Muslimah News, NASIONAL — Keluarnya empat lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) menjadi bukti terbaru bahwa gerakan mahasiswa hari ini sedang berada dalam pusaran disorientasi dan kooptasi kekuasaan. Mereka menilai, BEM SI telah tersusupi kepentingan rezim, sebuah realitas pahit yang menunjukkan bagaimana rezim hari ini begitu lihai menunggangi pergerakan mahasiswa.
Satukan Visi
Menyikapi hal tersebut, aktivis muslimah muda Apri Hardiyanti, S.H. menyampaikan, jika mahasiswa menyadari agenda besarnya sebagai agen perubahan dan pembaru, maka gerakan mahasiswa harus segera melakukan reorientasi visi gerakan ideologis yang lebih terukur. “Para aktivis pergerakan mahasiswa harus memahami kunci kebangkitan umat, yaitu ideologi Islam dan sistem pemerintahan Khilafah sebagai metode penerapnya. Satukan visi pergerakan, saatnya mahasiswa suarakan Islam sebagai solusi nyata,” ucapnya kepada MNews, Ahad (3-8-2025).
Menurutnya, aktivis mahasiswa harus menyatukan visi gerakannya dalam sebuah bingkai perjuangan menegakkan penerapan syariat Islam secarah kafah dalam sebuah institusi kenegaraan yang paling diridai Allah, yakni Khilafah. “Sistem itu adalah Islam, yang diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiah. Sejarah mencatat lebih dari 1300 tahun, Khilafah telah menjadi institusi yang memimpin dunia dengan keadilan, kesejahteraan, dan kemuliaan,” bebernya.
Dalam Khilafah, jelasnya, penguasa adalah pelayan umat, bukan pelayan oligarki. “Dalam Khilafah, kekayaan negara dikelola untuk rakyat, bukan untuk konglomerat. Dalam Khilafah, hukum ditegakkan untuk melindungi manusia, bukan membungkam lawan politik. Ini bukan sekadar utopia masa lalu, tapi realitas sejarah yang bisa menjadi masa depan jika diperjuangkan. Islam bukan hanya agama ritual, tapi ideologi yang menawarkan sistem kehidupan alternatif yang solutif dan aplikatif,” terangnya.
Akar Krisis
Menurut Apri, sejatinya pergerakan pemuda harus diarahkan pada tujuan yang benar yakni perubahan secara fundamental dan sistemis. “Secara factual, sistem kapitalisme dan demokrasi terbukti gagal menberikan kesejahteraan dan menjadi akar krisis di segala aspek kehidupan. Saatnya mahasiswa dan para pemuda negeri ini mengkaji sistem alternatif yang mampu menjadi solusi problematik bangsa. Satu-satunya pilihan sistem adalah Islam yang berasal dari pencipta dengan sistem pemerintahannya Khilafah,” terangnya.
Ia menyampaikan, sudah waktunya menaikkan level perjuangan dari tuntutan teknis menjadi perjuangan sistemis. “Negeri ini tak butuh tambalan hukum, tapi butuh sistem yang lahir dari wahyu, bukan dari kompromi politik. Sayangnya, gerakan mahasiswa seolah masuk ke dalam labirin politik pecah-belah. Kekuatannya dikerdilkan oleh agenda pragmatis,” bebernya.
Sementara, katanya, tuntutan-tuntutan yang diajukan dalam aksi seperti dalam “Indonesia Cemas 2025” masih bersifat tambal sulam. “Mulai dari penolakan politisasi sejarah, kritik terhadap pasal-pasal bermasalah, hingga desakan transparansi perjanjian bilateral. Semuanya penting, tetapi belum menyentuh akar krisis bangsa. Dari realitas yang ada, mahasiswa perlu membangun kesadaran bahwa perjuangan mereka lakukan selama ini senantiasa mengalami kebuntuan dan kegagalan,” urainya.
Muara pergerakan mahasiswa, ungkapnya, masih pragmatis. “Berbagai perjuangan hingga pengorbanan mahasiswa untuk rakyat ini belum menghantarkan pada tujuannya, yaitu kesejahteraan. Kenyataan kezaliman rezim penguasa dari berbagai masa ke masa makin blak-blakan berpihak pada kapitalis yang menyesakkan rakyat. Sudah saatnya mahasiswa melakukan muhasabah kolektif. Mahasiswa masih terjebak pada solusi-solusi tambal sulam, padahal sistem yang dijalani rakyat hari ini adalah sistem yang rusak dari fondasinya,” pungkasnya. [MNews/IK]
