Kehamilan dan Kelahiran Membahagiakan: Kapitalisme Ancaman bagi Generasi dan Urgensi Kehadiran Khilafah

Kehamilan dan Kelahiran Membahagiakan: Kapitalisme Ancaman bagi Generasi dan Urgensi Kehadiran Khilafah

Penulis: Dr. Rini Syafri

Muslimah News, KOLOM – Kematian ibu dan bayi dalam kandungan yang terjadi di Papua baru-baru ini adalah alarm bahaya peradaban kapitalisme sebagai determinan sosial dan aspek nonklinis fundamental bagi ibu hamil dan bayinya. Ada jutaan ibu hamil dan melahirkan berisiko mengalami hal serupa di negeri ini. Data WHO menunjukkan, satu ibu meninggal dunia setiap dua menit terkait kehamilan dan kelahiran, padahal kematian ini dapat dicegah.[1]

Ini karena peradaban kapitalisme memaksa manusia beraktivitas di seputar nilai materi. Kebutuhan fisik dan nonfisik (naluri) tidak terpenuhi secara benar. Di hulu, kehamilan dan kelahiran yang merupakan proses fisiologis normal berubah menjadi persoalan patologis, yakni berupa berbagai komplikasi yang mengancam nyawa ibu dan bayi. Sedangkan di hilir, tersebab sistem kesehatan dijiwai kepentingan ekonomi/industrialisasi kesehatan, persoalan three delays (tiga terlambat) menjadi tidak teratasi.

Tragedi itu merupakan penegas kegagalan berbagai agenda politik pemerintah dalam mengatasi tingginya angka kematian ibu yang dilangsungkan puluhan tahun. Bahkan, dari angkanya yang persisten tinggi-tinggi, terindikasi justru memperparah persoalan. Di samping tidak menyentuh akar persoalan, juga sarat muatan paham kebebasan berperilaku (hak reproduksi) dan pengarusan industrialisasi dan bisnis kesehatan.

Lalu apa sebenarnya yang dialami ibu hamil dan bayinya dalam peradaban kapitalisme? Bagaimana peradaban Islam sebagai determinan sosial dan sekaligus aspek nonklinis yang fundamental menjadikan setiap kehamilan dan kelahiran membahagiakan?

Menjadi Persoalan Klinis

Sejatinya, kehamilan dan persalinan bukan persoalan patologis. Kedua proses ini adalah peristiwa fisiologis dan alami sebab tubuh wanita dirancang secara biologis untuk mengandung dan melahirkan. Dalam banyak kasus, perawatan prenatal yang tepat tidak membutuhkan intervensi medis yang signifikan secara klinis.[2]

Namun hari ini, keduanya berubah menjadi penyakit atau persoalan klinis. Angka persoalan berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa ibu dan janin cukup tinggi, yaitu 52,2% dan 54,2% ibu bersalin dengan riwayat persalinan Sectio Caesarea.[3]

Di Indonesia, komplikasi kehamilan dan persalinan atau obstetri umum terjadi. Berupa perdarahan berat sebanyak 30,3%; hipertensi kehamilan atau preeklampsia dan eklampsia 27,1%; dan infeksi 7,3%.[4] Diperparah oleh komplikasi non-obstetrik penyakit degeneratif yang angkanya melebihi komplikasi obstetrik.[5]

Demikian pula dengan anemia (kekurangan darah) dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil, menjadi penyebab berbagai komplikasi serius selama kehamilan dan persalinan. Anemia sebanyak 48,9% (menurut Kemenkes RI 2019),[6] dan KEK berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 ada 17%.[7] Terdapat jutaan ibu hamil penderita anemia dan KEK berdasarkan perkiraan data BPS bahwa ada 4,8 juta ibu hamil per tahun.[8] Menurut pengakuan WHO, anemia pada ibu hamil menjadi persoalan global.[9]

Hal itu mengakibatkan sistem kesehatan terbebani tingginya kebutuhan intervensi klinis, seperti tindakan operasi caesar atau caesar-section. Penelitian WHO menunjukkan bahwa peningkatan operasi caesar terjadi secara global, termasuk di Indonesia, kini mencapai lebih dari 1 dari 5 (21%) dari seluruh kelahiran. Diperkirakan angka ini akan terus meningkat selama dekade mendatang, yaitu hampir sepertiga (29%) dari seluruh kelahiran pada 2030.[10]

Semua ini, baik di hulu maupun hilir, menjadi persoalan yang berkepanjangan, mengakibatkan kematian dan penderitaan membayangi setiap kehamilan dan kelahiran.

Aspek Nonklinis Fundamental

Fakta menunjukkan aspek nonklinis atau determinan sosial kesehatan (social determinants of health) adalah penyebab berbagai persoalan klinis tersebut. Mulai dari konsep hak reproduksi yang dijiwai paham kebebasan berperilaku, perempuan sebagai penggerak roda perekonomian, hingga fungsi negara sebagai pelayan korporasi, serta kesehatan untuk pertumbuhan ekonomi. Demikian juga beban ganda ibu, kemiskinan, kurangnya pendidikan, hingga tekanan sosial dan ekonomi dan pemanasan global.[11],[12],[13],[14]. Semua itu melingkupi kehidupan masyarakat hari ini, khususnya ibu hamil dan melahirkan serta janinnya,

Misal, cara pandang kapitalisme tentang perempuan dan ibu, serta tekanan budaya gaya hidup sekuler (gender equality), menuntut perempuan keluar dari fitrahnya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah. Pada saat yang sama, ia dituntut melakukan pekerjaan yang secara fitrah penciptaan bukan tanggung jawabnya, yakni pencari nafkah, tidak terkecuali ibu hamil.

Di sisi lain, masyarakat dalam tekanan kemiskinan yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalisme dan kelalaian negara bersistem politik demokrasi dalam mengurusi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Akibatnya, ibu hamil dan melahirkan berstatus sosial ekonomi rendah. Anemia dan KEK terjadi tidak hanya rendahnya asupan nutrisi, melainkan juga stres oleh pekerjaan dan bukan pekerjaan. Stres pekerjaan seperti keamanan, paparan bahaya, tenggat waktu, dan beban kerja.[15]. Ini karena hamil dalam kondisi stres mengakibatkan penurunan kemampuan metabolisme sehingga terjadi penurunan kadar simpanan zat besi ketika melahirkan.[16]

Dalam konsep kapitalisme, kesehatan persoalan ekonomi dan objek pertumbuhan ekonomi menjadikan sistem kesehatan tunduk pada kepentingan korporasi. Mulai dari fasilitas kesehatan, institusi pendidikan kedokteran, riset dan industri farmasi, hingga asuransi kesehatan, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Untung-rugi menjadi prinsip pengelolaan. Persoalan kesehatan dan keselamatan jiwa ibu dan janinnya menjadi persoalan kesekian. Jadilah fasilitas kesehatan menjadi tempat perjudian nyawa ibu dan janin, sedangkan persoalan three delayed terus terjadi.

Semua itu sehubungan dengan sistem kesehatan yang sangat rapuh. Tampak dari harga-harga yang terus melangit, juga ketersediaan fasilitas kesehatan yang tidak memadai, utamanya di kawasan pedesaan. Demikian juga dengan kurangnya tenaga ahli medis terlatih, di samping persoalan kelangkaan obat-obatan.

Tragisnya, kebijakan negara justru memfasilitasi keberadaan faktor penyebab komplikasi tersebut, baik di sektor kesehatan maupun di luarnya. Misal, di luar sektor kesehatan, gaya hidup gender equality dibudayakan melalui agenda politik pengarusutamaan gender (PUG). Di sektor kesehatan sendiri berupa agenda transformasi kesehatan yang dijiwai oleh liberalisasi dan kapitalisasi kesehatan.

Demikian pula program mengatasi persoalan tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Tidak terkecuali program Midwifery Capacity advanced for Equitable Sexual and Reproductive Health and Reproductive Rights (MARCH), serta pencanangan oleh MenKes tentang perbaikan sistem kegawatdaruratan dan peningkatan frekuensi Antenatal Care (ANC) hingga 8 kali. [17],[18]

Apabila ditelisik, penyebab determinan sosial menjadi aspek pemicu persoalan klinis adalah sifatnya sebagai determinan sosial kesehatan kapitalisme. Ia berwujud peradaban yang dibangun di atas landasan pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Gambaran tentang kehidupan adalah manfaat tanpa peduli halal-haram. Kebahagiaan dimaknai dengan meraih kenikmatan materi sebanyak-banyaknya. Manusia dipaksa beraktivitas di seputar nilai materi, baik oleh sistem ekonomi kapitalisme maupun sistem politik demokrasi. Demikian juga sistem pergaulan, kesehatan, serta kehidupan sekuler secara keseluruhan.

Akibatnya, kebutuhan fisik dan nonfisik (naluri) insan tidak terpenuhi secara benar. Proses fisiologis normal pada ibu hamil dan melahirkan serta janinnya berubah menjadi persoalan patologis, dan berujung kematian sebagai akibat buruknya layanan kesehatan.

Urgensi Kehadiran Peradaban Islam

Islam bukanlah (sekadar) agama sebagaimana dalam pandangan Barat. Ia adalah satu-satunya ideologi sahih yang mampu menyolusi semua persoalan kehidupan manusia sepanjang zaman.

Peradaban Islam sebagai determinan sosial kesehatan atau aspek nonklinis yang fundamental akan menyolusi dan menjadikan kehamilan dan kelahiran sebagai proses fisiologis normal, bukan penyakit atau persoalan klinis. Ketika ada kasus klinis, akan diobati dengan pelayanan terbaik dan metode pengobatan yang memberikan kesembuhan segara dengan tanpa bekas ataupun berefek negatif pada bayi dan janin.

Islam memiliki sekumpulan pandangan sahih tentang perempuan dan potensi berketurunan pada bani insan. Islam juga memiliki pandangan sahih tentang fungsi negara dan kesehatan, termasuk upaya preventif sebagai upaya kesehatan yang diprioritaskan.

Dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga, yakni ‘’irdhun waajibun ayushaana”.[19] Naluri berketurunan diciptakan Allah Swt. untuk lestarinya ras manusia. Oleh karenanya, kemunculan dan pemenuhannya diatur dengan sekumpulan aturan syariat Islam, yakni berupa sistem pergaulan dalam Islam.[20]

Islam memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil dengan sebutan “wahnan ‘ala wahnin”. Firman Allah Swt. dalam QS Luqman [31] ayat 14, “… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” Pada saat yang sama, Islam berpandangan bahwa terawatnya kesehatan insan sepanjang hayat dengan menjadi upaya pencegahan penyakit adalah yang utama.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh membahayakan dan dibahayakan.” (HR Al-Hakim). Kesehatan pun dipandang sebagai kebutuhan pokok setiap insan. Sabdanya, “Barang siapa pada pagi hari aman kelompoknya, sehat fisiknya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR Imam At-Tirmizi).

Di sisi lain, negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) urusan kehidupan masyarakat, termasuk yang paling bertanggung jawab memenuhi berbagai hajat hidup sebagai insan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Penguasa itu pengurus dan penanggung jawab urusan rakyatnya.” (HR Imam Bukhari).

Islam sebagai determinan sosial kesehatan dan berwujud peradaban Islam, dibangun di atas akidah Islam. Pandangan tentang kehidupan adalah halal-haram, dan pandangan kebahagiaan adalah diraihnya rida Allah Taala. Hal ini menjadikan aktivitas kehidupan masyarakat terikat dengan hukum syarak dengan dorongan meraih rida-Nya.

Negara juga hadir sebagai pelaksana syariat secara kafah dengan berbagai agenda politiknya untuk mewujudkan tujuan dari keberadaan masyarakat Islam, dalam hal ini khususnya untuk menjaga lestarinya ras keturunan manusia. Alhasil, semua orang ada dalam ketaatan pada syariat Allah Taala.

Dengan demikian, niscaya terwujud secara serasi nilai-nilai yang dibutuhkan setiap insan, baik materi, moral, spiritual, maupun kemanusian. Juga sebagai kunci rahasia terwujudnya proses fisiologis normal selama kehamilan dan kelahiran, bukan menjadi persoalan patologis. Kebutuhan setiap insan—ibu hamil dan melahirkan—pun dapat terpenuhi secara benar, baik naluri maupun fisik, sebagai upaya preventif yang sesungguhnya.

Upaya Kuratif Berbasis Sistem Kesehatan Islam

Meskipun bukan persoalan patologis, kondisi ibu hamil yang lemah dan bertambah lemah seiring bertambahnya usia kehamilan, mengharuskan ibu hamil mendapat perhatian terhadap kesehatannya secara khusus. Dari pelayanan sebelum kelahiran Antenatal Care (ANC) dengan pemeriksaan kehamilan secara berkala sebagaimana yang dibutuhkan, hingga pelayanan klinis operasi caesar secsio.

Pelayanan berkualitas terbaik dapat mudah diakses oleh setiap ibu hamil dan melahirkan karena pelayanan kesehatan diselenggarakan dengan konsep kekuasaan sentralisasi dan aspek administrasi bersifat desentralisasi. Wajib mengacu pada tiga prinsip: sederhana dalam aturan, cepat dalam pelaksanaan, dan dilakukan oleh SDM kesehatan yang kapabel, khususnya bidan dan para dokter.

Sistem kesehatan Islam yang steril dari aspek bisnis dan industrialisasi, serta pilar-pilarnya yang kuat, meniscayakan tersedia fasilitas pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan melahirkan hingga ke pelosok desa. Tidak sekadar ada, melainkan memadai dari segi fasilitas medis dan nonmedis, termasuk SDM kesehatan, seperti bidan dan dokter ahli yang dibutuhkan. Alhasil, persoalan three delays niscaya teratasi.

Oleh karena itu, kehadiran kembali peradaban Islam yang bersifat penyejahtera sekaligus menjadi determinan sosial kesehatan adalah perkara mendesak. Lebih dari itu, kembali pada pangkuan peradaban Islam, Khilafah, adalah perkara yang diwajibkan syarak kepada kita semua.

Firman-Nya, “Wahai manusia sungguh telah datang kepadamu pelajaran-Al-Qura’n (dari Rabbmu), penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus [11]: 57). [MNews/GZ]


[1]https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality

[2] https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0091218299000609

[3]https://ejr.umku.ac.id

[4] Ministry of Health Republic Indonesia. Situation of Mother Health (Situasi Kesehatan Ibu). Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta: Ministry of Health; 2014:1–6, dalam https://pdfs.semanticscholar.org. Perceived Barriers in Accessing Health Care and the Risk of Pregnancy Complicatios in Indonesia

[5] https://ugm.ac.id/id/berita/keterlambatan-diagnosis-jadi-faktor-penyebab-kematian-ibu-dan-bayi-masih-tinggi

[6] https://lms.kemkes.go.id/courses/409a6168-c132-4c45-9b8a-ad43ac58ef60

[7] https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/

[8] https://www.bps.go.id/id/publication/2024/12/31/a919c55a72b74e33d011b0dc/profil-kesehatan-ibu-dan-anak-2024.htm l

[9] https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12078964/ “Anemia during pregnancy remains a significant global health concern, particularly in developing countries. The World Health Organization (WHO)”.

[10] https://www.who.int/news/item/16-06-2021-caesarean-section-rates-continue-to-rise-amid-growing-inequalities-in-access

[11] https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4287506; Risk factors for reported obstetric complications and near misses in rural northwest Bangladesh: analysis from a prospective cohort study

[12] https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3014866/. zugbara CO, Ngilangwa DP. Women, poverty and adverse maternal outcomes in Nairobi, Kenya. BMC Womens Health. 2010;10:33. doi: 10.1186/1472-6874-10-33.

[13] Hariyanti dan Astuti, Y. L. Antenatal Care dan Komplikasi Persalinan di Indonesia: Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. JMSWH Journal of Midwifery Science and Women’s Health Volume 1, Nomor 2 Tahun 2021 ISSN (online) : 2723-160n, particularly in developing countries. The World Health Organization (WHO)”.

[13] 7 DOI: xx.xxxxx/jmswh.vxix.xx

[14] https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12390898/; As theplanes warms, women pay the price: the climate change and reproductive heath crisis.

[15] https://www.ccohs.ca/oshanswers/psychosocial/wh/reproductive-health-pregnancy-in-the-workplace.html

[16] https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0022347618305948#:~:text=Conclusions “Maternal recall of stress during pregnancy was associated with lower iron stores at birth. High cord blood ZnPP/H, reflecting low erythrocyte iron, was correlated with the likelihood of stage iron deficiency at 1 year, when rapid growth can deplete storage iron in breastfed infants.

[17] https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-pastikan-langkah-perbaikan-sistem-kegawatdaruratan-usai-tragedi-irene-sokoy

[18] https://www.antaranews.com/berita/5271049/kemenkes-bakal-tetapkan-8-kali-anc-mulai-2026-tekan-kematian-ibu-anak

[19] An-Nabhani, T. An Nizhamul Islam.

[20] An Nabhani, T. An Nizhamul Ijtima’i.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *