[Keuangan Global] Membedah Krisis Keuangan Global: Pendahuluan (Bagian 4/4)

[Keuangan Global] Membedah Krisis Keuangan Global: Pendahuluan (Bagian 4/4)

Penulis: Jamal Harwood

Sambungan dari “Pendahuluan” Bagian 3/4

Muslimah News, TELAAH KITAB — Diagnosis

Meskipun setiap orang bersepakat bahwa sistem kapitalisme benar-benar mengalami sakit kronis, analisis tentang cara agar kita bisa berada dalam kondisi itu lebih kontroversial lagi. Banyak kalangan penganut ideologi sayap kanan terus memuja superioritas kapitalisme seperti yang diperlihatkan Mantan Presiden George W Bush dalam pidatonya yang disiarkan televisi nasional pada 24 September 2008.

Dalam pandangan mereka, fundamental kapitalisme tetap kuat. Sesungguhnya apa yang terjadi adalah kasus yang berupa ekses, serta akibat pengambilan keputusan yang buruk semata. Dalam perkara penggalangan dana untuk sektor swasta, Bush memberikan perumpamaan perbandingan perilaku Wall Street dengan seseorang yang mabuk dan keesokan paginya bangun dalam kondisi yang sakit luar biasa. Meskipun sama-sama menerima kenyataan betapa seriusnya situasi tersebut, mereka berbeda pendapat dalam hal tindakan responsnya.

Bush serta mantan menteri keuangan dan mantan CEO Goldman Sachs Henry Paulson mendukung program penyelamatan oleh pemerintah. Kalangan konservatif lainnya menganggap program penyelamatan oleh pemerintah itu sebagai sesuatu yang haram dan terkutuk. Anggota DPR AS Sam Johnson menyamakan program tersebut dengan jalan menuju sosialisme. Kaum kiri jelas senang bukan kepalang dengan situasi ini.

Setelah beberapa dekade berdebat menentang pasar bebas yang kebablasan, kini mereka percaya bahwa kapitalisme telah meninggalkan pasar bebas dan kembali ke jalur yang semestinya, yaitu sosialisme. Kaum kiri melihat krisis ini memiliki dua penyebab.

Pertama, keserakahan dan korupsi Wall Street. Kedua, kultur deregulasi yang membuat tidak adanya regulasi atau regulasi yang ada menjadi tertidur akibat terlena oleh situasi. Solusi mereka sederhana saja, yaitu menghilangkan sistem upah dan bonus yang berlebihan di Wall Street, serta memperkuat regulasi dan pengawasan.

Akan tetapi, baik kelompok kanan maupun kiri sebetulnya sama-sama keliru dalam mendiagnosis penyebab krisis tersebut. Meskipun keduanya sama-sama menunjuk ke kultur yang serba berkelebihan dan salah urus manajerial, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kapitalisme. Seolah-olah perilaku yang telah ditunjukkan itu bukanlah bagian dari inti nilai-nilai kapitalisme.

Padahal, esensial bagi kapitalisme, sebagaimana pentingnya mesin bagi sebuah mobil. Berharap kapitalisme bisa efektif beroperasi tanpa keserakahan dan pengambilan risiko dalam kasino budaya pengambilan segala sesuatu yang berisiko tinggi, sama halnya seperti berharap seekor anjing tidak menggonggong.

Kerakusan, pengambilan berisiko tinggi, dan penyalahgunaan regulasi adalah minyak pelumas penting yang menggerakkan sistem kapitalisme secara keseluruhan. Kultur di banyak bank di Wall Street dan London membuktikan hal ini. Mereka sangat kaya raya. Mereka menimbun kekayaan berdasarkan ambisi materialistis. Mereka mengharapkan agar orang-orang hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup, serta kelemahan-kelemahan lain yang membuat dahi kita berkerut memikirkannya.

Dipicu oleh tingginya upah dan bonus yang luar biasa besar, sifat rakus dan serakah tidak saja diharapkan, tetapi juga sebuah kewajiban jika seseorang ingin sukses. Para pelaku perdagangan di Wall Street dan London menyebut diri mereka sebagai “Masters of the Universe (Penguasa Alam Semesta)”.

Ada sedikit kontroversi dalam hal ini, dalam kaitannya dengan asumsi bahwa orang-orang yang berakal sehat percaya bahwa kultur kapitalis yang mendominasi industri jasa keuangan itu rentan terhadap ekses negatif. Itulah sebabnya mengapa perlu ada regulasi yang efektif. Akan tetapi, tidak ada satu regulasi pun yang dapat mengurangi ekses kapitalisme karena alasan-alasan berikut ini.

Pertama, kompleksitas produk-produk finansial yang diperdagangkan telah tumbuh secara signifikan. Regulator adalah entitas yang harus bersusah payah untuk bisa terus bergerak dengan gesit. Dalam dunia yang memiliki inovasi produk yang deras dan cepat berubah, para regulator harus berjuang keras agar bisa tetap mengikuti laju semua itu. Pengetahuan dan kemampuan mereka berada jauh di belakang pihak-pihak yang mereka atur. Akhirnya mereka pun tertidur setelah berhari-hari melakukan kebaikan (membuat regulasi).

Kedua, perusahaan-perusahaan membayar para politisi agar regulator selalu berada di belakang perusahaan-perusahaan. Ini dilakukan dengan cara memberikan kontribusi tertentu atau cara-cara lain yang halus. Dengan begitu biasanya para regulator tetap dalam genggaman mereka. Akan tetapi, sekiranya cara ini tidak berhasil, peluang berkarier di sektor swasta yang menguntungkan biasanya dijadikan andalan. Selalu ada pintu belakang di antara regulator dan pihak swasta yang membuat proses pengawasan secara keseluruhan menjadi omong kosong belaka.

Terakhir, regulator selalu bersifat reaktif, memerangi perang yang terjadi. Meningkatkan regulasi setelah ada krisis dan skandal besar adalah hal lazim, tetapi cenderung tidak relevan untuk mengantisipasi krisis pada masa depan. Misalnya setelah krisis Enron, Sarbanes Oxley diperkenalkan sebagai regulasi yang menguntungkan bagi para akuntan dan analis risiko, tetapi tetap saja aturan itu tidak ada gunanya dalam mencegah dan mengantisipasi krisis hipotek.

Jadi, berusaha mengatur kapitalisme merupakan sesuatu yang mustahil. Seperti kata sebuah metafora yang kini sangat terkenal, “Itu akan seperti menggunakan lipstik untuk bibir babi”. Berbeda dengan persepsi publik internasional dunia sesungguhnya tidak akan berakhir jika kapitalisme dibuang ke tempat sampah.

Sebelum adanya kapitalisme global, dunia pernah mengalami perkembangan, kemajuan teknologi, dan lain-lain. Semua itu bisa saja kembali dialami. Meski demikian, para pelaku pasar finansial global tetap menyangkal. Mereka meyakini bahwa meskipun sudah terjadi krisis sistemik seperti sekarang ini, kapitalisme akan tetap berdiri tegak.

Ini ditekankan oleh George W Bush dalam pidatonya pada 24 September 2008. Di situ ia menyatakan bahwa Kapitalisme–Demokrasi tetap merupakan sistem terbaik. Pada 2002, sebuah pidato penting mengutip pernyataan berikut ini yang sangat relevan dengan peristiwa krisis yang terjadi.

Selama bertahun-tahun perekonomian AS telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk menghadapi segala jenis guncangan, bangkit, dan terus tumbuh. Pasar yang fleksibel dan efisien untuk buruh dan modal dengan tradisi kewirausahaan dan itikad yang kuat untuk menoleransi dan mengadopsi semua perubahan teknologi dan ekonomi yang berkontribusi terhadap ketahanan ini.

Faktor protektif yang penting dalam lingkungan terkini adalah kekuatan sistem finansial kita, terlepas dari guncangan merugikan yang terjadi tahun lalu, sistem perbankan kita tetap sehat dan terkelola dengan baik. Neraca perusahaan dan rumah tangga pada umumnya masih menunjukkan kinerja yang baik.

Pidato tersebut disampaikan oleh Ben Bernanke, orang yang ucapannya tentang mesin cetak juga telah dikutip. Akan tetapi, Bernanke mengatakan hal yang keliru pada 2002. Sekarang Bush juga mengatakan hal yang salah. Kapitalisme tidak bisa direformasi. Kapitalisme harus diganti! [MNews/RY-YG]

Sumber: Jamal Harwood, Membedah Krisis Keuangan Global.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *