Muslimah News, NASIONAL — Seorang pelajar SMP di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, tewas setelah ditusuk teman sekelasnya di dalam kelas. Peristiwa tragis ini terjadi pada Senin (29-9-2025) sekitar pukul 10.20 WIB di SMP 12 Krui.
Ada lagi seorang santri di Lumajang keracunan usai meneguk minuman bercampur air keras jenis asam klorida (HCl) yang diberikan temannya.
Alarm
Pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menyatakan, fenomena meningkatnya kekerasan di kalangan pelajar, dari tawuran perundungan, penyiksaan, hingga tindakan membunuh adalah alarm keras bagi bangsa.
“Ini bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan dari krisis moral, juga kegagalan sistem pendidikan dan sosial yang membentuk karakter pelajar kita,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (13-10-2025).
Hal ini, menurutnya, terjadi karena guru kelelahan oleh administrasi di sekolah, sementara pembinaan akhlak tidak terintegrasi dalam sistem. “Sedangkan di rumah, banyak orang tua sibuk mengejar ekonomi hingga lalai memberi teladan moral. Akibatnya, anak tumbuh cerdas secara teknologi, tetapi kosong secara emosi dan spiritual,” ujarnya.
Ia menuturkan, negara tidak boleh hanya melihat kasus demi kasus sebagai kenakalan remaja, tetapi harus mengakui bahwa ada kesenjangan nilai dan arah hidup di tengah generasi muda termasuk pelajar.
“Sistem pendidikan terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi lalai menanamkan nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan. Sementara itu, media sosial dan konten digital yang bebas tanpa pengawasan menjadi ruang pembentukan karakter baru yang dingin, egois, dan permisif terhadap kekerasan,” paparnya.
Kemudian, ia mengutip penelitian dari Universitas Michigan pada 2016 yang mengamati perilaku anak usia 2 hingga 4 tahun dan mengidentifikasi lima ciri utama yang perlu diwaspadai. “Di antaranya, tidak menunjukkan rasa bersalah setelah melakukan kesalahan, tidak berubah meski sudah diberi hukuman, sangat egois dan enggan berbagi, sering berbohong, serta licik dan berniat menyakiti orang lain,” bebernya.
Dalam istilah psikologi, lanjutnya, psikopat adalah individu yang mengalami gangguan kepribadian antisosial, tidak berempati, tidak memiliki rasa bersalah, dan cenderung manipulatif. “Namun dalam konteks sosial, istilah ini menggambarkan manusia yang kehilangan sisi kemanusiaannya,” ucapnya.
Dalam pandangannya, ciri-ciri tersebut mulai tampak menjangkiti sebagian pelajar kita. “Mereka bisa merekam kekerasan tanpa rasa takut, menertawakan penderitaan, bahkan bangga saat menjadi pelaku. Fenomena ini menunjukkan bahwa kerusakan karakter bukan lagi di pinggiran, tetapi sudah merambah ruang pendidikan formal,” tuturnya.
Peran Keluarga
Untuk itu, ia menekankan, peran keluarga sangat penting dalam menanamkan pendidikan keimanan. “Pendidikan ini tidak sebatas mengajarkan tentang beribadah sebagai aktivitas spiritual, tetapi mengajarkan keimanan yang membawa pada kesadaran bahwa setiap manusia diciptakan Allah Swt. dan akan dimintai pertanggungjawabannya di Hari Akhir kelak,” urainya.
Kasih sayang dan perhatian yang diberikan orang tua, sambungnya, juga penting agar anak tidak mencari kebahagiaan dan perhatian di luar rumah, seperti di media sosial atau pertemanan yang salah.
“Negara pun bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada nilai akademis, tetapi mampu menyediakan sistem pendidikan yang mampu mewujudkan generasi berkepribadian Islam, mempunyai keimanan dan moralitas yang menumbuhkan kemanusiaan, serta empati dan tanggung jawab sosial,” imbuhnya.
Pandangan Islam
Apalagi, ia mengutarakan, Islam memandang kehidupan manusia itu suci dan tidak boleh dirusak. “Allah berfirman dalam QS Al-Maidah: 32, ‘Barang siapa membunuh satu jiwa bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.’,” tuturnya.
Islam juga menegaskan, tambahnya, jiwa manusia adalah amanah Allah Swt. dan setiap pelanggaran terhadapnya merupakan bentuk penentangan terhadap hukum Allah Swt.. “Kekerasan di kalangan pelajar menandakan lemahnya iman dan hilangnya ihsan, termasuk hilangnya rasa takut kepada Allah ketika tidak dilihat manusia,” urainya.
Dengan demikian, tandasnya, sudah saatnya negara mengembalikan arah kebijakan pendidikan dan sosial berdasarkan Islam. “Jika tidak, sekolah hari ini bisa menjadi pabrik bagi generasi psikopat sosial, yaitu manusia tanpa hati, tanpa rasa, tanpa arah. Ketika itu terjadi, bangsa ini tidak hanya kehilangan masa depan, tetapi juga kehilangan kemanusiaannya,” pungkasnya. [MNews/RA]

Saatnya di kembalikan pada aturan Islam