Muslimah News, NASIONAL — Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan, nilai matematika Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA 2025 terbilang buruk. Menurutnya, rendahnya capaian nilai siswa dalam TKA terutama bukan semata soal kecerdasan, melainkan karena metode pengajaran dan buku ajar yang belum mendorong minat belajar.
Pemerhati kebijakan pendidikan Noor Afeefa menyatakan, rendahnya nilai TKA Matematika SMA ini membuktikan kelalaian negara yang belum mampu meningkatkan kualitas literasi numerasi. “Kondisi ini tentu memprihatikan. Sebabnya, matematika merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai sejak jenjang pendidikan dasar sesuai tahapan perkembangan usia,” tuturnya kepada MNews, Kamis (4-11-2025).
Masalah ini juga, sambungnya, bukan sekadar teknik atau metode mempelajari matematika sebagaimana disampaikan pihak Kemendikdasmen. “Misalnya, belum diterapkannya metode pembelajaran mendalam (deep learning) yang baru saja diluncurkan Menteri Abdul Mu’ti atau terkait kemampuan guru dalam mengajar matematika,” jelasnya.
Noor menilai, jika ditelusuri lebih mendalam, hal ini sebenarnya terkait dengan kurikulum pendidikan yang sekuler kapitalistik. “Problemnya pun bukan hanya di jenjang SMA, bahkan sejak jenjang pendidikan dasar,” ujarnya.
Sekuler Kapitalistik
Ia mengatakan, pembelajaran matematika dalam kurikulum pendidikan sekuler kapitalistik tidak didasarkan pada akidah Islam. “Padahal, landasan ini sangat penting untuk mendorong murid mempelajari bidang ilmu yang cukup luas penggunaannya ini,” imbuhnya.
Dalam Islam, ungkapnya, banyak perkara terkait syariat yang menuntut pemahaman matematika secara baik, seperti hukum waris, penghitungan zakat, transaksi atau muamalah, penentuan arah kiblat, dan sebagainya. “Bahkan, hampir semua sisi kehidupan manusia bersinggungan dengan matematika. Kita pun dituntut untuk menyelesaikannya dengan ilmu sehingga akidah Islam seharusnya menjadi spirit belajar yang paling kuat,” tegasnya.
Namun, terangnya, ketika hal mendasar tersebut tidak ada dalam kurikulum pendidikan hari ini, maka dorongan murid untuk mempelajari matematika menjadi minim. “Akibatnya, dikenallah matematika sebagai ilmu yang menyeramkan, sulit, dan hanya layak diperdalam oleh kalangan pintar. Sedangkan, sebagian lainnya berputus asa di awal mempelajari matematika dan menjadikannya beban. Ini tentu sangat tidak produktif,” cetusnya.
Mirisnya lagi, ia menyatakan, matematika dipelajari secara sekuler. “Belajar matematika bagaikan belajar dunia lain, di awang-awang, tidak dikaitkan dengan kehidupan. Meski hal ini terkait dengan teknis mengajarkan ilmu yang benar, tetapi nyatanya kurikulum sekuler pun gagal dalam memberikan metode yang tepat dalam pengajaran,” kritiknya.
Di sisi lain, ulas Noor, negara juga gagal dalam memberikan iklim kondusif bagi pembelajaran. “Dirasakan betul, tantangan yang dihadapi murid saat ini sangat banyak. Media sosial yang menggerus daya nalar, bahkan juga kesulitan ekonomi sehingga murid minim dalam mengakses media pembelajaran. Belum lagi padatnya kurikulum atau mata pelajaran lain yang membuat murid kehilangan fokus dan kesempatan memperdalam ilmu,” paparnya.
Ditambah lagi, ujarnya, pemahaman matematika yang rendah terkait juga dengan kemampuan guru. “Ini harus menjadi evaluasi bagi pemerintah. Sudahkah menyediakan guru berkompeten di bidang ini, juga sarana atau media pembelajaran yang mendukung? Ini semua pada dasarnya terkait dengan sistem pendidikan yang diselenggarakan negara saat ini,” urainya.
Perubahan Fundamental
Oleh karenanya, Noor mengingatkan, menguatkan kemampuan literasi numerasi hari ini menuntut perubahan fundamental dengan menjadikan Islam sebagai landasan bagi sistem yang dibangun di atasnya, yaitu sistem pemerintahan Khilafah.
Dalam Khilafah, ujarnya, kurikulum pendidikan berasas Islam. “Ini memberikan dorongan kuat dan sahih bagi murid untuk mempelajari matematika dengan sungguh-sungguh. Murid pun paham dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan karena matematika dipelajari sesuai jenjang usianya,” ungkapnya.
Ia menerangkan bahwa dalam kitab Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Islam) karya ‘Atha bin Khalil dijelaskan bahwa materi pelajaran matematika dimulai dengan sistem bilangan dan praktik berhitung sederhana, seperti penjumlahan dan pengurangan.
“Kemudian meningkat pada perkalian dan pembagian, lalu pecahan dan praktik-praktiknya, serta aljabar dan persamaan. Pada jenjang lebih tinggi, diberikan konsep matematika lebih sempurna dan lebih tinggi. Demikian seterusnya sehingga terpenuhi secara sempurna kurikulum matematika pada jenjang sekolah,” jabarnya.
Dengan mekanisme ini, jelasnya, murid siap melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dengan dasar-dasar ilmu matematika yang mumpuni. “Bahkan bagi yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi pun telah memiliki bekal cukup dalam kemampuan berhitung dan berbagai aplikasi kehidupannya,” tuturnya.
Selain itu, urainya, Negara Khilafah juga akan menyediakan guru berkompeten yang dihasilkan dari lembaga pendidikan guru berbasis Islam. “Negara akan memenuhi kebutuhan sarana pembelajaran matematika sehingga murid lebih paham. Anggaran bukan beban karena negara memiliki sumber pendapatan yang cukup untuk membiayai kebutuhan pendidikan,” katanya.
Noor menekankan, penerapan hukum syariat di semua sisi kehidupan oleh negara akan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi proses pembelajaran. “Murid menjadi lebih fokus dan memahami dengan baik. Demikianlah cara Khilafah menguatkan pembelajaran matematika di sekolah,” tandasnya. [MNews/RA]

Astaghfirullah