Muslimah News, INTERNASIONAL— Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Trump mengklaim AS akan menguasai negara itu tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. ” Biaya yang dikeluarkan AS akan dibayar kembali dari uang yang keluar dari tanah (minyak Venezuela),” ucapnya di Mar-a-Lago, Sabtu (3-1-2026). Trump mengisyaratkan bahwa perusahaan minyak AS akan masuk ke Venezuela untuk memulai kembali produksi dan mendapatkan keuntungan darinya.
Hukum Rimba
Aktivis dakwah Dr. Abdullah Robin menilai, pernyataan Trump sebagai cerminan hukum rimba. ”Trump tidak menggambarkan tindakan penegakan hukum yang normal. Ia menggambarkan perubahan rezim, bahkan mencoba membuatnya terdengar seperti transaksi keuangan. Inilah hukum rimba yang terungkap! AS ingin menipu dunia dengan merumuskan kembali kedaulatan Venezuela sebagai hubungan utang dan minyaknya sebagai jaminan,” tuturnya, Rabu (7-1-2026).
Ia melanjutkan, Trump berulang kali membingkai minyak Venezuela sebagai sesuatu yang menjadi hak AS dengan mengatakan bahwa Venezuela “mencurinya” sehingga AS dapat turun tangan, mengintervensi negara tersebut, dan mendapatkan pembayaran kembali. ”Pidato propaganda Trump telah mencampuradukkan antara investasi dengan kepemilikan,” kritiknya.
Perusahaan asing, sambungnya, memang bisa saja membangun sumur, pipa, dan kilang, tetapi itu bukan berarti memberikan hak milik permanen atas sumber daya bawah tanah suatu negara dan memberikan izin kepada pemerintah perusahaan asing untuk memerintah.
”Trump mengklaim bahwa Venezuela mencuri minyak AS, tetapi sejarah menceritakan kisah yang sangat berbeda. Di bawah Presiden Venezuela Carlos Andrés Pérez, Venezuela menciptakan perusahaan minyak negaranya PDVSA melalui nasionalisasi pada 1 Januari 1976,” bebernya.
Catatan pemerintah AS, ia melanjutkan, pada 28 Oktober 1975 sebagian besar perusahaan minyak AS yang tercakup dalam undang-undang nasionalisasi telah menerima tawaran kompensasi Venezuela, dan Venezuela mengganti kerugian perusahaan yang disita sekitar $1,03 miliar dalam proses penyelesaian hukum yang dinegosiasikan.
”Kemudian, Venezuela memiliki konflik dengan perusahaan asing mengenai kontrak, pajak, dan kendali, terutama di bawah Hugo Chávez. Beberapa perselisihan berakhir dengan arbitrase dan putusan pengadilan. Jika suatu negara bertindak melanggar hukum atau melanggar kontrak, solusinya adalah proses hukum dengan arbitrase, litigasi (proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan) menuju penyelesaian yang dinegosiasikan, bukan intervensi asing dengan paksa,” jelasnya.
Berbohong
Ia lalu menyimpulkan bahwa Trump berbohong saat mengatakan, “Kami membangun industri minyak Venezuela dan rezim sosialis mencurinya dari kami.” Trump, ucapnya, mengubah doktrin Monroe sebagai penegasan kembali imperialisme di belahan Barat.
Ia menjelaskan, cadangan minyak mentah di Venezuela yang diincar Trump sebesar 303 miliar barel dan merupakan salah satu cadangan terbesar di bumi. “Trump secara agresif menghidupkan kembali doktrin Monroe sebagai aturan operasional untuk kawasan tersebut. Strategi Keamanan Nasional pemerintahannya secara eksplisit mengedepankan Trump Corollary (kebijakan AS untuk mempertahankan dominasi di belahan Barat, mencegah pengaruh asing terutama Cina, dan melindungi kepentingan nasional AS) untuk mengembalikan keunggulan AS di belahan Barat. Trump sendiri telah mempromosikan kebangkitan ini sebagai doktrin yang masih hidup dan berfungsi dengan baik,” paparnya.
Pemerintah AS, ucapnya, mencoba membingkai semua ini sebagai penegakan hukum. “AS telah menuduh Maduro melakukan kejahatan serius dan mendakwanya. Padahal, begitu kepala negara ditangkap melalui operasi militer dan kekuasaan AS dideklarasikan, itu bukan lagi penegakan hukum, melainkan agresi terang-terangan,” ulasnya.
Menurutnya, AS marah karena Venezuela membantu Rusia dan membuka hubungan perdagangan dengan Cina, tetapi baik Rusia maupun Cina tidak dapat melawan AS. ”Dunia sedang menunggu dan membutuhkan kekuatan baru (Islam) untuk hadir kembali dan menyebarkan kebenaran,” pungkasnya. [MNews/IA]
