Muslimah News, NASIONAL — Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan, Indonesia dan Tailan sedang menghadapi tantangan penuaan penduduk—serupa populasi lanjut usia—yang bertambah cepat di tengah perubahan sosial dan ekonomi. Sementara itu, pola hidup modern meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada kelompok lansia menunjukkan adanya tantangan klinis yang nyata. CKG yang sudah dilakukan pada 6 juta lansia atau sekitar 35,5% dari target 16,9 juta lansia menunjukkan hasil yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti. Hasil skrining ini mengungkapkan beban masalah fungsional dan kognitif yang signifikan.
Dari pemeriksaan Skrining Lansia Sederhana (SKILAS) mobilitas pada 1.579.475 orang, ditemukan 1.020.936 kasus gangguan mobilitas. Dari 992.277 pemeriksaan SKILAS kognitif, 339.559 orang menunjukkan gangguan kognitif. Sedangkan, pemeriksaan malnutrisi, depresi, serta penilaian ADL juga mengidentifikasi ribuan lansia yang memerlukan tindak lanjut klinis dan sosial.
Sementara itu, temuan dari studi longitudinal nasional Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART) menunjukkan bahwa beban penyakit kardiovaskular meningkat antara 2015 dan 2022, meskipun pola kenaikannya tidak merata di seluruh wilayah. Analisis terhadap lebih dari delapan ribu orang dewasa berusia 45 tahun ke atas menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung tidak ditentukan oleh satu kebiasaan buruk saja, melainkan oleh akumulasi beberapa perilaku tidak sehat yang saling berinteraksi.
Dua hasil tersebut menunjukkan adanya kebutuhan berbagai intervensi yang menyeluruh mulai dari program pencegahan terpadu, tindak lanjut sistematis, serta melengkapi sarana dan peningkatan kapasitas SDM kesehatan. Selain itu, juga perlu pendekatan multisektoral diperlukan untuk mengatasi determinan sosial kesehatan lansia karena intervensi yang efektif tidak hanya berasal dari layanan kesehatan. Di antaranya mencakup perencanaan kota yang menyediakan ruang publik aman untuk aktivitas fisik, program pangan lokal yang mendukung pola makan sehat, serta dukungan sosial dan ekonomi untuk keluarga pengasuh, guna memperbesar peluang lansia tetap sehat dan mandiri.
Jaminan
Kepada MNews, Sabtu (28-2-2026), pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menerangkan, jaminan kesehatan menyeluruh untuk lansia hanya ada dalam naungan Islam kafah. “Sebabnya, dalam sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini, layanan menyeluruh dan berkelanjutan membutuhkan biaya besar karena layanan kesehatan dianggap komoditas, bukan bagian dari tanggung jawab negara,” ujarnya.
Mirisnya lagi, sambungnya, penerapan sistem kapitalisme mendorong munculnya perilaku dan kebiasaan tidak sehat sehingga meningkatkan resiko penyakit pada lansia. “Ditambah lagi, berbagai kesulitan hidup sebagai dampak penerapan sistem kapitalisme memengaruhi kesehatan mereka,” jelasnya.
Rendahnya literasi kesehatan dan mahalnya layanan kesehatan, ungkapnya, menjadikan banyak penyakit ditemukan dalam kondisi sudah parah. “Ini mengakibatkan beban biaya perawatan makin besar. Dengan demikian, para lansia dihadapkan pada persoalan yang makin rumit dan kompleks. Bahkan, para lansia menemui berbagai kendala teknis dalam mendapatkan layanan kesehatan di RS, misalnya digitalisasi prosedur pendaftaran, pembatasan rujukan, antrian panjang, dan lain-lainnya,” tuturnya.
Ia mengakui, karakter sistem kapitalisme sendiri telah menghalangi terwujudnya layanan menyeluruh. “Pasalnya, sistem ini memandang segala sesuatu berdasarkan produktivitas atau manfaat. Sementara, lansia adalah aging population yang dipandang sebagai beban ekonomi karena bukan kelompok produktif,” kritiknya.
Di sisi lain, tambahnya, sistem ini meniscayakan minimnya peran negara sehingga rakyat harus menanggung layanan kesehatan secara mandiri. “Mirisnya lagi, rakyat miskin tidak mendapatkan supporting system dari negara. Jadilah derajat kesehatan yang tinggi pada lansia makin sulit diraih,” cetusnya.
Bukan Komoditas
Sebaliknya, Arum menegaskan, kondisi buruk tersebut sangat kecil kemungkinannya akan terjadi dalam kehidupan yang diatur syariat Islam kafah. “Dalam Islam, kesehatan bukanlah komoditas sebagaimana pandangan kapitalisme. Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara atas rakyatnya, termasuk lansia,” urainya.
Islam, lanjutnya, menjadikan negara memiliki visi ri’ayah (pelayan) sehingga akan memberikan layanan kesehatan secara menyeluruh dan berkelanjutan. “Ini karena Islam memerintahkan memelihara kehidupan manusia sejak usia dini hingga lansia, bahkan termasuk dalam salah satu maqashid syariah, yaitu menjaga jiwa (hifz an-nafs),” ucapnya.
Selain itu, ungkapnya, paradigma Islam tentang al-imamu raa’in (pemimpin/khalifah adalah pengurus rakyat) mewajibkan negara melayani rakyat dengan cara terbaik, termasuk dalam layanan kesehatan. “Sebabnya, kesehatan dalam pandangan Islam tidak hanya terkait kondisi fisik, melainkan juga mencakup kondisi psikologis dan spiritual yang sehat sehingga menuntut negara memberikan layanan menyeluruh dan berkelanjutan agar pasien mendapatkan kesembuhan yang sempurna,” terangnya.
Islam juga, tambah Arum, memerintahkan untuk memberikan penghormatan dan pelayanan terbaik bagi para lansia. “Dengan demikian, layanan ramah lansia berkualitas tinggi, prosedur cepat dan mudah, dilaksanakan secara profesional dengan teknologi terbaik adalah satu keniscayaan. Yang jelas, semua layanan akan didapatkan secara gratis karena Islam menjadikan layanan kesehatan sebagai hak dasar yang menjadi tanggung jawab negara, termasuk pembiayaannya,” tegasnya.
Apalagi, ia menjelaskan, kesehatan lansia ini sudah menjadi perhatian para dokter muslim di masa peradaban Islam, misalnya Ibnu Sina dalam kitabnya Al-Qānūn fī Al-Ṭibb. “Sejarah panjang peradaban Islam membuktikan betapa Islam memberikan layanan kesehatan terbaik, termasuk kepada para lansia,” tandasnya. [MNews/RA]
