Muslimah News, NASIONAL— Persoalan kesejahteraan guru masih menjadi sorotan, padahal mereka memiliki peran penting dalam membentuk generasi. Kondisi ini mendapat perhatian para guru muslimah inspiratif se-Indonesia yang mendiskusikannya dalam forum bertema “Mewujudkan Guru Sejahtera dan Generasi Cemerlang dengan Islam Kafah” yang dilaksanakan secara hibrida, Ahad (23-11-2025).
Guru Sejahtera?
Aktivis dakwah nasional Iffah Ainur Rochmah mengawali pemaparannya dengan sebuah pertanyaan, “Sudahkah guru sejahtera dan bahagia?” Apalagi, ungkapnya, berdasarkan fakta, kesejahteraan guru di Indonesia masih jauh dari harapan.
Menurutnya, untuk memahami sejahtera dan bahagia perlu merujuk pada Islam. “Bahagia hakiki itu ketika mendapatkan rida Allah, yakni mengikuti aturan-Nya,” ujarnya.
Dalam ajaran Islam, urainya, kebahagiaan itu akan diperoleh ketika individunya bertakwa, masyarakat memiliki kepedulian dan melakukan amar makruf nahi mungkar, serta negara menjaga penerapan Islam secara kafah.
“Hal itu pernah terwujud dalam peradaban Islam yang menjadi mercusuar kemajuan dunia. Saat itu, guru dapat menikmati kesejahteraan, begitu pula siswa dan semua rakyat. Dalam peradaban Islam tersebut, guru bisa fokus dalam mendidik generasi dan semua fasilitas tersedia,” paparnya.
Senada dengan itu, praktisi pendidikan Dwi Hendriyanti, S.Pd. mengutarakan bahwa guru sering disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. “Guru disebut ‘pahlawan’ karena perannya sangat besar dalam membentuk masa depan bangsa walaupun tidak mengangkat senjata. Sedangkan disebut ‘tanpa tanda jasa’ karena menjadi simbol keikhlasan. Namun, apakah saat ini guru merasa real bahagia?” tanyanya retoris.
Ia membeberkan, pada kenyataannya tingkat stres guru lebih tinggi daripada pekerjaan lain. “Ada beban administrasi, menyiapkan media pembelajaran, menghadapi siswa yang kurang baik. Di sisi lain, ada guru yang belum dibayar gajinya hingga harus berutang untuk mencukupi kebutuhan,” ujarnya miris.
Akibatnya, ia melanjutkan, guru akan merasa tidak bahagia. “Ini berpengaruh terhadap dirinya yang mengalami tekanan batin yang besar. Kemudian saat mengajar, kelas akan kehilangan energi positif. Ditambah lagi terhadap kualitas pendidikan, guru menjadi tidak maksimal dalam berinovasi, pengembangan diri, dan pengembangan metode belajar sehingga keteladanannya pun menurun,” jelasnya.
Perubahan
Menghadapi kondisi tersebut, pengamat pendidikan dan generasi Yusriana menyatakan, harus ada perubahan.
Dalam paparannya, ia mengutip pendapat Syekh Ahmad Athiyath dalam Ath-Thariq bahwa manusia tidak akan berpikir tentang perubahan, kecuali jika ia mengindra di sekelilingnya terjadi realitas kerusakan, keburukan, atau kondisi yang seharusnya tidak terjadi. “Namun, kesadaran atas buruknya kerusakan atau realitas buruk tersebut tidak cukup untuk mendorongnya beramal dalam rangka mengubah keadaan, kecuali jika ia memahami realitas penggantinya,” kutipnya lagi.
Ia menjelaskan, untuk memulai perubahan harus dimulai dari pemahaman bahwa perubahan hakiki yang diinginkan adalah dengan menuju kehidupan islami sebagai konsekuensi keimanan. “Dalam hal ini, berupaya melaksanakan syariat Islam kafah untuk menegakkan peradaban Islam,” ucapnya.
Peradaban Islam atau Khilafah Islam, sambungnya, akan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dengan berbagai mekanisme sesuai aturan syariat. Dengannya, ia menuturkan, guru pun mendapatkan kesejahteraan dengan gaji amat layak. “Contohnya, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, guru memperoleh gaji 15 dinar per bulan atau sekitar Rp60 jutaan. Kemudian pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, gaji guru sekitar 11—40 dinar per bulan atau Rp46 juta hingga Rp170 juta,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, dalam Islam, negara bertanggung jawab dalam melindungi generasi, yakni dengan menjaga suasana ketakwaan, sistem ekonomi yang menyejahterakan, serta menyediakan informasi dan kurikulum pendidikan yang membentuk kepribadian Islam. “Juga menjaga sistem pergaulan, sistem sanksi, proteksi dan rehabilitasi, serta melakukan cegah tangkal isme-isme yang non-Islam,” jabarnya.
Namun, ucapnya, yang mampu menjalankan semua fungsi dan tanggung jawab tersebut hanya negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh atau kafah, yaitu Daulah Khilafah Islamiah. “Khilafah Islam terbukti mampu melahirkan generasi bertakwa dan peradaban yang cemerlang,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia berharap, agar perubahan ini dapat menjadi kenyataan, para guru muslimah yang hadir dapat menyadari akar persoalan yang terjadi saat ini adalah penerapan sekularisme. “Kemudian, memperkukuh keyakinan bahwa hanya Islam sebagai solusi masalah kehidupan, menyadari bahwa tegaknya Islam harus diperjuangkan, memahami bahwa perjuangan membutuhkan kontribusi semua elemen umat, dan bersegera untuk terlibat langsung dalam perjuangan Islam,” tandasnya. [MNews/RA]
