Muslimah News, INTERNASIONAL— Sebanyak 12 jet tempur, termasuk F-35 milik Zion*s Yahudi menembakkan rudal canggih dari atas Laut Merah menembus wilayah udara Arab Saudi, kemudian menghantam bangunan di Doha, Qatar, pada Selasa (9-9-2025).
Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) memberi penjelasan tentang alasan Qatar yang tunduk kepada Amerika Serikat (AS) tetap dirudal Zion*s Yahudi. ”Qatar masih memberikan ruang yang cukup lebar kepada kelompok perlawanan Palestina di Gaza, khususnya kepada Ham*s. Kita tahu pimpinan Ham*s itu banyak yang berada di sana,” paparnya di Fokus to the Point dengan tajuk “Di Bawah Payung Amerika, Qatar Tetap Dirudal, Ada Apa?” pada Jumat (19-9-2025) di kanal UIY Official.
Ia menambahkan, Zion*s nekat menyerang Qatar karena dari tujuh negara teluk, Qatarlah satu-satunya negara yang masih memberi ruang kepada Ham*s. “Hanya yang jadi catatan adalah bagaimana Zion*s bisa tahu di Doha ada pertemuan? Itu menunjukkan bahwa intelijen Zion*s itu luar biasa. Sekaligus menunjukkan bahwa negeri muslim begitu rapuhnya sampai bisa ditembus oleh kekuatan intelijen semacam itu,” sesalnya.
Ini, kata UIY, hanya mengulang tragedi wafatnya Ustaz Ismail Haniyah (pemimpin politik Ham*s) yang dibunuh di Iran. “Itu kan di tempat yang menurut pemerintah Iran sudah paling maksimum tingkat keamanannya, tetapi kok bisa kena pas tempat tidurnya? Itu kan menunjukkan kelemahan tadi,” ujarnya.
Berhenti pada Retorika
Dalam pandangan UIY, sekonyol apa pun tindakan Zion*s menyerang negeri-negeri muslim, Zion*s Yahudi tahu bahwa para pemimpin negeri muslim semuanya berhenti pada retorika. “Sebagaimana Muhammad bin Salman (MBS) mengatakan bahwa Saudi akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membela Qatar. Namun, kita lihat enggak ada tindakan apa-apa. Qatar juga mengancam akan membalas, tetapi enggak ada balasan itu,” cetusnya.
UIY menduga, ada dua kemungkinan alasan AS membiarkan Zion*s merudal Qatar. “Kemungkinan pertama, memang ada lampu hijau dari AS. Kemungkinan kedua, Zion*s bertindak sendiri untuk kepentingan sendiri dan mengabaikan AS,” jelasnya.
Namun, lanjutnya, mendapat lampu hijau dari AS atau tidak, Zion*s tidak peduli karena bagi Yahudi yang penting keinginannya tercapai. “Pada saat hampir bersamaan, setelah menyerang Qatar, ia menyerang Yaman. Ini menunjukkan bahwa jangkauan serangan Zion*s bukan lagi negeri-negeri dekat. Jangan lagi Gaza, Yordan yang dekat, bahkan Qatar yang jauh juga diserang,” bebernya.
Menurutnya, Zion*s itu entitas yang tidak pernah memedulikan apa pun selain kepentingannya sendiri. ”Ini hari kok bicara hukum internasional kepada Zion*s. ICC (Mahkamah Pidana Internasional) sudah menvonis, sudah memerintahkan penangkapan, tetapi ini luar biasa. Negara kecil yang penduduknya hanya 7,6 juta bisa berbuat seenaknya di tengah masyarakat dunia yang hampir 7 miliar,” terangnya.
Kekuatan Sendiri
Untuk bisa melawan Zion*s, ucapnya, umat Islam tidak bisa bergantung kepada pihak lain. ”Umat Islam harus bergantung pada kekuatannya sendiri, bergantung pada kekuatan tauhid, kekuatan iman, dan kekuatan kita sebagai umat yang hampir 2 miliar. Itu hanya mungkin ketika hadir dua unsur penting,” paparnya.
Ia menyebutkan dua unsur penting itu, pertama, institusi politik yang menyatukan umat Islam, yaitu Khilafah; dan kedua, pemimpin yang memimpin untuk tujuan kemuliaan Islam, yaitu Khalifah.
UIY mengingatkan, perjuangan menegakkan Khilafah pasti akan mendapat pengadangan dari negara-negara besar, terutama AS. Namun, menurutnya, umat tidak perlu takut karena sepanjang sejarah tidak pernah ada kekuatan selain Islam yang membiarkan Islam tegak.
”Jadi, kalau perjuangan Khilafah itu dihalangi oleh negara-negara besar, itu bukan sesuatu yang aneh, tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang perlu dipikirkan itu diri kita, adakah keinginan memperjuangkan Khilafah? Kalau tidak ada keinginan, sebenarnya ini sudah meringankan tugas musuh kita dan karenanya jangan salahkan siapa-siapa kalau kita bersikap seperti itu,” sindirnya.
Ia menegaskan, kalau umat bersatu, tidak mudah bagi AS untuk melakukan perang terbuka sebagaimana yang terjadi di Afganistan, Vietnam, dan Irak. ” Yang jadi soal bukan AS, tetapi kita. Kalau kita bisa bersikap kuat sebagaimana yang ditunjukkan Afganistan dan lainnya, itu bisa mengalahkan AS. Itu baru spot-spot dari kekuatan umat, belum kekuatan umat secara keseluruhan,” ulasnya.
UIY berargumen, meski AS besar dari segi ukuran materi, tetapi mentalitas tentaranya begitu rapuh. ”Ini sama sebagaimana tentara Zion*s,” tukasnya.
Terakhir ia menjelaskan bahwa yang harus dilakukan umat Islam adalah membangun kekuatan umat. ”Kalau kita kuat, musuh juga akan berpikir seribu kali untuk menyerang kita. Namun, kalau kita lemah, ya seperti sekarang inilah yang terjadi. Mereka dengan gampang menyerang kaum muslim. Kekuatan kita itu ada pada kekuatan keimanan dan persatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah ala minhaj nubuwah. Itu yang harus kita perjuangkan,” pungkasnya. [MNews/IA]
