Muslimah News, NASIONAL — Ulama K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A. menegaskan bahwa seseorang dikatakan itibak (mengikuti) Nabi saw. jika memenuhi tiga syarat. “Pertama, mumatsalah, yaitu melakukan amal harus sama persis seperti yang dilakukan Nabi saw.. Kedua, ’ala wajhihi, yaitu memiliki arah dan bentuk yang sama dengan yang dicontohkan Nabi saw.. Ketiga, min ajlihi, yaitu menuju target dan tujuan yang sama seperti tujuan Nabi saw.,” tuturnya dalam acara Maulid Nabi 1447 dengan tajuk ”Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan” di kanal One Ummah TV, Sabtu (27-9-2025).
Di acara yang disaksikan puluhan ribu orang itu, ia menyampaikan, Rasulullah saw. adalah sosok al-Insan al-kamil (manusia sempurna) sehingga manusia–siapa pun ia–saat melakukan perbuatan apa pun, pasti ada contohnya dari Nabi. ”Rasulullah saw. itu bukan hanya membawa risalah yang hanya mengurus urusan spiritualisme, ritualisme, tetapi juga seorang penguasa, sehingga itibak tidak cukup hanya konsentrasi pada aspek spiritual dan ritual,” tandasnya.
Cinta Umat
Dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 128, kata Kiai Hafidz, Allah Swt. mengabadikan kecintaan Rasulullah saw. terhadap umatnya. Ia lalu membacakan ayat itu, ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
”Rasulullah saw. itu merasa bahwa kita umatnya adalah bagian dari dirinya. Apa pun penderitaan yang dialami umatnya dirasakan berat oleh Rasulullah saw.. Rasulullah saw. memiliki ambisi kuat agar umatnya selamat dunia akhirat. Kata rauf dalam ayat tersebut yang merupakan sifat Allah Swt., tetapi disematkan kepada Nabi, menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Nabi kepada umat ini. Oleh karenanya, saat Rasulullah saw. menjelang wafat yang diucapkan dari lisan beliau adalah ummatii, ummatii,” bebernya.
Dalam hal memimpin negara, sambungnya, Rasulullah saw. memiliki pemikiran detail. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, ucapnya, seluruh Jazirah Arab yang saat ini terdiri dari tujuh negara, yaitu Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Yaman semua tunduk di bawah kepemimpinan Rasulullah saw..
“Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita bagaimana syariat itu bisa diterapkan oleh manusia biasa (bukan Nabi). Rasulullah saw. ketika menjadi kepala negara itu manusia biasa yang diberi wahyu dan maksum. Rasulullah saw. mengajarkan bagaimana sistemnya menjadi kepala negara yang baik agar bisa dicontoh oleh manusia biasa,” jelasnya.
Dengan demikian, kata Kiai Hafidz, Rasulullah saw. mewariskan kepemimpinan bernegara yang disebut Khilafah. Rasulullah saw. , lanjutnya, memberi gambaran utuh terkait sistem ini kemudian memerintahkan umatnya untuk memegang teguh Sunahnya ini.
Ia lalu membacakan hadis Rasulullah saw., “Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Maka peganglah kuat-kuat dengan gerahammu.”
Kiai Hafidz menjelaskan, maksud peganglah kuat-kuat dengan gerahammu adalah perintah untuk tidak melepaskan sunnah itu. ”Maka ketika umat melepas (Khilafah) pada 1924 yang ada adalah umat hancur enggak karu-karuan,” sesalnya.
Satu Tubuh
Terkait tragedi Gaza, Kiai menegaskan, umat Islam itu bersaudara, tidak boleh saling menzalimi, meremehkan, menghinakan. ”Dalam nas lain Rasulullah menyebut kaum muslim itu seperti satu tubuh. Dalam Al-Qur’an, banyak sekali nas yang menyatakan seperti itu. Oleh karena itu, tragedi Gaza menjadi pengingat bagi kita,” ingatnya.
Artinya, ia melanjutkan, saat ini Gaza sedang menjerit, umat wajib menolongnya. Ia merasakan kesedihan mendalam saat 700 hari Gaza dibantai, tetapi dunia Islam diam. ”Ini gambaran ketika umat Islam tidak punya izah (kemuliaan). Ketika umat Islam tidak punya izah, maka seolah-olah Gaza enggak ada solusi, padahal solusinya ada. Di sinilah kita mestinya sadar, malu sama Allah dan Rasulullah saw.. Jika nanti ditanya di hadapan Allah Swt., apa yang akan kita katakan?” pungkasnya menahan haru. [MNews/IA]

Maa syaa Allah
Cinta kepada nabi adalah dg cara ittiba kepada Rasulullah, melaksanakan Semua syari’at nya