[Kabar] Muslimahpreneur Jawa Tengah Bangkit Berjuang Menghadapi Guncangan Ekonomi Global

[Kabar] Muslimahpreneur Jawa Tengah Bangkit Berjuang Menghadapi Guncangan Ekonomi Global

Muslimah News, LENSA DAERAH – Ratusan peserta dari berbagai kota di Jawa Tengah hadir secara daring dan luring dalam acara Muslimah Entrepreneur Forum (MEF) bertema “Muslimahpreneur di Tengah Guncangan Ekonomi: Terpuruk atau Bangkit?” pada Ahad (10-5-2026).

Acara ini dilaksanakan merespons guncangan ekonomi global yang makin menekan masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah. Kenaikan harga kebutuhan pokok, persaingan usaha yang tidak seimbang, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan nyata yang dirasakan masyarakat hari ini. Muslimah sebagai bagian penting dalam keluarga dan dunia usaha dipandang memiliki peran strategis untuk tetap bertahan bahkan bangkit menghadapi situasi tersebut.

Dalam acara ini, aktivis dakwah dan pemerhati ekonomi Ratih Respatiyani, S.E.Ak. sebagai keynote speaker menyoroti kondisi dunia usaha yang makin tidak stabil akibat pengaruh sistem global. “Muslimahpreneur menghadapi dunia yang makin hari makin tidak menentu. Kita sedang melihat dunia ini dikendalikan oleh sistem global yang rapuh, bahkan UMKM pun dipengaruhi oleh kondisi politik global,” ungkapnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya untuk tetap memiliki semangat bangkit di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ia memandang, muslimah seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang terdampak krisis, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang mampu membangun ketahanan keluarga dan masyarakat melalui usaha serta kontribusi nyata di tengah umat.

“Hari ini semangat itu harus kembali dihidupkan karena kebangkitan umat tidak lahir dari sikap yang apatis. Tidak akan lahir dari orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Kebangkitan akan lahir dari orang-orang yang sangat peduli. Orang-orang yang sadar dan mau bergerak bersama dengan Islam,” imbuhnya.

Gagal

Acara yang dipandu Lestari Admojo, M.Sc. tersebut menghadirkan narasumber pertama Ustazah Adila Nahdi yang juga seorang pelaku usaha senior dari Kota Purwokerto. Dalam paparannya, Ustazah Nadila menunjukkan bukti bahwa sistem kapitalisme hari ini gagal melindungi pengusaha kecil dan ekonomi umat. “Kesulitan hidup hari ini menjadi refleksi dari masalah mendasar yang belum tertangani. Tidak lain karena manusia tidak meyakini aturan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, realitas menunjukkan hari ini banyak orang yang lebih memilih menjadi ‘hamba uang’ dibandingkan menjadi hamba Allah Taala. Akibatnya, kerusakan demi kerusakan terjadi dan kesulitan hidup kian mengimpit umat,” urainya.

Ia menjelaskan, dominasi ekonomi global berdampak pada dunia usaha di negara berkembang. Melalui mekanisme pasar bebas, utang luar negeri, hingga dominasi dolar, lanjutnya, pengusaha kecil disebut berada dalam posisi terjepit karena harus bersaing dengan korporasi besar tanpa perlindungan yang memadai. “Kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan yang dinilai lebih berpihak pada pemilik modal dibanding masyarakat kecil. Negara hari ini menjadi pihak yang sama sekali tidak berpegang teguh pada aturan Allah Taala. Akibatnya fatal, sistem menjadi rapuh, janji tinggal janji,” tuturnya.

Peran negara hari ini, ungkapnya, jelas berbeda dengan prinsip politik Islam yang sangat menekankan sifat amanah dan pengelolaan urusan umat yang sesuai panduan syariat. “Pemimpin dalam Islam takut kepada perhitungan Allah Taala sehingga mereka tidak akan berani menyulitkan rakyat dan memperkaya sebagian orang. Sistem Islam fokus pada keadilan dan kesejahteraan seluruh umat. Kekayaan alam dalam pandangan syariat adalah milik umat dan dikelola negara sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat,” jelasnya.

Arah Kebangkitan

Narasumber kedua, aktivis dakwah drg. Luluk Sayyidah menyampaikan pentingnya memahami arah kebangkitan yang ingin diwujudkan sesuai Islam. “Kita bangkitnya ke mana dan seberapa? Situasi yang kita rasakan (saat ini) pernah terjadi pada masa jahiliah. Para petinggi Quraisy itu sak karepe, rakyat terzalimi. Akhirnya Rasulullah saw. fokus mengajak para sahabatnya untuk memahamkan Islam dan menerapkan syariat,” terangnya.

Kemudian, ujarnya, Rasulullah saw. terus mengembangkan dakwah hingga keadaan berubah dari jahiliah menjadi masyarakat yang beradab. “Perubahan tersebut terjadi karena seluruh tokoh umat memiliki fokus perjuangan yang sama. Kuncinya adalah seluruh tokoh umat fokus pada satu agenda, yaitu berislam kafah dan berjuang menegakkan Daulah Islam di Madinah,” tuturnya.

Siapa pun itu, tegasnya, seperti Abu Bakar yang pengusaha, Umar bin Khaththab yang penguasa, Mus’ab bin Umair yang pemuda, Thufail bin Amr yang intelektual, dan para muslimahnya turut fokus bersama. “Ini karena Islam memiliki konsep ekonomi yang menyeluruh dan tidak memisahkan agama dari kehidupan. Aktivitas usaha dipandang bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi bagian dari ibadah dan sarana membangun kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.

Dalam acara ini, panitia berharap bahwa peserta tidak hanya memahami tantangan ekonomi yang sedang terjadi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membangun ketahanan umat dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. “Tema ‘Terpuruk atau Bangkit?’ menjadi pengingat bahwa di tengah guncangan ekonomi, muslimah tetap memiliki peluang untuk bangkit, bertahan, dan mengambil peran perubahan di tengah masyarakat,” tutup panitia. [MNews/Kontributor daerah: Sn-Any/Jateng]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *