Muslimah News, INTERNASIONAL — Utusan Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengumumkan bahwa timnya sedang berupaya menyelesaikan perjanjian damai antara Aljazair dan Maroko berkenaan dengan masalah Sahara Barat. Hal ini disampaikan dalam wawancara televisi yang ia lakukan dengan Jared Kushner pada program CBS “60 Minutes” (19-10-2025). “Kami sedang menangani Aljazair dan Maroko saat ini dan akan ada kesepakatan damai di sana dalam 60 hari ke depan, menurut saya,” ujarnya.
Sahara Barat, sebuah hamparan gurun seluas Britania Raya, telah menjadi panggung sengketa teritorial terlama di Afrika sejak kekuatan kolonial Spanyol hengkang pada 1975 dan Maroko mencaplok wilayah tersebut.
Mewujudkan Kolonialisme
Merespons hal ini, aktivis muslim Ustaz Munajji Muhammad menyampaikan pandangannya. Kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (5-11-2025), ia menilai, kesepakatan damai tersebut merupakan “resep” Trump untuk mewujudkan kolonialisme.
“Masalah Sahara Barat telah menjadi aspek paling berbahaya dari konflik kolonialis Amerika-Eropa di ujung barat dunia muslim sejak pertengahan 1970-an,” ujarnya.
Bahkan, lanjutnya, pengakuan Trump terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara dan dukungannya terhadap rencana otonomi sebagai satu-satunya solusi yang layak, merupakan bagian dari strategi ekonomi dan komersial Trump. “Juga berkaitan dengan visinya tentang dunia sebagai pasar untuk kesepakatan dan keuntungan yang akan ia dapatkan,” jelasnya.
Dalam analisisnya, Trump memandang Sahara sebagai wilayah perawan yang kaya akan mineral strategis, pintu gerbang ke Afrika bagi kapitalisme Amerika Serikat (AS), dan basis bagi pengaruh politik, militer, dan ekonominya di wilayah Maghrib (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Mauritania) yang harus direbut dan tunduk pada kendali kolonialis AS.
“Pernyataan Witkoff tentang perjanjian damai dalam 60 hari ke depan dan timnya sedang mengupayakannya, menunjukkan bahwa langkah-langkah praktis dan kontak dengan pihak-pihak terkait sedang berlangsung,” imbuhnya.
Apalagi, ungkapnya, penasihat urusan Afrika Massad Boulos yang mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan saluran Saudi al-Sharq bahwa Aljazair menginginkan solusi fundamental dan final untuk sengketa Sahara Barat.
“Boulos menyatakan optimismenya tentang kemungkinan penyelesaian perselisihan ini seraya menambahkan bahwa ia baru-baru ini bertemu dengan Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune dan mendapat sambutan baik untuk membangun kembali jembatan kepercayaan dengan rakyat Maroko,” tuturnya.
Mengenai Maroko, ia mengutip perkataan Boulos bahwa bagi Trump dan Washington, kedaulatan Maroko atas Sahara sepenuhnya tidak dapat diubah dan tidak dapat diperdebatkan sama sekali.
“Hal ini menunjukkan bahwa rezim di Maroko dan Aljazair terlibat dalam kesepakatan kolonialis AS, terutama mengingat Trump menggunakan rezim Saudi sebagai perantara untuk mempercepat kesepakatan tersebut. Baik Tebboune maupun Mohammed VI menerima pesan secara bersamaan dari Mohammed bin Salman, yang diyakini sebagian orang terkait dengan upaya mediasi untuk menyelesaikan sengketa antara Rabat dan Aljazair,” jabarnya.
Yang mengejutkan, ucap Ustaz Munajji, adalah pernyataan Witkoff tentang pengabaian sepenuhnya terhadap Front Polisario, gerakan separatis nasionalis di Sahara, kemudian membatasi masalah tersebut hanya pada Maroko dan Aljazair.
Menurutnya, ini menunjukkan kemungkinan bahwa pemerintahan Trump telah meninggalkan “kartu” Front Polisario dan sekarang mengandalkan strategi kapitalis Trump berupa kesepakatan ekonomi dan perdagangan untuk mendobrak pintu dan mencabut kunci untuk menembus kedua rezim secara langsung tanpa Polisario.
“Adapun motif keterlibatan Aljazair dan Maroko dalam kesepakatan Trump adalah untuk mengamankan kelanjutan kedua rezim yang menjadi agen Inggris khususnya, dan kesediaan mereka untuk membayar harga selangit agar mendapat jaminan keamanan palsu dari dominasi AS di wilayah tersebut,” ulasnya.
Konsekuensi
Ustaz Munajji pun mengkhawatirkan terjadinya konsekuensi bencana yang sangat menghancurkan bagi Maroko terkait pengakuan Trump tersebut.
“Pertama, memungkinkan sistem kapitalisme Amerika yang jahat dapat mengeksploitasi sumber daya Sahara, terutama mineral langka yang strategis,” sebutnya.
Kedua, bebernya, menembus sektor pertanian negara ini melalui pertanian hibrida, benih hasil rekayasa genetika, pakan ternak, dan peternakan oleh kekuatan monopoli kapitalis Amerika. “Juga merampas buah-buahan langka Maroko, seperti buah pir berduri dan pohon argan, memonopoli mereka dalam industri kosmetik, selain proyek penangkapan ikan laut, dan memonopoli produk makanan laut tertentu,” terangnya.
Ketiga, tuturnya, yang paling berbahaya adalah penempatan komando militer kolonial AS untuk Afrika, yaitu Komando Afrika-Amerika Serikat (USAFRICOM) di jantung Maroko. Kini, tambahnya, AS sedang menyelesaikan relokasinya ke Maroko.
“Situs web Hespress melaporkan bahwa Maroko mencalonkan beberapa kota untuk menjadi tuan rumah, seperti Laayoune, Dakhla, Boujdour, dan Agadir. Namun, AS menunjukkan preferensi untuk Kenitra atau Ksar al-Kebir karena alasan historis, teknis, dan logistik, termasuk keberadaan bekas pangkalan udara AS di Kenitra dan keinginan mereka untuk memperluas landasan pacunya agar dapat menampung pesawat militer besar yang membutuhkan peralatan khusus,” ulasnya.
Pangkalan ini, paparnya, akan berfungsi sebagai pangkalan terbesar bagi penjajah AS di wilayah barat negara-negara muslim dan di jantung Maroko. “Dengan itu, AS tidak akan menerima apa pun selain kesetiaan dan ketundukan penuh kepadanya, yang berarti bahwa Maroko berada di ‘mulut gunung berapi’ penjajah, dan tidak akan lama lagi ‘gunung’ itu akan meletus. Sedangkan terkait rezim di Aljazair, rezim tersebut telah terperangkap dalam cengkeraman kolonialisme AS,” bebernya.
Jadi, ia menyimpulkan, AS berupaya menjarah Sahara untuk perusahaan-perusahaannya, membangun pangkalan bagi tentaranya, dan menggunakannya sebagai pintu gerbang ke Afrika untuk melakukan kolonialisasi dan penetrasi ke seluruh negara Maghrib.
“Mereka menghadirkan rezim-rezim pengkhianat di Maroko dan Aljazair. Selama rezim-rezim yang merupakan agen kolonialisme ini tetap berkuasa, kita tidak memiliki apa pun selain rezim-rezim yang merugikan dan agen-agen yang para penguasanya adalah penjaga kolonialisme,” tandasnya. [MNews/RA]

Astaghfirullah
Jangan tertipu
Astaghfirullah, semoga khilafah segera tegak