Muslimah News, NASIONAL — Tahun 2025 diwarnai dengan makin beratnya problem generasi akibat digitalisasi, mulai dari masalah mental, kecanduan game online, hingga bullying yang berujung bunuh diri. Pada tahun ini juga muncul fenomena pergerakan pemuda di mana-mana. Mereka menuntut perubahan besar dengan memanfaatkan jejaring media sosial. Dibutuhkan peran semua pihak untuk memandu agar era digital tidak menjadikan problem generasi makin parah, justru bisa mendayagunakan potensi mereka untuk perubahan.
Hal ini didiskusikan pada acara Risalah Akhir Tahun (RATU) 2025 yang mengangkat tema “Bersama Membentuk Generasi Muslim Pelopor Perubahan” pada Ahad (14-12-2025) di Jakarta. Acara ini dihadiri ratusan tokoh muslimah dari berbagai bidang se-Jabodetabek. Peserta berasal dari lintas generasi, yaitu generasi muda dan generasi ibu.
Meneladan Rasulullah Saw.
Narasumber pertama, yaitu aktivis dakwah nasional Iffah Ainur Rochmah menyampaikan pidato politik bertema “Meneladan Rasulullah saw. dalam Membentuk Generasi Pelopor Perubahan”. Iffah mengajak para tokoh lintas generasi untuk mengingat bahwa generasi muda adalah milik Allah Swt.. “Energi dan potensi mereka semestinya digunakan untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki Allah Swt.. Potensi anak-anak muda ini harus kita arahkan untuk melayani kepentingan Islam, berkhidmat untuk Islam dan kaum muslim, serta menjalankan proyek yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu perubahan untuk menjalankan hukum-hukum Allah Swt.,” ujarnya.
Namun, lanjutnya, hegemoni digital hari ini dipegang oleh rezim kapitalis global yang hanya berorientasi keuntungan materialistis. “Potensi generasi muda rawan dibajak untuk kepentingan kapitalisme. Jika kita menghendaki agar potensi generasi muda diarahkan untuk Islam, kita harus meneladan perubahan yang Rasulullah saw. lakukan, yaitu menegakkan kalimat Allah Swt. dan Daulah Islam,” paparnya.
Rasulullah saw., jelasnya, mencontohkan bahwa pembinaan generasi dilakukan untuk menghasilkan kader pengemban risalah untuk diimplementasikan dalam Daulah Islam. “Pembinaan Rasulullah saw. dilakukan dalam jemaah dakwah yang disebut hizburrasul (partainya Rasul). Rasulullah saw. menjadikan generasi muda menjadi pemain inti dalam dakwah di Makkah untuk menegakkan Daulah Islam di Madinah,” tuturnya.
Selanjutnya, Iffah memaparkan empat poin penting terkait pembinaan generasi yang dilakukan Rasulullah saw., yaitu membangun qiyadah fikriyyah (kepemimpinan berpikir) Islam, membangun kepribadian Islam sebagai materi inti pembinaan, membina sahabat dengan pembinaan wa’yu siyasi (kesadaran politik), dan optimalisasi potensi generasi.
“Generasi senior dan junior harus bahu-membahu memberikan potensinya untuk Islam dan kaum muslim. Para pemuda menjadi kader tangguh pelopor perubahan, sedangkan orang tua menjadi sahabat takwa anak. Dua generasi, satu amanah,” ungkapnya.
Terakhir, ia menyampaikan seruan hangat kepada para tokoh muslimah lintas generasi bahwa perubahan hanya bisa terealisasi dengan tegaknya Islam kafah melalui Khilafah. “Untuk itu, perjuangan penegakan Islam kafah memanggil pemuda, orang tua, dan para tokoh untuk membina diri mengikuti metode Rasulullah saw.,” ucapnya.
Peran Penting Ibu
Narasumber kedua, Ummu Aiman, menuturkan, ibu berperan penting dalam membentuk generasi. “Generasi yang hendak kita bentuk adalah generasi yang beriman kepada Al-Qur’an, mempelajarinya, mengamalkannya, dan memperjuangkan penerapannya dalam seluruh aspek kehidupan. Generasi ini menggunakan kekuatan digital untuk membebaskan manusia dari sistem gagal kapitalisme sekularisme menuju sistem Islam kafah,” ujarnya.
Dalam paparannya bertema “Ibu dan Misi Besar Membentuk Generasi Pelopor Perubahan”, ia menegaskan bahwa generasi tersebut harus direndam dan ditempa dengan Islam kafah. “Islam tidak mengenal ada gap generasi. Justru antargenerasi tersambung dengan satu way of life dan satu amanah. Fondasi hidup, standar kesuksesan, dan amanah yang wajib diperjuangkan adalah Islam,” cetusnya.
Dengan demikian, sambungnya, generasi muda akan siap menjadi pelopor perubahan dunia. “Para ibu punya peran penting untuk mengikuti pembinaan intensif Islam ideologis dan bergabung bersama jemaah yang konsisten memperjuangkan Islam kafah,” tandasnya.
Kebangkitan Generasi Muslim
Memperkuat hal tersebut, aktivis muda Zakiyah Darajat sebagai narasumber ketiga mengemukakan bahwa generasi muslim memang harus bangkit. “Rezim kapitalis gagal menyejahterakan rakyat. Mereka bersikap otoriter dan anti-Islam. Melihat kondisi ini, generasi muda bergerak menjadi kekuatan politik baru,” urainya saat membahas tema “Kebangkitan Generasi Muslim pada Era Digital”.
Namun, ia menyayangkan, gerakan Gen Z global yang tampak kritis terhadap sistem rusak, tuntutannya hanya fokus ke masalah teknis. “Mereka tidak memahami peta ideologi penyebabnya. Jadilah energi protes mereka ‘terserap’ ke agenda-agenda jangka pendek. Perjuangan mereka mudah dialihkan ke isu-isu yang viral, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Potensi besar generasi muda direduksi oleh kapitalisme menjadi sebuah gerakan sporadis,” bebernya.
Zakiyah menegaskan, perubahan hakiki harus berakar pada ideologi Islam. “Untuk mewujudkan perubahan hakiki, generasi muda harus mengikuti pembinaan intensif Islam kafah, menyuarakan ideologi Islam dan sistem Khilafah sebagai solusi dunia, serta menyatukan pergerakan bersama jemaah dakwah internasional yang fokus memperjuangkan Islam kafah dan Khilafah. Sesungguhnya DNA generasi muda adalah DNA pejuang risalah Nabi saw.,” serunya.
Komitmen
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta dari Bekasi bertanya tentang upaya untuk membangkitkan generasi muda. Sedangkan peserta Tangerang bertanya tentang fenomena generasi muda yang kerap terbawa arus hal-hal yang viral, menurutnya, kita butuh media islami untuk melawan hegemoni digital kapitalisme. Peserta lainnya menyatakan pentingnya pembinaan Islam kafah, baik bagi ibu maupun generasi muda. Adapun peserta aktivis muda dari Jakarta menanyakan tentang adanya ketakutan pada generasi untuk mendakwahkan syariat Islam kafah.
Menjawab pertanyaan para peserta, para narasumber menekankan pentingnya pembinaan Islam untuk menanamkan kepribadian Islam. Mereka menerangkan, Rasulullah saw. melaksanakan pembinaan Islam dalam jemaah dakwah Islam, baik terhadap sahabat senior maupun junior. Jemaah dakwah ini, lanjut mereka, akan membina kader berkepribadian Islam untuk selanjutnya melakukan aktivitas perbaikan masyarakat sehingga generasi muda harus ikut pembinaan dalam jemaah dakwah Islam.
Adapun untuk menghadapi hegemoni digital, para narasumber mengutarakan bahwa yang dibutuhkan adalah sistem politik Islam, yaitu Khilafah. “Rasa takut dalam perjuangan akan berganti dengan rasa tenang karena bersandar kepada Allah Swt. dan yakin pada janji-Nya. Perjuangan memang tidak lepas dari kesulitan, seperti dakwah Rasulullah saw. yang juga mengalami berbagai halangan. Kita harus berkomitmen untuk terlibat dalam perjuangan Islam kafah sepanjang hidup kita,” urai para narasumber.
Berdasarkan keterangan panita, pada akhir acara, semua peserta sepakat untuk terlibat dalam perjuangan Islam kafah. [MNews/RR-RA]
