Muslimah News, INTERNASIONAL — Perdana Menteri Zion*s Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa tidak perlu restu Amerika Serikat (AS) untuk menyerang negara mana pun, padahal gencatan senjata tengah berlangsung di Gaza dan Lebanon. “Kami tidak perlu restu siapa pun untuk menyerang yang kami mau,” ucapnya dalam rapat kabinet di Yerusalem, Ahad (26-10-2025).
Ia menyebut “Israel” adalah negara merdeka sehingga akan membela diri dengan cara sendiri dan akan terus menentukan nasibnya sendiri. “Jadi kami tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk itu. Keamanan kami ada di tangan kami sendiri,” katanya.
Kepentingan Domestik
Menurut Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi, pernyataan Netanyahu tersebut lebih untuk kepentingan politik domestik. “Kita tahu bahwa saat ini Netanyahu sedang menghadapi kasus korupsi. Karena itu, Netanyahu ingin menampakkan citra “Israel” yang kuat dan mandiri di bawah kepemimpinannya,” paparnya dalam diskusi di kanal Khilafah News, Sabtu (1-11-2025), bertema “Netanyahu Tantang Dunia, Perang Tanpa Restu Siapa pun!”
Pesan ini, lanjutnya, sesungguhnya ditujukan kepada rakyat Zion*s Israel bahwa mereka bisa sendiri tanpa bantuan AS. “Ini dilakukan untuk mendapatkan dukungan politik domestik atau bisa kita sebut mobilisasi dukungan domestik. Netanyahu berharap, ini akan memupuk rasa patriotisme dan solidaritas di dalam negeri,” terangnya.
Padahal, sindirnya, nyata-nyata Zion*s sangat bergantung kepada AS. “Tanpa AS, kemampuan militer Zion*s sangat terbatas. Demikian juga, Zion*s mendapat dukungan politik dan diplomatik AS dalam tatanan global. Amerikalah yang sering memveto resolusi PBB yang dianggap merugikan entitas penjajah Yahudi. Ada pula kerja sama intelijen dan keamanan yang sangat tergantung kepada AS. Belum lagi bantuan ekonomi dan investasi. Juga jangan kita lupakan, arogansi Zion*s tidak bisa dilepaskan dari ketertundukan penguasa-penguasa Arab di bawah kendali AS,” ulasnya.
Selain itu, Farid memandang, pernyataan Netanyahu menunjukkan bahwa negara seperti entitas penjajah Yahudi ini bisa bertindak sesuka hati tanpa takut pada hukum-hukum internasional. “Ini karena semuanya di bawah lindungan AS. Sementara PBB, HAM Internasional, dan norma-norma sekuler tidak mampu menahan agresi negara-negara imperialis, seperti AS. Sistem sekuler tidak menjamin keamanan wilayah-wilayah yang ditindas” kritiknya.
Jadi, tegas Farid, perdamaian yang digaungkan adalah kedok, perjanjian perdamaian itu sesungguhnya rekayasa Washington yang disajikan sebagai bentuk perdamaian. “Namun kenyataannya, sebenarnya menguatkan proyek kolonial Zion*s. Istilah-istilah seperti gencatan senjata, bantuan kemanusiaan itu istilah-istilah palsu karena diselenggarakan justru oleh pihak yang sama yang menghancurkan Gaza,” cetusnya.
Oleh karena itu, ia menegaskan, siapa pun yang memiliki naluri dan nalar yang sehat akan melihat jelas bahwa sistem sekuler kapitalisme gagal menegakkan keadilan, sebaliknya justru menjadi alat legitimasi penjajahan. “Bahkan genosida, eksploitasi, dan ketidakadilan terus berlangsung untuk kepentingan elite-elite politik kapitalis,” ucapnya.
Sistem Alternatif
Untuk itu, menurutnya, sangat nyata bahwa masyarakat sekarang butuh sistem alternatif, tidak lain pilihannya hanya Islam. “Islam itu berbasis wahyu yang menolak eksploitasi dan penjajahan, menjamin keadilan tanpa diskriminasi suku, bangsa, bahkan agama. Kekuasaan dijalankan dengan aturan yang bersumber dari Allah Swt., bukan untuk kepentingan elite politik,” ujarnya.
Apalagi, ungkapnya, jika dikaitkan bahwa penyelesaian konflik Palestina bukan hanya masalah politik lokal, tetapi perlawanan terhadap kegagalan sistem global sekuler. “Maka, sistem Islam menjadi solusi komprehensif untuk menangani persoalan-persoalan dunia sekarang. Apalagi, prinsip mendasar dari Islam adalah menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia,” tandasnya. [MNews/RA]

Hanya Islam satu2nya solusi menuju pada perubahan yg hakiki
Alhamdulullah
Sepakat hanya penerapan sistem Islam yang bisa menuntaskan problem saat ini