Gen Z dan Krisis Sunyi

Gen Z dan Krisis Sunyi

Penulis: Citra Amalia, M.Pd.

Muslimah News, FOKUS WAG – Banyak anak muda Gen Z masa kini hidup di tengah dunia yang makin bising secara digital, tapi justru sunyi secara emosional. Mereka aktif di media sosial, tampak ceria di layar, ternyata merasa kesepian dalam kehidupan nyata.

Laporan Kompas (10-10-2025) menyebut fenomena ini sebagai tanda munculnya “krisis sunyi”, krisis tanpa gejala mencolok, tanpa pemberontakan, tapi penuh rasa hampa, stres, dan kecemasan tersembunyi. Sebagian besar Gen Z mengaku merasa tertekan oleh tuntutan pencapaian, citra diri, dan validasi dari dunia maya.

Laporan lain juga menunjukkan meningkatnya kasus kecemasan dan depresi di kalangan remaja, terutama akibat kesepian, overthinking, dan minimnya dukungan sosial. Dunia digital yang semestinya menghubungkan dan membantu kedekatan, malah membuat banyak anak muda sering merasa sendirian di tengah keramaian.

Krisis Sunyi, Cermin Kehampaan Sistem Sekuler

Fenomena “krisis sunyi” sejatinya lahir dari sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang menilai manusia berdasarkan pencapaian materi dan penilaian sosial. Dalam sistem ini, kebahagiaan diukur dari seberapa banyak likes dan followers, bukan dari seberapa dekat seseorang dengan makna hidup yang sejati.

Media sosial turut memperkuat tekanan psikologis dengan menjamurnya budaya pamer, membandingkan diri, dan pencitraan, sehingga remaja merasa harus selalu terlihat bahagia meski hatinya kosong. Mereka hidup dalam tekanan “harus tampil sempurna” seolah eksistensi bergantung pada pandangan orang lain.

Di sisi lain, hilangnya komunikasi tulus di keluarga dan masyarakat membuat generasi ini kehilangan ruang aman untuk bercerita. Mereka lebih terbiasa menuliskan keluh kesah di story, bukan dalam percakapan hangat dengan orang tua atau sahabat terdekat.

Krisis spiritual pun menjadi akar terdalam dari krisis sunyi ini, yakni hilangnya hubungan yang mendalam dengan Allah Swt. membuat hati tidak tenang—meski dikelilingi gemerlap dunia.

Menemukan Ketenangan Hakiki

Islam memberikan jalan keluar yang sangat jelas dari krisis ini, yakni ketenangan sejati hanya datang dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Sebagaimana firman-Nya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28).

Generasi muda perlu kembali menguatkan hubungan spiritualnya dengan Allah Swt. melalui zikir, tadabur, dan amal saleh. Di dunia yang hiruk-pikuk ini, iman menjadi jangkar kuat yang menjaga hati tetap kukuh.

Budaya komunikasi dan empati juga harus ditumbuhkan kembali. Gen Z perlu dibiasakan untuk saling mendengar dan menyapa, serta berani bercerita tanpa takut dihakimi. Alhasil, keluarga dan sekolah/kampus harus menjadi ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan diri dengan sehat.

Islam menanamkan makna hidup yang lebih dalam: hidup bukan sekadar terlihat sukses, tapi menjadi hamba Allah yang bermanfaat bagi umat. Alhasil, ketika arah hidup ditujukan untuk meraih rida Allah, kesepian pun dapat berubah menjadi kekuatan.

Pendidikan pun harus dikembalikan pada fungsinya sebagai pembentuk kepribadian, bukan sekadar mesin prestasi. Sekolah dan lembaga Islam perlu menyediakan “tempat aman” dengan bimbingan ruhiah dan konseling berbasis iman agar remaja tidak terjebak dalam isolasi emosional dan tuntutan dunia maya semata.

Memanfaatkan Media Digital dengan Cara Islam

Pada era digital saat ini, penggunaan internet dan media sosial memang tidak dapat dihindari. Meski diciptakan dari industri kapitalisme Barat, media sosial adalah produk teknologi yang pada dasarnya bersifat netral. Islam membolehkan pemanfaatan teknologi untuk kebaikan. Oleh karena itu, penggunaannya harus bijak, yakni digunakan untuk aktivitas yang membangkitkan pemikiran umat, bukan malah tenggelam dalam konten dangkal yang nirfaedah.

Seseorang yang terjebak dalam fantasi koneksi dunia maya dan merasa sepi di tengah keramaian adalah korban dari pemahaman dangkal tentang tujuan hidup dan identitasnya. Dalam Islam, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Taala. Identitas seorang muslim adalah sebagai hamba Allah yang hidup di bawah aturan-Nya, bukan mengikuti standar popularitas atau tren semata.

Firman-Nya, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS Al-Baqarah: 256).

Islam mengajarkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi di tengah masyarakat dengan adab dan akhlak syariat, semisal saling menghormati, tolong-menolong, memperbanyak silaturahmi, serta bergaul sesuai batasan yang dibenarkan oleh Allah Taala.

Firman-Nya, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS An-Nisa: 36).

Dalam masyarakat Islam, negara juga memiliki peran penting dalam mengatur pemanfaatan media digital sesuai dengan syariat. Negara akan mengeluarkan kebijakan yang menjamin informasi disebarkan untuk kemaslahatan umat dan menjaga masyarakat dari pemikiran yang rusak dan menyesatkan.

Di antara upaya negara Islam adalah sebagai berikut. Pertama, mendorong para cendekiawan muslim menciptakan teknologi dan platform media sosial yang edukatif serta bermanfaat. Kedua, mengarahkan media digital sebagai sarana dakwah, amar makruf nahi mungkar, dan penyebaran ilmu. Ketiga, mempermudah akses komunikasi publik antara negara dan rakyat untuk mencegah kesalahpahaman. Keempat, menjadikan media sosial sebagai sarana aspirasi dan kritik yang konstruktif bagi masyarakat terhadap pemimpin.

Melalui mekanisme ini, generasi muda akan mampu menyalurkan potensi besar mereka pada hal-hal yang produktif dan bernilai akhirat, seperti berdakwah, menuntut ilmu, berkarya, dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat.

Kembali pada Sistem Hidup yang Menenangkan

Fenomena krisis sunyi di tengah pusaran media sosial menunjukkan bahwa sistem sekuler kapitalisme telah gagal menumbuhkan generasi yang tenang, berakal sehat, dan berjiwa kuat. Ketika hubungan dengan Allah terputus, nilai hidup pun mudah digantikan oleh pencitraan semu.

Terkait hal ini, Islam menawarkan sistem kehidupan yang menyehatkan akal dan jiwa dengan prinsip-prinsip yang menyeluruh dan menenteramkan.

Pertama, menumbuhkan kesadaran spiritual dan intelektual.

Islam tidak hanya menenangkan jiwa, tapi juga menyehatkan akal. Akal dalam Islam diarahkan untuk berpikir benar, mengenali hakikat diri, dan mengaitkan setiap peristiwa dengan kekuasaan Allah Taala. Dengan begitu, akal menjadi alat untuk menuntun jiwa, bukan sebaliknya.

Kedua, menghidupkan komunikasi dan kepedulian dalam keluarga serta komunitas.

Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Islam menolak sikap antisosial. Seorang muslim diperintahkan untuk bergaul, menebar salam, taawun, dan menasihati dalam kebaikan. Hidup di tengah masyarakat adalah fitrah manusia. Dalam kebersamaanlah akal dan jiwa menemukan keseimbangan. Ini karena kesendirian yang berlarut justru membuka pintu kesedihan dan waswas.

Ketiga, membangun pendidikan berlandaskan iman, bukan sekadar prestasi dunia.

Sistem pendidikan Islam membentuk manusia yang berpikir kritis yang tetap tunduk kepada wahyu. Ilmu diarahkan untuk kemaslahatan, bukan sekadar kebanggaan pribadi. Akal ditumbuhkan dengan ilmu yang bermanfaat, sedangkan jiwa dikuatkan dengan adab dan ibadah.

Keempat, meneguhkan orientasi hidup pada rida Allah Taala.

Ketika seseorang paham bahwa hidupnya untuk beribadah, ia tidak akan lagi mencari validasi manusia. Ketenteraman lahir dari kesadaran bahwa setiap amal kecil pun bermakna di sisi Allah.

Bangkit dari Krisis Sunyi

Hanya dengan kembali kepada Islam, generasi muda akan menemukan arah hidup dan ketenangan sejati. Islam bukan sekadar sistem ibadah, melainkan sistem kehidupan yang menyehatkan akal, menenangkan jiwa, dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Dengan akal yang jernih, hati yang bersih, dan hubungan sosial yang sehat, Gen Z akan bangkit bukan sebagai generasi yang hampa, melainkan sebagai generasi yang kuat, produktif, dan berorientasi pada rida Allah Taala. Wallahualam. [MNews/WAG]

#DiskusiWAG

Share

5 thoughts on “Gen Z dan Krisis Sunyi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *