Muslimah News, NASIONAL— Ulama nasional K.H. Rokhmat S. Labib menegaskan bahwa pesan penting Maulid Nabi saw. adalah umat Islam dapat kembali seperti umat yang dilahirkan Rasulullah saw., kembali memiliki Daulah yang menjaga umat ini sebagaimana Daulah yang telah didirikan oleh Rasulullah saw.. Pesan itu ia sampaikan dalam event Maulid Nabi saw. 1447 H yang bertajuk “Satu Risalah Satu Umat Satu Tujuan” melalui kanal One Ummah TV, Sabtu (27-9-2025).
Pasalnya, ia menjelaskan, misi diutusnya Rasulullah saw. adalah membawa dua hal, yaitu huda wa dinil haq (petunjuk dan agama yang benar). “Itu ditegaskan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 32, diulang dalam surah Ash-Shaf, dan surah Al-Fath,” tandasnya.
Misi ini, ujarnya, diemban oleh Nabi saw. sejak diutus sampai wafatnya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Yasin ayat 17. “Ini telah dijalankan Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul. Namun, sebagian masa beliau ketika menjadi nabi dan rasul, Rasulullah saw. juga sebagai raisu daulah (menjadi kepala negara). Kenapa? Karena Islam tidak hanya mengajarkan perkara-perkara individual, tetapi juga perkara-perkara yang tidak bisa dijalankan, kecuali oleh negara,” imbuhnya.
Uswah Hasanah
Sebagai uswah hasanah (teladan yang baik), lanjutnya, Rasulullah saw. tidak sekadar memerintahkan menjadi kepala negara, tetapi Rasulullah saw. memberi contoh cara menjadi kepala negara, memutuskan berbagai macam perkara, dan menjalin hubungan dengan negara lain.
“Dengan menyampaikan huda wa dinil haq telah melahirkan ummah mutamayyizah, yaitu umat yang berbeda dengan umat mana pun, umat yang memiliki akidah Islam, bukan sekadar akidah ruhiyah, yaitu akidah seputar akhirat, tetapi juga akidah siyasiyyah, yaitu akidah yang mengatur berbagai perkara kehidupan sosial, politik, pendidikan, bahkan negara,” bebernya.
Ia melanjutkan, Rasulullah saw. bukan hanya melahirkan ummah mutamayyizah, tetapi melahirkan sebuah negara untuk menerapkan Islam secara kafah. “Jadi, ketika Rasulullah saw. wafat, bukan hanya mewariskan Islam, tetapi juga mewariskan Daulah Islam. Dari rahim Daulah Islam itu lahir Khilafah ala minhaj nubuwah, yang kepala negara pertamanya Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq ra.,” terangnya.
Ketika Rasulullah saw. mendirikan Negara Islam, ucapnya, bukan hanya memudahkan menerapkan huda wa dinil haq, tetapi juga menjalankan wasiat yang disebut dalam ayat berikutnya liyudzhirahu ‘aladdini kullihi, untuk mengalahkan semua agama.
“Ini bukan perkara mudah karena yang dikalahkan bukan hanya satu agama, tetapi mengalahkan seluruh agama. Apa yang dimaksud mengalahkan semua agama? Sebagian ulama mengatakan, mengalahkan dengan hujah, yaitu argumentasi yang jelas dan kuat,” paparnya.
Ia meyakini, argumentasi berupa dalil-dalil akidah dan syariat Islam tidak bisa dikalahkan oleh agama mana pun. ”Tetapi ingat! Meski secara dalil semua agama terkalahkan oleh Islam, Islam bisa berjaya kalau umatnya berkuasa,” cetusnya.
Ia mencontohkan, ketika Rasulullah saw. berada di Makkah, kaum muslim dalam kekuasaan orang-orang musyrik dan untuk mengalahkan orang musyrik ini, Rasulullah saw. mendirikan negara terlebih dahulu.
”Jadi, Rasulullah saw. mewariskan ummah yang memiliki akidah dan syariat yang berbeda dengan syariat agama mana pun dan Rasulullah juga mewariskan Daulah. Keduanya diwarisi umat Islam dari masa ke masa berabad-abad lamanya. Umat Islam mengemban ummatan wahidah bi daulatil wahidah (umat yang satu dan daulah yang satu),” tegasnya.
Kehilangan Daulah
Kiai Labib mengatakan, sejak Khilafah runtuh pada 1924, sejak saat itu umat kehilangan Daulah. ”Sejak itu Islam tidak bisa mengalahkan umat-umat lain, bahkan dikalahkan oleh umat-umat lain. Umat Islam sebagai satu umat melemah karena tidak ada yang memimpin, menyatukan, memelihara, dan melindungi. Inilah yang terjadi sekarang ini,” sesalnya.
Ia mencontohkan, yang terjadi di Gaza saat ini, ketika Daulah Islam tidak ada, maka yang ada daulah wathaniyah (negara bangsa) yang asasnya bukan Islam. ”Meski jelas-jelas Palestina itu masalahnya adalah tanah mereka dirampas, diduduki, dijajah, penduduknya dibunuh, darahnya ditumpahkan, tidak ada solusi yang dilakukan oleh satu pun negara di negeri Islam saat ini,” kritiknya.
Bahkan, Kiai Labib menyatakan, solusi dua negara yang ditawarkan oleh para pemimpin muslim sama saja dengan mengizinkan tanah kaum muslim dalam kekuasaan penjajah. ”Bagaimana mungkin penjajah yang telah merampas tanah kaum muslim justru akan diakui sebagai negara? Ini disampaikan kepala-kepala negara sekuler kebangsaan karena atas dasar bukan Islam,” tegasnya.
Mengembalikan Daulah
Kiai Labib menekankan, ini menjadi tugas umat Islam untuk mengembalikan Daulah yang akan mengembalikan posisi umat Islam sebagai khairu ummah. ”Umat Islam harus sadar bahwa negara-negara penjajah, setelah memecah belah negeri muslim menjadi banyak negara, mereka menaruh penguasa-penguasa yang menjadi antek mereka dengan tiga tujuan minimal,” tandasnya.
Tiga tujuan minimal itu, jelasnya, pertama, penguasa antek itu menerapkan sistem kufur warisan penjajah. ”Kedua, mereka menjaga agar umat Islam tetap terpecah belah. Ketiga, tugas mereka adalah menghalangi kembali tegaknya Daulah Islam,” paparnya.
Oleh karena itu, ia mengajak agar umat Islam menghidupkan kembali dakwah, bukan sekadar mengajak kepada ibadah, mengajak orang berakhlak mulia secara pribadi, tetapi dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. ”Dakwah seperti ini yang akan mengembalikan umat Islam sebagai ummah karimah, ummah azizah, khairu ummah, ummah yang mendapatkan rida Allah Swt.,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, dakwah seperti ini pasti tidak diridai negara-negara kafir penjajah sehingga pasti akan memusuhinya dan membuat isu-isu negatif. ”Umat Islam jangan mau tunduk pada kemauan mereka. Mereka adalah musuh, tidak akan suka kita berada dalam langkah yang benar,” tandasnya.
Terakhir Kiai Labib menjelaskan bahwa dakwah seperti ini tidak bisa dilakukan secara personal. ”Dakwah menegakkan Daulah Islamiah, menegakkan Islam, memerlukan kekuatan umat. Mereka menghimpun diri dalam jemaah untuk menyampaikan kepada umat bahwa sebagai umat Islam sudah saatnya kembali kepada Islam secara kafah dan itu hanya dengan tegaknya Khilafah Islamiah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Allahu Akbar
Maa syaa Alloh