Sarjana Menganggur dan Distorsi Visi-Misi Perguruan Tinggi (Bagian 2/2: Pandangan Islam)

Sarjana Menganggur dan Distorsi Visi-Misi Perguruan Tinggi (Bagian 2/2: Pandangan Islam)

Penulis: Besse Megawati

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, KOLOM — Islam memandang pendidikan sebagai sarana membangun manusia dan peradaban. Dalam konsep pendidikan Islam yang dijelaskan dalam kitab Usus at-Ta’lim, tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam (syahsiah islamiah), sekaligus membekali manusia dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi menyiapkan individu untuk bekerja, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memimpin kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam.

Al-Qur’an memberikan kedudukan yang sangat tinggi bagi ilmu dan para pencarinya. Allah Swt. berfirman,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam memiliki fungsi strategis dalam membangun kemuliaan umat dan peradaban manusia. Oleh karena itu, perguruan tinggi dalam sistem pendidikan Islam memiliki visi untuk melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu pengetahuan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat. Dalam kerangka tersebut, misi perguruan tinggi dalam Islam meliputi beberapa hal penting.

Pertama, membangun kepribadian Islam pada diri mahasiswa sehingga pola pikir dan pola sikap mereka berlandaskan akidah Islam. Ilmu pengetahuan tidak dipelajari secara netral atau terpisah dari nilai-nilai keimanan, tetapi dipahami sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memakmurkan kehidupan manusia.

Kedua, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan umat manusia. Sejarah peradaban Islam menunjukkan betapa sistem pendidikan mampu melahirkan ilmuwan besar yang memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia, seperti Al-Khwarizmi dalam bidang matematika dan Ibnu Sina dalam bidang kedokteran. Para ilmuwan tersebut lahir dari tradisi intelektual yang menjadikan ilmu sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban.

Ketiga, mencetak para ahli di berbagai bidang yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat. Dalam Islam, ilmu tidak dipisahkan dari sistem kehidupan. Ilmu ekonomi, misalnya, tidak berdiri sendiri, melainkan dijalankan dalam kerangka sistem ekonomi Islam. Demikian pula ilmu kesehatan, pertanian, dan teknologi, semuanya diarahkan untuk mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Selain itu, perguruan tinggi juga berfungsi sebagai pusat pemikiran dan pengembangan peradaban. Rasulullah ﷺ bersabda, “Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa para intelektual dan ulama tanggung jawab besar dalam membimbing masyarakat menuju kehidupan yang benar dan bermartabat.

Dengan visi dan misi tersebut, perguruan tinggi dalam Islam tidak hanya melahirkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga generasi yang memiliki kemampuan intelektual, moral, dan kepemimpinan untuk membangun masyarakat. Pendidikan tinggi menjadi bagian dari proyek besar peradaban Islam, yaitu mewujudkan kehidupan manusia yang adil, berilmu, dan sejahtera di bawah petunjuk wahyu.

Namun, Islam tidak berhenti pada pendidikan. Negara juga memiliki tanggung jawab langsung untuk mengurus kehidupan rakyat dan membuka ruang kerja yang luas. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa negara memiliki tanggung jawab langsung untuk mengurus kehidupan masyarakat, termasuk memastikan setiap individu memiliki akses terhadap penghidupan yang layak.

Cara Islam Menyelesaikan Pengangguran

Secara ideologis, Islam menyelesaikan pengangguran melalui beberapa mekanisme utama.

Pertama, pengelolaan sumber daya alam sebagai milik umum. Islam menetapkan bahwa kekayaan alam seperti tambang, energi, dan sumber daya besar, tidak boleh dimonopoli oleh individu atau korporasi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud).

Pengelolaan kekayaan oleh negara ini akan membuka aktivitas ekonomi yang luas berupa industri, energi, transportasi, dan sektor lain yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Kedua, larangan penumpukan kekayaan pada segelintir orang. Allah Swt. berfirman, “Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al-Hasyr: 7).

Dengan sistem distribusi yang adil melalui zakat, pengelolaan kepemilikan, dan aturan ekonomi lainnya, kekayaan tidak terkonsentrasi pada segelintir elite. Aktivitas ekonomi pun menjadi lebih merata sehingga peluang kerja makin luas.

Ketiga, negara mendorong aktivitas ekonomi produktif. Dalam sistem Islam, sektor riil menjadi tulang punggung ekonomi. Praktik riba yang mendorong ekonomi spekulatif dilarang. Allah Swt. berfirman, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275).

Dengan ekonomi berbasis produksi nyata (pertanian, industri, perdagangan), kebutuhan tenaga kerja akan meningkat secara alami.

Keempat, pendidikan mencetak tenaga ahli yang dibutuhkan masyarakat. Sistem pendidikan Islam tidak mencetak lulusan secara massal tanpa arah, melainkan melahirkan para ahli yang benar-benar dibutuhkan dalam pembangunan masyarakat. Dengan kombinasi antara sistem ekonomi yang adil, pengelolaan sumber daya oleh negara, distribusi kekayaan yang merata, dan pendidikan yang tepat, Islam menciptakan struktur ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas, kebutuhan terhadap tenaga ahli justru sangat besar. Para ilmuwan, insinyur, dokter, dan pakar lain yang dihasilkan perguruan tinggi memiliki ruang luas untuk berkarya. Oleh karena itu, pengangguran terdidik tidak akan menjadi fenomena masif sebagaimana terjadi dalam sistem kapitalisme hari ini.

Dalam sistem Islam, pendidikan tinggi melahirkan ahli yang kompeten, pada saat yang sama negara menyediakan medan pengabdian yang luas bagi mereka. Itulah sebabnya pengangguran tidak ditangani dengan bantuan sosial semata, melainkan dengan membangun sistem kehidupan yang memungkinkan setiap manusia bekerja, berproduksi, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ketika pendidikan kembali berasaskan wahyu dan negara menjalankan tanggung jawabnya mengurus kehidupan umat, perguruan tinggi tidak lagi menjadi pabrik pengangguran terdidik. Ia akan kembali menjadi rahim lahirnya para pemimpin, ilmuwan, dan pembangun peradaban.

Khatimah

Kaum muslim harus menyadari bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap. Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga seluruh sistem kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Ma’idah: 3).

Umat Islam juga diperintahkan untuk memperjuangkan tegaknya hukum Allah dalam kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS Ali Imran: 104).

Rasulullah ﷺ pun telah memberikan kabar gembira bahwa kepemimpinan Islam akan kembali tegak. Sabdanya, “Kemudian akan kembali tegak Khilafah di atas minhaj kenabian.” (HR Ahmad).

Dengan demikian, tugas kaum muslim hari ini bukan sekadar memperbaiki pendidikan secara teknis, melainkan mengembalikan pendidikan kepada asasnya, wahyu sebagai sumber ilmu, dan Islam sebagai sistem kehidupan. Ketika sistem kehidupan Islam tegak, pendidikan tinggi akan kembali melahirkan generasi yang memadukan iman, ilmu, dan kepemimpinan.

Dari rahim pendidikan seperti itulah akan lahir manusia-manusia yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memimpin peradaban dan mengurus kehidupan manusia dengan keadilan Islam dan kemajuan ilmu pengetahuan. Wallahualam. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *