[Kabar] Konselor: Konsep Generasi Emas Gagal karena Lahir dari Paradigma Sekuler

[Kabar] Konselor: Konsep Generasi Emas Gagal karena Lahir dari Paradigma Sekuler

Muslimah News, NASIONAL — Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah baru-baru ini menggelar acara Sinergi Temu Komunitas Nasional untuk Penguatan Pendidikan Karakter. Dalam forum tersebut, Kepala Puspeka Rusprita Putri Utami, menekankan pentingnya penguatan karakter sebagai cita-cita besar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Harapan besar disandarkan pada keterlibatan Catur Pusat Pendidikan, yakni keluarga, sekolah, masyarakat, dan media agar cita-cita itu dapat tercapai.

Menurut konselor Putri Ria Angelina, M.Pd.Kons., sekilas wacana ini terdengar sangat mulia, seakan menjadi jawaban atas berbagai persoalan moral yang melilit dunia pendidikan kita. “Namun, berbagai fakta menunjukkan bahwa pendidikan karakter ala sistem saat ini gagal menyentuh akar persoalan karena konsep generasi emas yang dicanangkan pemerintah lahir dari paradigma sekuler,” tuturnya kepada MNews, Ahad (31-8-2025).

Memang, ujarnya, program pendidikan karakter sejatinya sudah lama digaungkan, tetapi indikator keberhasilannya hampir tidak terlihat. “Krisis moral di sekolah-sekolah makin parah, tawuran pelajar masih terjadi dari tahun ke tahun, pergaulan bebas kian marak, kasus narkoba menjerat remaja, hingga kecurangan dalam ujian yang dianggap biasa. Lebih memprihatinkan lagi, guru yang seharusnya dihormati justru kerap dilaporkan ke pihak berwajib oleh murid maupun orang tua, hanya karena persoalan disiplin di kelas,” paparnya.

Sekuler

Dalam sistem pendidikan sekuler, ungkapnya, agama dipisahkan dari kehidupan publik, termasuk dari tujuan dan metode pendidikan. “Standar kebenaran dan perilaku tidak lagi merujuk pada halal-haram, melainkan pada kebebasan berekspresi, berpikir, dan bertindak. Lebih jauh, pendidikan dalam kerangka kapitalisme menjadikan sekolah bukan lagi ruang pembentukan akhlak, melainkan komoditas. Pendidikan mahal, kurikulum diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja, dan indikator keberhasilan siswa diukur dari sertifikat, ijazah, atau keterampilan teknis semata,” bebernya.

Inilah mengapa, sambungnya, generasi yang dihasilkan cenderung permisif, bebas berperilaku, dan kehilangan pedoman moral. “Ironisnya, justru kerangka sekuler inilah yang kini diklaim dapat melahirkan Indonesia Emas,” ucapnya.

Ia menerangkan, di atas kertas, program “penguatan karakter” hadir, tetapi di lapangan, anak-anak justru dilatih menjadi roda kecil dalam mesin ekonomi kapitalisme. Alhasil, ujarnya, mereka pandai secara akademik, melek teknologi, tetapi kosong dari ketakwaan dan miskin akhlak. “Wacana penguatan pendidikan karakter ala sekuler tidak akan pernah mampu menjawab krisis moral bangsa. Selama sistem kapitalisme tetap dijadikan dasar, tawuran, pergaulan bebas, dan degradasi moral akan terus menghantui,” tegasnya.

Kegagalan

Putri menyampaikan, kegagalan pendidikan karakter saat ini bukan sekadar masalah teknis implementasi, melainkan buah dari sistem sekuler kapitalisme yang memang rapuh sejak akar. “Selama akidah Islam tidak dijadikan asas, penguatan karakter hanya akan berhenti pada jargon. Generasi emas yang dimaksud negara hanyalah emas secara materi, seperti berorientasi pada produktivitas industri dan daya saing ekonomi, tetapi miskin spiritualitas dan rapuh secara moral,” ujarnya.

Islam, ungkapnya, telah membuktikan bahwa hanya sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam mampu membentuk generasi berkepribadian mulia, berilmu tinggi, dan siap memimpin peradaban. “Generasi emas Islam seperti Muhammad Al-Fatih, yang pada usia muda berhasil menaklukkan Konstantinopel karena kombinasi kecerdasannya dalam ilmu, kekuatan spiritualnya dalam ibadah, dan keberaniannya dalam memimpin,” tukasnya.

Menurutnya, inilah generasi yang akan benar-benar membawa kemuliaan, bukan hanya bagi bangsa tertentu, tetapi bagi seluruh umat manusia. “Oleh karena itu, jelaslah, jalan keluarnya hanya ada pada kembalinya kita kepada sistem pendidikan Islam yang paripurna, yang menempatkan akidah Islam sebagai fondasi, syariat sebagai pengatur, dan negara sebagai penjamin. Hanya dengan cara inilah generasi emas sejati dapat lahir, generasi yang bertakwa, berilmu, dan siap membangun peradaban Islam yang gemilang,” paparnya.

Islam

Dalam perspektif Islam, ucap Putri, pendidikan harus bertumpu pada akidah. “Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan kepribadian Islam yang utuh. Kurikulum dalam Islam berlandaskan akidah Islam sehingga setiap ilmu—baik sains maupun humaniora—dikaitkan dengan keimanan kepada Allah Taala. Moral dan akhlak tidak diatur oleh relativisme atau kebebasan tanpa batas, tetapi dikawal ketat oleh syariat yang jelas standar halal-haramnya,” paparnya.

Pendidikan Islam, lanjutnya, juga tidak menjadikan biaya sebagai penghalang. “Dalam sejarah peradaban Islam, negara menanggung biaya pendidikan sehingga seluruh rakyat, kaya maupun miskin, berhak mengakses ilmu dengan kualitas terbaik. Guru pun dimuliakan sebagai teladan, bukan dicurigai apalagi dikriminalisasi. Dengan orientasi ukhrawi sekaligus duniawi, generasi yang dihasilkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bertakwa, berakhlak mulia, dan berjiwa pemimpin,” urainya.

Sejarah, katanya, membuktikan hal itu dan Islam pernah melahirkan generasi emas yang sesungguhnya. “Ilmuwan dan pemimpin yang bukan saja menguasai sainstek, tetapi juga tunduk pada syariat. Nama-nama seperti Imam Syafi’i, Al-Khawarizmi, hingga Muhammad al-Fatih adalah bukti nyata. Mereka adalah pribadi yang berilmu luas, bertakwa, dan mendedikasikan seluruh potensinya untuk kemaslahatan umat. Generasi semacam inilah yang seharusnya menjadi teladan ketika kita berbicara tentang cita-cita Indonesia Emas,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *