Muslimah News, LENSA DAERAH — Dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung diduga memperjualbelikan alat medis kepada pasien serta memberikan pelayanan yang buruk.
Kasus ini terjadi pada bayi Alesha (2 bulan), putri pasangan Sandi Saputra (27) dan Nida Usofie (23), warga Way Urang, Kalianda, Lampung Selatan, yang didiagnosis hirschsprung atau gangguan usus, dan menjalani perawatan di RSUDAM sejak 9 Juli 2025. Alesha meninggal dunia usai menjalani operasi pada Selasa (19-8-2025).
Keluarga mengaku mendapat pelayanan buruk selama perawatan Alesha. Mulai dari diminta mencari alat PICU sendiri, kesulitan ambulans, hingga pembelian alat medis Rp8 juta yang ditransfer langsung ke rekening pribadi dokter. Padahal, pasien dirawat menggunakan BPJS.
Buruk
Pengamat kebijakan publik Dr. Rini Syafri menyesalkan layanan buruk dan diskriminatif ini. “Sungguh tragis, nyawa bayi Alesha harus melayang di ruang perawatan kesehatan. Alih-alih memanusiakan pasien dan keluarganya, yang ada hanyalah layanan buruk lagi diskriminatif secara medis dan nonmedis,” ungkapnya kepada MNews, Rabu (27-8-2025).
Terlebih lagi, ujarnya, ini terjadi pada fasilitas kesehatan berstatus milik pemerintah, pihak yang paling bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat. “Mulai dari pasien tidak segera mendapatkan tindakan medis yang sangat dibutuhkan di tengah pelayanan nonmedis yang minimalis, hingga harus membayar jutaan rupiah. Ironisnya berujung nyawa sang bayi melayang,” ucapnya prihatin.
Di sisi lain, tambahnya, dokter dalam kondisi dilematis, antara harus tunduk pada kepentingan bisnis asuransi kesehatan dan bisnis rumah sakit, dengan tanggung jawabnya untuk menyehatkan dan menyelamatkan nyawa pasien. “Di samping tekanan sosial ekonomi yang hari ini melingkupi kehidupan siapa saja, termasuk para dokter,” jelasnya.
Rini menilai, kondisi tragis yang dialami pasien dan keluarganya serta keadaan dilematis yang dhadapi tenaga kesehatan serta dokter sudah menjadi rahasia umum. “Artinya, apa yang diberitakan media massa hanyalah puncak gunung es yang jumlahnya 1%. Padahal, kejadian yang sesungguhnya ada ratusan kali, bahkan ribuan,” terangnya.
Ia mengutip pernyataan World Health Organization (WHO) dalam Fact Sheet: Quality Health Services, ada 5,7 hingga 8,4 juta kematian disebabkan oleh kualitas perawatan yang buruk setiap tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di Indonesia tentunya. “Ini mewakili hingga 15% dari keseluruhan kematian. Sungguh angka yang fantastis,” cetusnya.
Menurutnya, sumber persoalan adalah sistem kesehatan yang berwujud industri bisnis untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. “Ini terjadi di tengah determinan sosial kesehatan hari ini, yakni peradaban sekularisme yang memaksa manusia beraktivitas di sekitar nilai materi. Inilah realitas pelayanan kesehatan peradaban kapitalisme yang saat ini berlangsung di seluruh dunia juga di negeri ini,” ulasnya.
Oleh karenanya, ia menyatakan, tidak banyak berfaedah jika upaya yang dilakukan pemerintah hanya sebatas langkah-langkah teknis, seperti peningkatan pengawasan, pemberian sanksi, atau himbauan serta kecaman.
“Semua itu tidak menyentuh akar persoalan sehingga harus ada koreksi yang bersifat sistemis paradigmatis. Jika tidak, hanya akan memperpanjang kelalaian negara dan kesengsaraan masyarakat,” bebernya.
Satu-satunya Solusi
Untuk itu, ia menegaskan, kehadiran sistem kesehatan Khilafah adalah satu-satunya solusi “Pilar-pilar bangunannya kokoh karena didukung oleh sistem kehidupan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Kekuasaan yang bersifat sentralisasi meniscayakan negara memiliki kewenangan memadai dalam membuat keputusan-keputusan politik segera,” ucapnya.
Selanjutnya, ia mengatakan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan bersifat desentralisasi sehingga meniscayakan terwujudnya tiga prinsip penting untuk setiap orang agar segera terpenuhi kebutuhannya terhadap pelayanan kesehatan. “Tiga prinsip itu adalah sederhana dalam aturan, cepat dalam pelaksanaan, dan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dokter yang kapabel,” perincinya.
Dengannya, ia memastikan, negara niscaya untuk berfungsi sebagai raa’iin, yakni pihak yang bertanggung jawab lagsung dan sepenuhnya dalam menjamin pemenuhan kebutuhan kesehatan setiap individu masyarakat.
“Pelayanan kesehatan gratis berkualitas bagi kesembuhan yang bersifat segera dan insaniah pun dapat diakses secara mudah, tanpa prasyarat administrasi yang sulit dan berbelit. Fasilitas kesehatan tersebar dari kota hingga ke pelosok negeri dikelola di atas prinsip sosial dan didanai penuh dari kas negara,” jabarnya.
Lebih lagi, lanjutnya, dilengkapi pula dengan tenaga kesehatan dan para dokter yang memadai dari segi jumlah dan kualitas, serta mumpuni dalam memberikan kesembuhan segera tanpa bekas.
“Pada saat bersamaan, selain para nakes dan dokter diberi gaji yang cukup, negara memfasilitasi juga dengan berbagai sarana medis dan nonmedis yang memadai secara ragam, jenis, mutu, dan jumlah sehingga mereka mudah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam merawat pasien,” paparnya.
Semua hal tersebut, ungkapnya, berlangsung di tengah terjaminnya pemenuhan hajat hidup masyarakat oleh negara, termasuk bagi tenaga kesehatan dan para dokter. “Suasana aktivitas kehidupan pun terikat dengan hukum syarak yang dorongannya mencari rida Allah Swt.,” imbuhnya.
Dengan demikian, ujarnya, puncak kebahagiaan yang diupayakan setiap muslim secara sungguh-sungguh akan meniscayakan masyarakat secara umum, khususnya tenaga kesehatan serta dokter terbebas dari impitan sosial ekonomi.
“Tidak hanya itu, nilai-nilai yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya akan hadir secara seimbang sehingga siapa pun yang masuk ruang perawatan akan merasakan dimensi spritual, moral, dan kemanusian yang sangat kuat,” terangnya.
Bahkan, ujarnya, yang berpura-pura sakit sekalipun tetap dilayani. “Kejadian spetakuler ini dicatat oleh tinta emas sejarah peradaban Islam sebagai bukti konsep sistem kesehatan Khilafah. Jadi, Khilafah telah teruji kemampuannya dan akan kembali hadir sebagai pemimpin peradan dunia untuk kedua kalinya dalam waktu dekat,” tandasnya. [MNews/RA]

Astaghfirullah,ketika ranah kesehatan pun dikapitalisasi,,,nyawa serasa tidak ada harganya