Muslimah News, INTERNASIONAL— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm al-Sheikh yang digelar di International Congress Centre, Sharm al-Sheikh, Republik Arab Mesir, pada Senin (13-10-2025). Forum Tingkat Tinggi ini mempertemukan sejumlah pemimpin dunia untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di Gaza.
Pengamat hubungan internasional Dr. Hasbi Aswar menilai, KTT ini bagian dari proyek Amerika Serikat (AS). “Ini bagian dari proyek Trump sehingga kita tidak bisa berharap ini akan menyelesaikan persoalan Gaza,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (25-10-2025).
Dalam perspektif Trump, lanjutnya, yang menjadi akar masalah Gaza adalah para pejuang di sana. “Dalam bahasa mereka, para pejuang itu adalah kelompok pemberontak, kelompok teroris. Nah dari perspektif ini saja sudah menyalahkan warga Gaza. Padahal, yang melakukan penghancuran di Gaza itu bukan kelompok pejuang, tetapi Zion*s Yahudi,” kritiknya.
Ia menyesalkan, KTT di Mesir justru tidak mempersoalkan Zion*, yang dipersoalkan adalah gencatan senjata, dan pemerintahan di Gaza. Hasbi juga mengatakan bahwa dalam KTT tersebut Ham*s tidak dilibatkan karena dianggap sebagai akar masalah.
Mengamankan Zion*s
Menurut Hasbi, kepentingan utama AS dalam KTT tersebut adalah mengamankan kepentingan Zion*s. “Semua proses ke depan di Gaza walaupun melibatkan negeri-negeri muslim tetap saja tidak menguntungkan warga Palestina, Gaza, Tepi Barat, tetapi yang diuntungkan adalah Zion*s Yahudi dan AS,” jelasnya.
Terkait kesiapan Prabowo mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza, Hasbi mengatakan, itu hanya bahasa normatif. “Ya enggak mungkin lah! Jurnalis saja tidak boleh masuk, aktivis kemanusiaan tidak boleh masuk. Padahal tujuan mereka hanya ingin mengirim bantuan makanan. Kenapa Zion*s tidak mengizinkan? Karena makin banyak orang luar masuk ke Gaza, makin terbukti kekejian dan kekejaman Zion*s yang selama ini ditutup-tutupi,” tegasnya.
Ia menyampaikan alasan pidato Prabowo di KTT itu banyak di-mention. Menurutnya, karena Prabowo mengatakan bahwa Palestina punya hak hidup, Zion*s punya hak hidup. ”Ini menjadi sinyal positif buat AS dan Zion*s bahwa Indonesia berpotensi menjadi teman secara formal di kemudian hari. Kenapa saya katakan formal? Karena kalau secara informal Indonesia sudah punya banyak hubungan dengan Zion*s. Cuma kan masih sembunyi-sembunyi,” paparnya.
Ia menambahkan, hubungan sembunyi-sembunyi itu belum diformalkan dalam bentuk hubungan diplomatik resmi. “Jadi bukan karena Indonesia punya kontribusi, tetapi karena AS ingin menyenangkan pemerintah kita agar lebih mudah dibujuk untuk melakukan normalisasi dengan Zion*s,” jelasnya.
Ia menduga, jika KTT ini membuat Gaza makin stabil, maka upaya untuk mendekatkan Zion*s dengan negara-negara muslim, termasuk Indonesia, pasti akan kembali dilakukan sebagai kelanjutan dari Abraham Accord.
Di Atas Angin
Dalam pandangan Hasbi, rencana demiliterisasi Gaza akan membuat Zion*s di atas angin. “Sebenarnya demiliterisasi pernah diterapkan di negara-negara Eropa, tetapi mereka punya jaminan perlindungan dari negara-negara besar. Kalau Gaza didemiliterisasi, siapa yang akan menjamin keamanan Gaza atau Palestina? Tepi Barat sudah didemiliterisasi sejak 1994 di Perjanjian Oslo. Lalu siapa yang melindungi ketika terjadi pelanggaran terhadap hak-hak Tepi Barat? Enggak ada. Bahkan selama ini yang melakukan perlawanan terhadap kezaliman Zion*s bukan Tepi Barat, tetapi para pejuang Gaza!” terangnya.
Thufan al-Aqsha yang dilakukan pejuang Ham*s, kata Hasbi, bukan karena Gaza diserang, tetapi karena Tepi Barat diserang, Yerusalem dihantam. ”Tepi Barat tidak bisa diandalkan untuk melawan Zion*s karena sudah berhubungan mesra dengan Zion*s dan AS, dan secara militer sudah dilemahkan,” tandasnya.
Gara-gara demilitarisasi itu, ucapnya, membuat Zion*s merasa aman, nyaman untuk terus melakukan ekspansi pemukiman. ”Tepi Barat yang dulunya dikontrol penuh Palestina, sekarang dikerat-kerat Zion*s melalui pemukiman-pemukiman baru yang didirikan. Jadi kalau demiliterisasi diberlakukan secara penuh di Gaza sama saja dengan memberikan leher warga Palestina untuk disembelih Zion*s tanpa perlawanan sama sekali,” ingatnya.
Hasbi meyakini, kalau sampai demiliterisasi di Gaza diberlakukan, negara-negara Arab tetangga Palestina tidak akan menolong. ”Sama dengan yang terjadi di Tepi Barat sejak tahun 1990-an sampai sekarang. Siapa yang menolong? Tidak ada. Mereka baru ditolong kalau sudah disembelih. Menolongnya seperti apa? Mengirim bantuan kemanusiaan,” kritiknya.
Dengan realitas di atas, Hasbi kehilangan harapan kepada para pemimpin yang ada sekarang untuk menyelesaikan masalah Palestina. ”Yang kita harapkan adalah adanya revolusi politik yang dilakukan publik dunia Islam, dan mengangkat seorang pemimpin yang betul-betul siap melindungi Gaza secara politik dan militer. Itulah yang dibutuhkan sekarang!” pungkasnya. [MNews/IA]
