Visi islami, imbuhnya, memberikan cita-cita perubahan yang berakar pada iman dan bashirah, kemampuan membedakan yang mendalam terhadap yang hak dan yang batil. “Hal ini memungkinkan kaum muda untuk membayangkan profil kepemimpinan politik yang sebenarnya dalam Islam, bagaimana kekuasaan dapat dijalankan dengan adil dan kuat tanpa penyalahgunaan kekuasaan, dan bagaimana kekayaan masyarakat dapat dikelola dan didistribusikan secara adil, bebas dari ekonomi riba, dan perebutan proyek oligarki,” paparnya.
Bashirah ini, jelasnya, lahir dari pemahaman mendalam tentang sistem Islam yang menawarkan solusi komprehensif. “Ketika dibandingkan dengan sistem sekuler kapitalisme, keunggulan konseptual Islam menjadi jelas, memungkinkan umat Islam untuk mengenali perbedaan yang mencolok melalui lensa fitrah manusia (kodrat bawaan),” ujarnya.
Memupuk bashirah ini, ujarnya, dapat dimulai dengan memperkenalkan konsep-konsep Islam ke dalam wacana publik melalui metode yang membangkitkan imajinasi kaum muda yang berfungsi sebagai katalisator untuk perubahan nyata dalam masyarakat.
Dakwah
Tentu saja, Fika mengingatkan, visi perubahan ini hanya dapat disampaikan secara sistematis melalui dakwah Islam. “Tujuannya untuk memulihkan pemerintahan Islam di bawah naungan lembaga global, yaitu Kekhilafahan Islam, yang dilengkapi infrastruktur ideologis dan kerangka kerja politik-ekonomi yang lengkap,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia menyampaikan, sangat penting untuk mendidik generasi muda muslim melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan realitas mereka. “Hal ini memastikan pikiran mereka tidak dibajak oleh pelarian religius yang apolitis maupun gerakan anarkis yang lahir semata-mata dari rasa frustrasi,” cetusnya.
Visi islami, terangnya, akan memupuk generasi muda muslim yang tangguh dan tetap teguh di tengah ketidakpastian. “Dibimbing oleh cahaya iman, mereka menemukan kejelasan di jalan yang terbentang di hadapan mereka dan berpegang teguh pada Allah Yang Maha Esa, sumber kepastian tertinggi. Diberdayakan oleh keyakinan ini, mereka mengembangkan keberanian kreatif, optimisme yang tidak tergoyahkan, daya kritis, dan keterlibatan aktif dalam keprihatinan besar umat Nabi Muhammad saw. terhadap kondisi saat ini,” bebernya.
Generasi seperti itu, tandasnya, akan mendekati masa depan bukan dengan rasa takut atau putus asa, tetapi dengan keyakinan, tujuan, dan harapan sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah: 3, “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” [MNews/RA]
