Muslimah News, NASIONAL — Aktivis dakwah Ummu Aiman menyampaikan, saat ini dunia butuh perubahan yang hakiki sehingga perlu peran bersama antara generasi senior dan generasi muda. “Kita sebagai dua generasi, baik generasi senior maupun generasi muda, harus sama-sama mengambil peran untuk mewujudkan perubahan hakiki ini,” ungkapnya dalam acara Risalah Akhir Tahun bertema “Bersama Membentuk Generasi Muslim Pelopor Perubahan”, Ahad (14-12-2025) di Jakarta.
Dalam pandangannya, saat ini ada misi luar biasa, yaitu membentuk generasi pelopor perubahan, generasi khairu ummah, generasi takwa, generasi yang kukuh memegang prinsip dan gigih memperjuangkan kebenaran, serta yang mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an di segala sendi kehidupan.
“Generasi ini adalah generasi yang menggunakan kekuatan digital untuk membebaskan manusia dari sistem gagal, sekularisme kapitalisme. Ini adalah misi yang berat, tetapi bukan mimpi karena generasi semacam ini pernah terwujud,” ucapnya.
Ia mengutip perkataan Imam Malik bahwa tidak ada yang bisa memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali dengan yang telah memperbaiki generasi awalnya. “Ini adalah kunci bagaimana kita bisa membentuk generasi pelopor perubahan. Rasulullah telah memperbaiki dan membentuk generasi awal, yaitu dengan Islam kafah, Islam sebagai ideologi, dan Islam sebagai way of life,” urainya.
Menjalin Hubungan
Oleh karenanya, Ummu Aiman mengatakan, generasi senior harus terus menjalin hubungan dengan generasi muda, juga menghubungkannya dengan Islam sebagai warisan kebaikan kepada generasi muda.
“Ini bisa dilihat bahwa dari masa ke masa, saat generasi muda direndam dengan Islam kafah, kotoran-kotoran jahiliah itu hilang. Bergantilah generasi jahiliah itu menjadi generasi khairu ummah yang bisa menjadi kunci perubahan hakiki,” ucapnya.
Dengan Islam kafah, lanjutnya, generasi itu memiliki akidah yang kuat dan menjadi generasi yang tangguh, bukan generasi galau. “Generasi itu mampu menyelesaikan persoalan dirinya, keluarganya, negaranya, bahkan persoalan dunia,” tuturnya.
Menurut Ummu Aiman, generasi senior dan generasi muda harus terus terlibat bersama dalam perjuangan sehingga di dalam Islam tidak dikenal adanya gap generasi. “Justru yang terjadi adalah ketersambungan generasi yang memiliki satu way of life dan amanah, yaitu Islam.
Hanya saja, ia memaparkan, dalam sesaknya sistem sekularisme kapitalisme saat ini, di satu sisi ada keinginan anak kita baik agamanya dan mendapat rida Allah Swt., tetapi di sisi lain ada keinginan anak kita sukses secara dunia dengan standar dunia digital yang sekuler. “Akhirnya, terjadi benturan dan tekanan karena banyak perbedaan nilai dengan Islam, muncul standar ganda, baik dalam diri kita maupun anak-anak kita sehingga anak-anak kita akan kehilangan arah dan muncul rasa takut menunjukkan identitas Islam kafah,” tuturnya.
Jika hal ini dibiarkan dan tidak menjadikan Islam sebagai identitas, tambahnya, maka kita akan menjadikan diri kita dan anak-anak kita terseret oleh arus digital sekuler kapitalisme yang akan menimbulkan kerusakan di dunia dan akhirat.
“Untuk itu, kita harus menegaskan bahwa Islam adalah fondasi hidup, standar kesuksesan dunia dan akhirat, serta menjadikan Islam sebagai amanah yang diperjuangkan sepanjang hidup kita. Anak-anak pun akan menjadi jelas akan perannya, yaitu membela agama Allah sehingga mereka akan tumbuh kuat, percaya diri, dan siap menjadi pelopor perubahan yang mampu menghadapi dunia,” tegasnya.
Ia mencontohkan salah satu shahabiyah, Asma binti Umair. “Ia termasuk generasi awal yang masuk Islam, berhijrah ke Habasyah, dan mengantarkan anak-anaknya menjadi syahid di Perang Mu’tah. Hal yang dapat diadikan pelajaran adalah ia bersegera masuk Islam, mau berkorban demi menjaga akidahnya, dan menjadi partner dakwah bagi anak-anaknya,” urainya.
Ibu Ideologis
Oleh karena itu, ia mengingatkan, hendaknya para ibu melangkah menjadi ibu ideologis. “Caranya, pertama, dengan mengikuti pembinaan intensif Islam ideologis karena dengan pemahaman Islam yang utuh kita dapat memberikan pemahaman yang benar bagi anak-anak kita yang akan memberikan keselamatan dunia dan akhirat,” terangnya.
Kedua, lanjutnya, bergabung bersama circle ibu ideologis dalam jemaah dakwah yang konsisten memperjuangkan syariat Islam. “Para ibu pun bisa memberikan contoh kepada anak-anaknya agar konsisten dalam memperjuangkan Islam dan memberikan yang terbaik untuk umat,” ungkapnya.
Sekali lagi, ia menekankan bahwa perubahan hakiki yang dibutuhkan saat ini adalah dengan Islam kafah. Ia berharap, para ibu dapat mengoptimalkan perannya sebagai madrasatul ula yang mempu mencetak generasi terbaik. “Mari wakafkan diri kita dan anak-anak kita untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah saw. dengan tegaknya Khilafah ala minhaj nubuwwah,” tandasnya. [MNews/RA]
