Penulis: MR Kurnia, dkk
Muslimah News, TELAAH KITAB — Seorang muslim sudah seharusnya memahami hakikat hidupnya di dunia. Dari mana ia berasal? Untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya? Akan ke mana setelah mati? Pemahaman akan hakikat hidup sangatlah penting karena akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang. Sedemikian pentingnya persoalan ini, sampai-sampai mungkin dapat dikatakan “janganlah kita hidup sebelum memahami hakikat hidup kita sebenarnya.”
Namun demikian, tidak sedikit muslim yang tidak memahami, bahkan kehilangan makna hidupnya yang hakiki. Ada yang terhanyut oleh pola hidup sekuler. Ada pula yang acuh tak acuh menjalani hidupnya. Padahal, memahami hakikat hidup bukanlah hal yang sukar bagi seorang muslim. Allah Swt. telah memberikan bekal dan potensi pada diri manusia berupa daya pikir (akal) dan fitrah yang melekat pada manusia sejak ia diciptakan oleh Allah Taala.
Allah Swt. telah memberi panca indera sebagai salah satu unsur penting untuk proses berpikir. Allah Swt. berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur.” (QS An-Nahl: 78).
Semua bekal ini semestinya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya agar manusia dapat memahami hakikat hidupnya di dunia. Kegagalan manusia dalam memahami hakikat hidupnya, tiada lain karena kelalaian dan keengganannya menggunakan bekal-bekal tersebut. Akibatnya arah dan orientasi hidupnya menjadi tidak jelas atau menyimpang dari jalan yang semestinya.
Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yang dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Orang sesat seperti ini dicap oleh Allah Swt. bagaikan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi daripada itu.
Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) Neraka Jahanam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak. Bahkan, mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raf: 179).
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak. Bahkan, mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al-Furqân: 43—44).
Jelaslah, memahami hakikat hidup merupakan suatu hal yang sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup akan membuat seseorang menjalani hidup bagaikan layang-layang putus yang bergerak mengikuti ke mana saja angin berhembus atau dihempaskan ombak ke mana saja tanpa tujuan. Artinya, seorang muslim mudah sekali tersesat. Bahkan tidak mustahil ia menjadi murtad tanpa disadari sehingga amalnya di dunia menjadi sia-sia bagaikan debu yang berterbangan.
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al-Furqân: 24).
Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya. Makna ibadah secara bahasa (lughah) disebutkan oleh Imam Al Fairuz Abadi dalam kamus Al Muhith sebagai taat, yakni menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Sedangkan menurut istilah ada dua pengertian, yakni khusus (khaas) dan umum (‘aam).
Muhammad Husein Abdullah dalam kitab Dirasaat Fil Fikri al Islamiy memberikan pengertian khusus. Ibadah adalah menaati perintah dan larangan Allah Swt. yang mengatur hubungan antara Allah Swt. dengan hamba-Nya, misalnya salat, saum, doa, dan lain-lain. Dalam pengertian umum, ibadah bermakna mengikatkan diri dengan seluruh hukum-hukum Allah Taala.
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzáriyat: 56).
Manusia juga disebut sebagai Khalifah. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” (QS Al-Baqarah: 30).
Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni dalam kitab Shofatut Tafasir, Juz 1, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Khalifah pada ayat di atas adalah manusia yang bertugas mengelola dan memakmurkan bumi dengan hukum-hukum Allah Taala. Oleh karena itu, apabila manusia tidak memahami hukum-hukum Allah Swt., pasti akan sulit untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah Taala.
Pandangan dan pemahaman manusia bahwa misi penciptaannya hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt. terbentuk sejalan dengan kesimpulan yang didapatnya berkenaan dengan keberadaan dirinya di dunia. Saat manusia menginjak usia dewasa (balig), yang dicirikan oleh kesempurnaan fungsi akalnya, mulailah ia berpikir tentang beberapa hal yang sangat mendasar. Hal-hal mendasar tersebut menuntut jawaban tuntas yang memuaskan akal sehat, menenteramkan jiwa, dan sesuai dengan fitrahnya. Jawaban itu pula yang akan menjadi landasan dan tujuan kehidupannya.
Selama masalah mendasar ini belum terjawab tuntas, selama itu pula orientasi hidup manusia tidak akan pernah tetap. Manusia cenderung mudah terombang-ambing sehingga membuatnya tidak pernah merasa tenang. Apabila itu yang terjadi, sebenarnya manusia telah melakukan pengingkaran terhadap hakikat fitrah manusia itu sendiri.
Mengingat sifatnya sangat mendasar dan substantif, pertanyan tersebut disebut pula sebagai Al-‘Uqdatu al-Kubra atau simpul yang sangat besar. Disebut demikian karena mengandung penjelasan bahwa apabila pertanyaan ini telah terjawab, dengan sendirinya akan terurailah berbagai pertanyaan/permasalahan cabang berikutnya yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia.
Persoalan mendasar tersebut berupa tiga pertanyaan.
1. Min aina ataytu?
Dari manakah manusia, kehidupan, dan alam semesta ini berasal?
2. Limadza ji’tu?
Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?
3. Ila ayna al-mashir?
Akan ke mana manusia dan kehidupan setelah di dunia ini? [MNews/RY-YG]
Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bagian 2/7.

One thought on “[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 1/7)”