[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 2/7)

[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 2/7)

Penulis: MR Kurnia, dkk

Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bagian 1/7.

Muslimah News, TELAAH KITAB — Pertanyaan pertama, “Dari manakah manusia, kehidupan, dan alam semesta ini berasal?” Apakah ketiganya ini ada dengan sendirinya ataukah ada yang mengadakannya? Pertanyaan ini berkaitan erat dengan fakta bahwa manusia itu hidup di alam semesta (li anna al-insaana yahya fi al-kaun). Dengan demikian, wajar apabila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam arti biologis) yang ada pada dirinya dan makhluk lainnya, serta tentang alam semesta yang merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini menanyakan tentang hakikat apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya).

Pertanyaan kedua, “Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?” Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu al-dunya). Dengan demikian, wajar apabila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai tujuan ia hidup dan cara ia harus menjalani kehidupan (dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdhah, pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (ma’na wujudi al- insaan fi al-hayah).

Pertanyaaan ketiga, “Akan ke mana manusia dan kehidupan ini setelah di dunia ini?” Pertanyaan ini juga sangat wajar karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti terbit pertanyaan, apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir? Ataukah justru kematian itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan baru selanjutnya? Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya).

Di samping ketiga pertanyaan utama tersebut, hal penting lain yang juga menjadi pertanyaan adalah adakah hubungannya? Inilah pertanyaan-pertanyaan utama yang tercakup dalam apa yang disebut dengan Al-Uqdatu al-Kubro.

Tak ayal lagi, semua pertanyaan dalam simpul besar itu memang merupakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang memerlukan jawaban tuntas sebagaimana halnya simpul-simpul besar pada tali yang harus diuraikan terlebih dahulu agar tali itu dapat digunakan. Apabila simpul besar ini berhasil diurai, niscaya simpul-simpul cabang berikutnya akan dengan mudah diuraikan.

Simpul-simpul ini adalah pertanyaan-pertanyaan praktis yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, semisal mengapa dan bagaimana kita harus bekerja mencari nafkah? Bagaimana kita harus membina sebuah keluarga yang bahagia? Bagaimana kita harus berpolitik dalam kehidupan bernegara? Demikian pula pertanyaan lainnya.

Menghadapi pertanyaan mendasar dalam Al-Uqdatu al-Kubro itu, sikap manusia bermacam-macam. Ada yang lari atau tidak acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga akhirnya mereka menjalani hidup sekadarnya saja. Tanpa makna, visi, dan misi. Kosong dan absurd. Namun, ada pula yang berhasil menjawabnya setelah berusaha mencari jawabannya dengan serius, terlepas dari benar tidaknya jawaban tersebut.

Jawaban-jawaban terhadap Al-Uqdatu al-Kubro ini menurut Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) karena jawabannya mencakup segala sesuatu yang maujud (alam semesta, manusia, dan kehidupan), di samping mencakup ketiga fase kehidupan yang dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiganya.

Jawaban itu disebutnya juga sebagai akidah (pemikiran mendasar) dan qa’idah fikriyah (landasan pemikiran). Disebut akidah karena memang jawaban terhadap Al-Uqdatu al-Kubro merupakan pemikiran yang mendasar. Sedangkan disebut qa’idah fikriyah karena jawaban itu merupakan basis pemikiran yang di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan.

Oleh karenanya, jawaban terhadap Al-Uqdatu al-Kubro bisa beraneka macam, bergantung kepada akidah (keyakinan) yang dianut seseorang. Di sini akan diuraikan jawaban dari sudut pandang keyakinan Islam dan sekulerisme, mengingat paham sekulerisme inilah yang kini merajalela di dunia, termasuk di dunia Islam, setelah sosialisme runtuh di penghujung 1980-an.

Jawaban yang memuaskan akal dan menenteramkan jiwa yang berarti sesuai dengan fitrah penciptaan manusia atas ketiga pertanyaan di atas akan menjadi landasan dan pemahaman manusia terhadap berbagai persoalan kehidupan berikutnya.

Jawaban Islam terhadap Al-Uqdatu Al-Kubro

Jawaban Islam terhadap Al-Uqdatu al-Kubro bersumber dari Al-Qur’an dan sunah. Keduanya merupakan wahyu yang diturunkan Allah Swt. melalui Rasulullah Muhammad saw. sebagai petunjuk hidup.

Jawaban atas Pertanyaan “Dari Mana Manusia, Kehidupan, dan Alam Semesta Berasal?”

Terhadap pertanyaan “Dari manakah manusia, kehidupan, dan alam semesta berasal?”, Islam memberikan jawaban bahwa ketiga hal tersebut diciptakan oleh Allah Swt., tidak maujud dengan sendirinya. Dengan kata lain, apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) adalah Allah Taala. Jawaban ini diterangkan dalam banyak nas.

Allah Swt. berfirman, “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 21).

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS Al-Infithår: 6—7).

“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian Allah mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?” (QS Al-Baqarah: 28).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa asal manusia adalah karena diciptakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya, juga bukan tercipta semata-mata karena proses-proses alam, atau tercipta melalui evolusi dari organisme lain yang lebih sederhana. Allahlah yang telah menciptakan manusia dan membuatnya hidup di dunia sampai batas waktu tertentu, lalu dikembalikan lagi kepada-Nya.

Jawaban atas Pertanyaan “Untuk Apa Manusia dan Kehidupan Ini Ada?”

Terhadap pertanyaan “Untuk apa manusia hidup?” Islam menjawab bahwa manusia hidup di dunia untuk beribadah kepada-Nya. Ini berarti untuk menaati Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Misi hidup manusia ini dijelaskan Allah Swt. dalam firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

“Padahal mereka tidak diperintah, kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. …” (QS Al-Bayyinah: 5). [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.

Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bagian 3/7.

Share

One thought on “[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 2/7)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *