[Kabar] Fenomena Balita Cacingan, Pengamat: Kegagalan Negara Mewujudkan Higiene Sanitasi yang Baik

[Kabar] Fenomena Balita Cacingan, Pengamat: Kegagalan Negara Mewujudkan Higiene Sanitasi yang Baik

Muslimah News, NASIONAL — Dua balita di Desa Sungai Petai, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, mengalami cacingan. Satu di antaranya bahkan mengalami cacingan berat dan beberapa penyakit lain. Hasil penyelidikan awal mengungkap faktor risiko lingkungan dan gizi sebagai penyebab utama. 

Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman, di Jakarta, Kamis (18-9-2025), mengatakan bahwa kasus tersebut memberikan pelajaran berharga. Setelah dilakukan investigasi bersama, tindak lanjutnya akan difokuskan pada efektivitas program, perbaikan lingkungan, serta pemantauan kesehatan anak.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut lingkungan higienis menjadi kunci untuk mengatasi dan mencegah kasus bayi cacingan. Dante menjelaskan kejadian cacingan tersebut tidak secara spesifik langsung terjadi, tetapi bisa dari kebiasaan tidak sehat yang selama ini terjadi di lingkungan sang balita.

Kegagalan Negara

Kondisi tersebut turut disorot pengamat kebijakan publik dr. Arum harjanti. Kepada MNews, Kamis (25-9-2025), ia mengungkapkan bahwa fenomena ini menunjukkan kegagalan negara untuk mewujudkan higiene sanitasi yang baik.

“Fenomena balita cacingan, bahkan dengan kondisi parah sebenarnya menunjukkan kegagalan program nasional pencegahan infeksi cacing, khususnya pada anak, dan pencegahan masalah gizi anak,“ jelasnya.

Kegagalan ini, nilainya, makin nyata karena program pemberantasan cacingan sudah dicanangkan sejak 2017 dan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 15 Tahun 2017. “Survei Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi penyakit ini rata-rata mencapai 28% di 181 kabupaten/kota,“ ucapnya.

Padahal, terangnya, higiene sanitasi yang buruk adalah faktor paling berpengaruh terhadap terjadinya infeksi cacing yang berkaitan erat dengan rendahnya literasi kesehatan dan kemiskinan.

“Hari ini, literasi kesehatan masyarakat masih sangat minim, terlebih bagi masyarakat miskin di daerah terpencil, seperti Seluma. Kemiskinan membuat mereka terkendala secara bertingkat dalam mewujudkan hidup sehat,“ ungkapnya.

Kendala ini beragam, bebernya, mulai dari rendahnya akses pendidikan hingga ketakberdayaan dalam mewujudkan rumah dan lingkungan dengan higiene sanitasi yang baik. “Akibatnya, mereka hidup dalam lingkungan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terlebih pada anak-anak balita, yang berada pada fase kehidupan yang sangat rentan,“ tuturnya.

Tampak jelas, sambungnya, hari ini lingkungan yang tidak sehat dan kemiskinan memegang peran penting terjadinya kecacingan. “Kedua faktor tersebut merupakan faktor determinan sosial kesehatan yang berpengaruh terhadap tercapainya kondisi sehat pada masyarakat,“ ujarnya.

Sistem Kapitalisme

Arum memandang, yang bertanggung jawab atas kondisi buruk kesehatan masyarakat hari ini adalah sistem kapitalisme. “Sistem ini meniscayakan minimnya peran negara dalam mewujudkan masyarakat sehat. Negara abai dalam menyediakan edukasi kesehatan pada rakyat, juga jaminan terwujudnya lingkungan dan rumah sehat,“ paparnya.

Oleh karena itu, urainya, hal wajar ketika masih banyak masyarakat hidup miskin dan tinggal di rumah tidak layak huni dengan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah.

“Jadi jelaslah, buruknya faktor determinan sosial kesehatan yang merupakan buah dari penerapan sistem kapitalisme bertanggung jawab atas gagalnya penanganan cacingan selama ini,“ cetusnya.

Pengaturan Islam

Namun, Arum mengutarakan, kondisi buruk tersebut tidak akan terjadi dalam kehidupan yang diatur oleh sistem Islam dalam bangunan Khilafah. “Islam menjadikan layanan kesehatan sebagai hak dasar yang menjadi tanggung jawab negara,“ jelasnya.

Hal ini, lanjutnya, merupakan implementasi paradigma negara dalam sistem Islam, yaitu negara adalah raa’in atau pihak yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk layanan kesehatan. “Khilafah akan menjamin terpenuhinya berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kesehatan, baik aspek klinis maupun nonklinis yang tercakup dalam faktor sosial determinan kesehatan,“ urainya.

Ia menyampaikan, Khilafah tidak hanya bertanggung jawab menyediakan layanan kesehatan gratis dan berkualitas, tetapi juga wajib mewujudkan kesejahteraan rakyat dan jaminan permukiman beserta lingkungan yang sehat.

“Khilafah pun menyediakan sistem pendidikan yang komprehensif. Tujuannya mewujudkan literasi yang tinggi tentang kesehatan sehingga perilaku hidup bersih dan sehat menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari, “ imbuhnya.

Ditambah lagi, ujarnya, program pemberantasan infeksi cacing akan diselenggarakan secara terpadu dengan metode yang tepat disertai langkah monitoring dan evaluasi sehingga program yang efektif dan efisien bisa terwujud. “Khilafah akan menyediakan dana yang memadai karena hal ini merupakan kebutuhan yang wajib dipenuhi,“ jelasnya

Dengan demikian, ia menyimpulkan, penerapan sistem Islam secara kafah akan menghadirkan tata kelola layanan masyarakat yang paripurna, termasuk dalam layanan kesehatan. “Masyarakat yang sehat, sejahtera, dan bebas dari infeksi cacing pun akan terwujud,“ tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *