Kilas Balik Palestina Sepanjang 2025, Penuh Tipu Daya dan Jauh dari Pembebasan Hakiki

Kilas Balik Palestina Sepanjang 2025, Penuh Tipu Daya dan Jauh dari Pembebasan Hakiki

Muslimah News, FOKUS — Sepanjang 2025, penyelesaian konflik Palestina tidak membawa kebaikan bagi kaum muslim di sana. Sebaliknya, Zion*s terus meneror warga Gaza, menyerang sipil, dan membangun 19 pemukiman baru di Tepi Barat. Gencatan senjata yang digadang memberi jeda, justru menjadi tipu daya.

Palestina tetap tanpa solusi nyata. Yang muncul hanyalah solusi palsu berupa “dua negara”, yang sejatinya memaksa muslim Palestina berbagi wilayah dengan penjajah. Harapan kemerdekaan kian memudar ketika Presiden AS Donald Trump memperkenalkan Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict—rencana perdamaian 20 poin yang diumumkan bersama Perdana Menteri Zion*s di Washington DC, 29 September 2025.

Rencana itu lebih menyerupai penjajahan gaya baru di bawah kendali AS daripada kebebasan rakyat Palestina. Dengan dalih perdamaian, AS menuntut Gaza menyerahkan kedaulatan kepada pemerintahan transisi yang dikomandoi Trump serta melucuti pejuang bersenjata. Kebijakan ini bukan revitalisasi atau rekonstruksi, melainkan pendudukan total agar rakyat Gaza tunduk pada pemerintahan bentukan AS.

Trouble Maker

Bangsa yang layak disebut trouble maker dunia adalah Zion*s. Dahulu, mereka datang ke Palestina sebagai pengungsi, kini bertindak seolah-olah pemilik tanah. Mereka merampas, menjajah, dan membunuh rakyat Palestina. Karakter buruk mereka juga sudah mengakar, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, sifat pembangkang dan pengecut. Watak ini tampak jelas dari berbagai pelanggaran hukum internasional yang terus Zion*s lakukan. Mereka adalah penentang nilai kemanusiaan sekaligus pelanggar hukum humaniter.

Bentuk nyata pembangkangan Zion*s terlihat dari serangan terhadap warga sipil dan fasilitas publik—63% bangunan hancur—yang jelas melanggar Pasal 27 Konvensi Jenewa IV. Mereka menggunakan senjata takterdiferensiasi dan metode hukuman kolektif. Menurut data OHCHR, 70% korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, pemindahan paksa 1,4 juta warga Rafah pada Mei 2024 melanggar Statuta Roma Pasal 7 ayat (1) huruf (d). Blokade kemanusiaan yang berlangsung sejak 2023 menimbulkan kelaparan massal. UNICEF mencatat 71.000 kasus diare anak pada Januari 2024 akibat krisis air di Gaza.

Zion*s juga berlindung di balik dukungan AS untuk menghindari jerat hukum internasional. Sikap pengecut ini tampak ketika militer mereka menodongkan senjata laras panjang kepada anak-anak Gaza yang hanya berbekal kerikil dan ketapel. Bahkan di ranah digital, pasukan IDF tidak luput dari tekanan. Serangan warganet di akun resmi mereka membuat sebagian personel stres menghadapi hujatan yang membanjiri kolom komentar.

Kedua, munafik dan penipu. Zion*s berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan dalih “membela diri”. Sejak 10 Oktober 2025, mereka tercatat melakukan lebih dari 800 hingga hampir 1.000 pelanggaran, termasuk penembakan warga sipil serta penghancuran pemukiman dan fasilitas publik.

Ratusan kali mereka menipu dunia dengan berpura-pura menghormati gencatan senjata, padahal genosida tetap berlangsung. Kemunafikan ini telah menjadi tabiat yang melekat. Sama halnya dengan PBB yang enggan menyebut Zion*s sebagai teroris atau penjahat perang, dan AS yang terus memberi legitimasi. AS bukan hanya menggagas rencana perdamaian semu, tetapi juga berulang kali memveto resolusi DK PBB dan memasok senjata untuk Zion*s. Dengan demikian, AS secara nyata merestui agresi Zion*s yang membombardir Gaza tanpa henti.

Ketiga, playing victim. Siapa korban dan pelaku sejatinya dunia sudah tahu dengan sangat jelas. Namun, Zion*s tanpa rasa malu mengklaim diri sebagai korban serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Faktanya, lebih dari 66.000 warga Gaza telah terbunuh dan selama lebih dari 75 tahun rakyat Palestina terusir dari tanahnya. Dengan sikap penuh kepura-puraan, Zion*s justru menuding para pejuang sebagai teroris dan penjahat.

Keempat, arogansi di ambang batas. Sikap jumawa Zion*s telah memicu kebencian masyarakat internasional, namun tidak menghalangi ambisi mereka untuk menguasai dan mendominasi politik serta ekonomi global. Bersama AS, Zion*s menantang tatanan dunia, bahkan bertindak seolah-olah merekalah penguasa tertinggi di atas segalanya.

Dendam dan kebencian Zion*s terhadap Islam dan umat Islam terus berlangsung dari masa ke masa. Sikap permusuhan itu tampak jelas dalam berbagai serangan militer dan genosida yang mereka lakukan atas kaum muslim Palestina.

Begitu pun dengan penghancuran infrastruktur publik hingga rata dengan tanah. Mereka ingin memiliki Palestina sepenuhnya, memaksa warga sipil pindah, dan membangun pemukiman ilegal  secara luas. Semua ini mereka lakukan dengan satu tujuan, yaitu pembersihan penduduk muslim Palestina dan menguasai seluruh wilayah Palestina agar menjadi milik mereka.

Di sisi lain, dunia internasional tampak tidak berdaya menghadapi tingkah Zion*s. Hukum internasional tumpul, sedangkan resolusi dan tekanan politik mandul. Blokade kemanusiaan serta pendudukan ilegal terus berlanjut tanpa ada sanksi efektif. Fakta ini memperlihatkan bahwa dominasi politik dan kepentingan geopolitik global AS telah menutup semua kejahatan Zion*s.

Perangai Buruk Bani Israil dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggambarkan Bani Israil sebagai kaum zalim, suka menyembunyikan kebenaran, membuat kerusakan, dan memicu peperangan. Sejak dahulu, mereka melakukan tindakan brutal, bahkan membunuh para Nabi. Sifat ini diwarisi hingga kini oleh Zion*s yang menjajah Palestina. Mereka menindas semua kalangan tanpa henti meski mendapat kecaman dunia. Semuanya mereka lakukan demi ambisi mendirikan negara Zion*s Raya.

Di antara kalam Allah Taala tentang sifat Bani Israil terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 75 yang artinya, “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Taala menegaskan kepada orang-orang beriman agar tidak terlalu berharap kaum Yahudi akan menerima kebenaran dan tunduk kepada mereka. Sebabnya, meskipun mereka telah menyaksikan bukti nyata dari Allah, hati mereka tetap keras dan enggan beriman. Bahkan, sebagian dari mereka pernah mendengar firman Allah secara langsung, namun sengaja menafsirkannya dengan makna yang menyimpang, padahal mereka memahami kebenaran itu dengan sadar. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka sengaja melakukan penyimpangan dan penafsiran keliru.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Maidah ayat 13, yang menjelaskan bahwa karena mereka melanggar janji, Allah mengutuk dan menjadikan hati mereka keras. Mereka pun terbiasa mengubah firman Allah dari tempat dan makna yang sebenarnya. (Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Syekh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin).

Allah Taala juga menjelaskan sifat buruk Bani Israil dalam ayat lainnya, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS Al-Maidah [5]: 82).

Kekufuran orang Yahudi lahir dari pembangkangan, keingkaran, dan kesombongan mereka terhadap kebenaran, disertai sikap meremehkan orang lain serta merendahkan para ahli ilmu. Karena itu, mereka banyak membunuh nabi-nabi, bahkan berulang kali merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah ﷺ.

Menghapus Penjajahan dengan Jihad dan Khilafah

Mengingat perangai bangsa Zion*s juga tameng mereka, yaitu AS dan sekutunya yang penuh muslihat, tidak selayaknya kita menempatkan solusi Palestina mengikuti seruan Barat dan orang-orang kafir. Palestina tidak akan terbebas sepenuhnya kecuali berada di pangkuan dan kekuasaan Islam di bawah perlindungan khalifah yang menegakkan sistem Islam secara kafah.

Sejarah telah mencatat bahwa selama Khilafah ada, Palestina terlindungi. Nabi ﷺ telah mencontohkan kepada kita sikap untuk menghadapi kaum bebal seperti Zion*s yang tidak mengenal bahasa  diplomasi dan basa basi. Mereka hanya bisa dihentikan dengan bahasa perang.

Nabi ﷺ bersikap tegas terhadap bangsa Yahudi. Suatu hari, seorang perempuan Arab diganggu di pasar Bani Qainuqa’ hingga auratnya dipermalukan. Seorang muslim melihatnya lalu marah dan membunuh tukang emas Yahudi, namun dirinya kemudian dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Peristiwa ini memicu bentrokan antara kaum muslim dan Bani Qainuqa’.

Rasulullah ﷺ juga telah memperingatkan Yahudi agar berhenti mengganggu kaum muslim, namun mereka semakin menentang. Akhirnya Rasulullah ﷺ bersama kaum muslim mengepung Bani Qainuqa’. Setelah ada desakan Abdullah bin Ubay bin Salul, Nabi ﷺ memutuskan tidak membunuh mereka, tetapi mengusir seluruh Bani Qainuqa’ dari Madinah menuju Syam. (Disarikan dari kitab Ad-Daulah al-Islamiyyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, hlm.99-100).

Persoalan Palestina pada hakikatnya merupakan bentuk penjajahan. Upaya mengakhirinya hanya dapat dilakukan melalui jihad, yakni mengusir penjajah dari seluruh wilayah Palestina di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Dengan demikian, jihad dan Khilafah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menyelesaikan penjajahan Zion*s, alih-alih melalui kompromi pembagian tanah atau rekonstruksi yang dikendalikan pihak asing.

Umat Islam perlu memahami bahwa untuk menghapus penjajahan dan mencegah kerusakan yang lebih besar, tidak ada jalan lain selain mengembalikan kedudukan Islam sebagai kekuatan utama dunia, sebagaimana pernah berjaya memimpin selama lebih dari tiga belas abad. Wallahualam bissawab. [MNews/CJ-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *