Muslimah News, INTERNASIONAL — Perlakuan petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika (ICE) terhadap perempuan dan anak-anak dalam tahanan imigrasi di Amerika Serikat (AS) sangat tidak manusiawi. Telah ada kasus-kasus pelecehan seksual, fisik, dan mental yang terdokumentasi selama beberapa dekade, dan kasusnya terus meningkat akhir-akhir ini. Hal tersebut karena adanya peningkatan penangkapan dan penahanan imigran sejak Donald Trump terpilih menjadi presiden pada 2024 dan itu adalah salah satu janji kampanyenya.
Rachana Desai Martin, Kepala Program AS di Center for Reproductive Rights (Repro) berkata, “Apa yang kami dengar dari perempuan hamil dan pasca-melahirkan dalam tahanan ICE sangat mengejutkan. Mereka diborgol ke tempat tidur, ditolak perawatan prenatal yang diinginkan, dan dibiarkan sendirian hingga mengalami keguguran. Ibu menyusui dipisahkan dari anak-anak mereka dan dideportasi. Ini tidak manusiawi.”
Seperti yang dilaporkan oleh Repro, “Seorang wanita hamil mengalami pendarahan selama berhari-hari sebelum dibawa ke rumah sakit. Ia ditinggalkan sendirian di sebuah ruangan tanpa air atau bantuan medis selama lebih dari 24 jam saat ia mengalami keguguran. Perempuan lain, yang berulang kali meminta bantuan medis, hanya disuruh minum air saja daripada diperiksa.”
Anak-anak, termasuk bayi dan balita, secara teratur dipisahkan dari orang tua mereka yang dideportasi. Sementara anak-anak tersebut ditempatkan di panti asuhan AS, atau dihilangkan secara paksa. Insiden-insiden pelecehan ini tidak hanya di pusat-pusat penahanan tertentu, tetapi umum terjadi di semua fasilitas ICE dan Departemen Keamanan Dalam Negeri di seluruh negeri.
Sekuler
Menurut juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional, hal itu tidak mengejutkan karena telah terjadi pelecehan fisik dan seksual terhadap perempuan selama beberapa dekade sejak awal berdirinya AS. “Perempuan asli AS dipaksa menjadi budak dan anak-anaknya diperdagangkan di Vietnam dan Korea. Saudara perempuan kita di Afganistan, Irak, dan di seluruh negeri muslim telah menjadi sasaran pelecehan yang memalukan dan brutal oleh politisi, militer, dan pegawai pemerintah. Pemerkosaan dan pelecehan terhadap perempuan serta anak-anak adalah bagian dari peradaban sistem sekuler kapitalisme yang dipimpin Amerika dengan mempromosikan kebebasan,” ujarnya.
Di salah satu pusat penahanan paling terkenal di AS, Pusat Penahanan Dilley di Texas, ungkapnya, kondisinya sangat buruk. “Airnya kotor dan membuat para tahanan sakit, makanan yang disajikan kurang matang dan—menurut beberapa laporan—mengandung cacing. Lampu terang dinyalakan siang dan malam dengan gangguan terus-menerus dari para penjaga yang membuat anak-anak tidak bisa tidur, serta perawatan medis sangat kurang. Akses ke pendidikan sangat terbatas, yang menyebabkan banyak anak tertinggal setidaknya satu kelas, dan para penjaga menyiksa para tahanan, sering memisahkan anak-anak dari orang tua mereka,” paparnya.
Kondisi ini, katanya, telah membuat anak-anak yang ditahan mengalami depresi dan menyebabkan beberapa mengompol karena dalam kondisi ketakutan serta kecemasan akut. “Dokter di sana hanya memberi obat antidepresan dan antipsikotik yang membuat anak-anak tidur terus-menerus. Di Pusat Penahanan Stewart di Georgia, banyak perempuan imigran selalu mengalami pelecehan seksual oleh seorang perawat laki-laki yang dilindungi oleh lembaga pemerintah dan perusahaan swasta yang mengelola pusat tersebut,” terangnya.
Ia menyampaikan, perlakuan buruk AS terhadap perempuan dan anak-anak ini sangat berbeda dengan Islam. “Islam mewajibkan laki-laki untuk selalu memandang dan memperlakukan perempuan dengan hormat dan bermartabat, melarang segala bentuk eksploitasi, seksualisasi, kekerasan atau pelecehan terhadap mereka, dan mendorong konsep pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta dalam cara mereka diperlakukan,” jelasnya.
Bahkan, lanjutnya, Allah Swt. menggambarkan laki-laki sebagai penjaga, pelindung, dan penanggung jawab perempuan, “Sistem sosial Islam menjamin kerja sama yang sehat antara laki-laki dan perempuan dengan cara yang menjaga martabat keduanya dalam semua bidang kehidupan. Sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah menerapkan semua prinsip ini secara komprehensif sehingga menjadi mercusuar perlindungan bagi perempuan, termasuk mereka yang mencari perlindungan di wilayahnya,” pungkasnya. [MNews/IK]
